Search

Katakata Sukasuka

cerita, cita, dan cinta.

Tag

tembang macapat

Dhandhanggula, lagi!

 

Menukil dari arsip Kedaulatan Rakyat Online http://222.124.164.132/web/detail.php?sid=187231&actmenu=45

*Kok saya jadi keranjingan cari tembang macapat gini, ya? J *


Sanepane, wong urip puniki

aneng donya iku umpamanya

mung mampir ngombe

umpama manuk mabur

lepas saking kurunganeki

pundi mencoke mbenjang, aja nganti kleru

umpama wong jan sinanjan

ora wurung mesthi bali mulih

mring asal kamulanya

Ditamsilkan, orang hidup senyatanya/ di dunia itu diumpamakan/ hanya seperti orang yang singgah minum/ semisal burung terbang/ lepas dari sangkarnya/ ke mana hinggapnya kelak/ jangan sampai keliru/ seumpama orang saling kunjung-mengunjungi/ akhirnya pasti kembali pulang/ ketempat asal mulanya.

Continue reading “Dhandhanggula, lagi!”

Tembang Macapat

Dalam film Kuntilanak yang dibikin sampai tiga seri itu, mantra untuk memanggil sang kuntilanak dikemas dalam gendhing jawa. Kurang ajar. Apa kemudian seni jawa dihargai sebatas mantra pemanggil syaitan itu?

Place/Date/Time: Pink house/Sabtu, 17012008/10:16am

Jawa Pos hari ini:

“Sebuah acara macapatan digelar di rumah Mbah Atmo, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Acara macapatan dimulai jam sepuluh malam dan berakhir pada dini hari. Suasana di lereng Gunung Merapi malam itu semi. Dingin menggigit. Mbah Atmo mendaras Serat Ambiya yang ditulis dengan aksara Arab gundul.

Kisah yang didaras Mbah Atmo, menjelang dini hari, sampai pada riwayat Nabi Yusuf dicemplungkan ke sumur oleh para saudaranya yang iri pada kemasyhurannya. Nabi Yusuf lolos dari tempat celaka itu. Dia lalu bergegas mengunjungi makam ibu yang sangat dicintainya. Seluruh keluh kesah ditumpahkan di pusara ibunda.

Nabi Yusuf tertidur di makam. Sedang lelap-lelapnya, Nabi Yusuf bermimpi, ibunya datang memberi petuah, ”Sudah Nak, mau diapakan lagi. Perjalanan hidupmu baru terjal dan mendaki. Pesanku, jalani dengan tegar, ikhlas, tekun, dan sabar hati.”

Nabi Yusuf bangun seraya mengusap kedua mata. Kendati sedang berada dalam ”situasi batas”, batinnya melonjak gembira mendengar nasihat ibu. Nabi Yusuf seperti musafir mendapatkan percikan air yang menyegarkan. Niatnya menumbuhkan semangat baru. Ia berani meneruskan perjalanan hidup yang bergelimang kesulitan tak terperi.

Nasihat ibu dalam mimpi Nabi Yusuf pendek dan bersahaja. Justru karena tidak muluk-muluk terasa lebih menghujam ke dalam hati. Mendengar nasihat tadi, penyimak bagai disedot ke dalam turbulensi zona ikhlas (semeleh). Manusia mesti menerima nasibnya tanpa perlawanan. Sembari pasrah pada nasib, manusia harus berani mengatasi kesulitan dan keluar dari keterbatasan hidupnya (breaking through limitation). Perilaku ini bukan sikap fatalistik.

Kebajikan Nabi Yusuf mudah dicerna budi dan merasuk ke dalam hati karena dikidungkan dalam Macapat, menjadi asupan spirit yang meneguhkan.” Continue reading “Tembang Macapat”

Pepak Basa Jawi

Kalau pendidikan diakui sebagai wahana yang ampuh untuk membangun karakter bangsa, dan pembangunan karakter bangsa yang kokoh apabila bersumber pada nilai-nilai luhur dan budaya bangsa maka tentunya menjadi persoalan: bagaimana membangun pendidikan yang berbasis pada budaya bangsa agar kita betul-betul menjadi bangsa Indonesia dengan budaya sendiri… . (mulyono2009.blogdetik.com)

Wah, berat pembukaannya. Hehe… J

Inget buku Pepak Basa Jawi?

Dulu, semasa esempe, buku itu adalah buku yang cukup horor. Di dalamnya banyak sekali dimuat kosakata bahasa jawa *ya iyalah*. Bagi saya semenjak kecil, bahasa jawa halus (krama inggil) dan semacamnya yang lebih halus banyak dipakai dalam dunia perwayangan, sementara dunia perwayangan bagi saya adalah hal yang sangat mistis.

Sewaktu saya berkunjung ke Palembang, saya mendapati ternyata bahasa daerah sana tidak jauh berbeda dengan bahasa jawa. *kenapa Palembang?* Ya… pernah ke Cianjur juga, sih. Baik bahasa daerah Palembang dan Sunda di Cianjur, sepertinya berasal dari akar rumpun yang sama dengan bahasa jawi.

Continue reading “Pepak Basa Jawi”

Wayang Kulit

Saya meronta, menendang-nendang sekuat tenaga, supaya tangannya tak bisa meraih pinggul saya. Saya berteriak sejadi-jadinya, namun yang ada hanya suara mendesis. Tangan kiri Duryudana menggenggam kuat kedua kaki saya—yang tentu jauh lebih kecil daripada kelingkingnya. Saya diangkatnya tinggi-tinggi dengan kepala di bawah, lalu menghadapkan muka saya ke arahnya.

Place/Date/Time: Pink house/Sabtu, 17012008/7:59

Eyang di Jember, saat saya masih pertama kalinya dikenalkan dengan seragam tk, suka menggelar bancaan sekaligus wayang kulit. Acara apapun itu, perayaan hari besar—atau yang dianggap besar—tak lengkap tanpa pagelaran wayang kulit. Termasuk ketika saya lahir *sebagai info, saya cucu pertama dari silsilah keluarga bunda dari eyang jember* eyang menggelar wayang kulit. Ketika usia saya sekitar 7-8 bulan, eyang menggelar wayang kulit. Ketika saya belajar berjalan, eyang menggelar wayang kulit. Ketika saya baru bisa kencing berdiri… hee… ngawur… *sebagai info, saya baru tahu kencing sebaiknya duduk ketika esempe…* *info ini penting ngga seh… :P*

Begitulah. Setiap acara wayang kulit mulai, sekitar pukul sepuluh malam dimana anak kecil seharusnya tidur, saya tidak. Bunda kemudian memangku saya sambil menggerak-gerakkan pinggulnya yang besar itu, supaya saya cepat tertidur.

Dan benar. Continue reading “Wayang Kulit”

Blog at WordPress.com.

Up ↑