“Hati-hati, Be. Hari akan hujan.”

punggung...Masih saya ingat sinar mata itu. Kosong, hampa, tak berisi, atau apalah namanya. Yang jelas tak ada apa-apa di sana. Sedetik kemudian mata itu berubah menjadi danau, tetes demi tetes airnya mengumpul, lalu sinar yang keluar darinya membias tak keruan, menandakan pikirannya yang sedang kacau, gelisah, dan penuh rasa bersalah. Mungkin tak pantas baginya menaruh prasangka yang demikian mendalam kepada sang ayah, terutama setelah apa yang dilakukannya hari ini.

Sang ayah berjalan menjauh membelakanginya, sambil menuntun hati-hati motor yang hampir tak berbentuk itu; kempol kirinya, totoknya, dan lampu depannya sudah berhamburan entah kemana. Sialnya lagi, setirnya telah serong ke kiri dan rem belakangnya menjadi tumpul. Praktis, hanya ahli sirkus yang bisa mengendarai motor itu.

Kawan saya tertunduk malu. Malu pada dirinya sendiri. Malu kepada ayahnya. Malu hanya karena tidak mengurangi kecepatan ketika turun gerimis, sehingganyalah dia jatuh, motornya pecah. Bikin ayahnya repot harus menempuh perjalanan antar kota dengan sepeda motor lain untuk menukarnya dengan motor sialan ini.

Continue reading “Cinta di Punggung Ayah”