Search

Katakata Sukasuka

cerita, cita, dan cinta.

Tag

psikiater

Sampah Masa Lalu

Beberapa waktu lalu saya memutuskan membuang sebagian besar barang di rumah, setelah menyerah berulang kali menata-ulang barang-barang yang tak terpakai. Sampai sekarang, saya bersikukuh bahwa semua barang itu bukanlah barang “bekas”, melainkan barang “yang tak terpakai”.

Bagi saya, “bekas” berarti sudah tidak terpakai. Sementara “tak terpakai”, adalah barang yang sebenernya masih akan dipakai, tapi entah kapan. Istilah “bekas” bisa disamakan dengan “mantan”. Emang ada yang masih mau make’ mantannya? Kalau masih mau dipakai–tapi entah kapan waktunya, ya namanya “pacar tak terpakai”. Mumpung lagi nggak dipakai, ya persilakan orang lain pakai pacarmu.

Kalau nggak mau disebut “pacar tak terpakai”, ya rawat dia baik-baik. Hehe..

Continue reading “Sampah Masa Lalu”

Siapa yang Tidak Marah, Coba?

(Tulisan ini diinspirasi oleh seorang calon psikiater muda, dr.Niniek Widiandriany).

Semua orang tahu kalau mengundang hadir seorang pejabat, pasti banyak susahnya. Terlepas apa kepentingan kita mengundang dia, setidaknya perlu menyisihkan hati selapang-lapangnya kalau-kalau ada birokrasi yang rumit soal undangan itu. Continue reading “Siapa yang Tidak Marah, Coba?”

Diperjuangkan atau Diikhlaskan?

Ketika aku memperjuangkan sesuatu, pada satu titik aku juga harus belajar mengikhlaskannya. – Mas NR.

Suatu ketika saya mengetahui bahwa seorang kakak kelas, yang telah lulus sebagai psikiater, kembali ke departemen kami sebagai staf dosen muda. Saya senang bukan main. Bukan apa-apa, karena sejak menjadi chief (tingkat akhir pendidikan, kakak kelas yang paling senior), ia adalah senior yang paling bersahaja, paling senang mendengarkan adik-adik kelasnya berkeluh kesah, dan paling pertama yang memberikan jalan keluar kepada kami yang masih junior ini. Ibarat spons, ia lah yang menyerap semua gundah gelisah kami tanpa terkecuali, tanpa sedikitpun ia merasa terbeban.

Saya ingat ia ingin memperdalam psikiatri anak, dan mendapat brevet konsultan dari bidang tersebut. Saya suatu kali pernah melihat surat rekomendasi untuk menempuh jenjang pendidikan itu di Jakarta, dan setelah menyelesaikannya, maka ia kembali ke Manado tempat asalnya. Oleh karena itu, kehadirannya di Surabaya sebagai staf dosen muda, merupakan kejutan tersendiri bagi kami. Sempat saya bertanya, haruskah ia menunda cita-citanya sebagai psikiater anak itu, dengan pindah tempat kerja di Surabaya.

Continue reading “Diperjuangkan atau Diikhlaskan?”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑