Search

Katakata Sukasuka

cerita, cita, dan cinta.

Tag

pernikahan

Tiga Penyebab Perceraian yang Terbanyak dan Jarang Disadari 

Setelah apa yang kami alami dalam beberapa waktu terakhir, saya merasa perlu menulis tentang topik ini. Bahasan perceraian ini adalah rangkuman dari kasus yang dikonsulkan kepada kami selama pendidikan di psikiatri, maupun dari hasil ngobrol bersama sejawat kami. Dan, inilah tiga penyebab perceraian yang terbanyak dan jarang disadari. Continue reading “Tiga Penyebab Perceraian yang Terbanyak dan Jarang Disadari “

Ketika Cinta tak lagi Penting dalam Pernikahan (2)

Beberapa waktu lalu saya ngobrol sama adik kelas saya, sebut saja Daffodil (karena Mawar sudah terlalu mainstream). Yah, Daffodil (27). Meski tak laik sebut usia di sini, setidaknya saya membantu dia untuk merasa matang, agar segera menikah. Hehe. Continue reading “Ketika Cinta tak lagi Penting dalam Pernikahan (2)”

Cinta Empat Puluh Persen

“Ya Allah, cintakanlah aku kepada dia yang mencintaiMu.”
~ teman saya.

… .

Saat saya cerita ingin segera melamar pacar saya waktu itu, teman saya bilang, “Fid, orang pacaran itu ibarat drama. Banyak aktingnya. Banyak palsunya. Kalau mau jalani kehidupan yang sebenarnya, menikahlah.” Continue reading “Cinta Empat Puluh Persen”

Jika Dia Bahagia, Aku Juga Bahagia

Some people are not meant together, even when they are together. –Tris

Kadang saya suka tidak paham bagaimana jalan pikiran anak muda (merasa tua nih, hehe). Apalagi ketika mereka sedang dimabuk cinta.

Continue reading “Jika Dia Bahagia, Aku Juga Bahagia”

Ilusi itu Bernama Cinta (2)

“Setiap orang berhak menjadi dirinya sendiri, menjadi terbaik menurut versinya sendiri.” -Hafid Algristian,dr.

I’m sorry for what did happen yesterday, Mas Dok.. I’ve realized, he’s kind of that person. Lil bit of temprament. That’s why I’ve a dream, I supposed to change his personality for better future, indeed. As like usually, I beg, doanya yg terbaik ya, Dok..

Sepenggal BBM dari teman sekaligus klien saya, di suatu sore. Dalam sebuah sesi hipnoterapi, pacar teman saya ini marah. Saya dan beberapa orang di situ ditunjuk-tunjuk, lalu meminta saya sebaiknya menghipnosis orang lain saja, bukan pacarnya.

Continue reading “Ilusi itu Bernama Cinta (2)”

Diperjuangkan atau Diikhlaskan?

Ketika aku memperjuangkan sesuatu, pada satu titik aku juga harus belajar mengikhlaskannya. – Mas NR.

Suatu ketika saya mengetahui bahwa seorang kakak kelas, yang telah lulus sebagai psikiater, kembali ke departemen kami sebagai staf dosen muda. Saya senang bukan main. Bukan apa-apa, karena sejak menjadi chief (tingkat akhir pendidikan, kakak kelas yang paling senior), ia adalah senior yang paling bersahaja, paling senang mendengarkan adik-adik kelasnya berkeluh kesah, dan paling pertama yang memberikan jalan keluar kepada kami yang masih junior ini. Ibarat spons, ia lah yang menyerap semua gundah gelisah kami tanpa terkecuali, tanpa sedikitpun ia merasa terbeban.

Saya ingat ia ingin memperdalam psikiatri anak, dan mendapat brevet konsultan dari bidang tersebut. Saya suatu kali pernah melihat surat rekomendasi untuk menempuh jenjang pendidikan itu di Jakarta, dan setelah menyelesaikannya, maka ia kembali ke Manado tempat asalnya. Oleh karena itu, kehadirannya di Surabaya sebagai staf dosen muda, merupakan kejutan tersendiri bagi kami. Sempat saya bertanya, haruskah ia menunda cita-citanya sebagai psikiater anak itu, dengan pindah tempat kerja di Surabaya.

Continue reading “Diperjuangkan atau Diikhlaskan?”

Blog at WordPress.com.

Up ↑