Dalam film Kuntilanak yang dibikin sampai tiga seri itu, mantra untuk memanggil sang kuntilanak dikemas dalam gendhing jawa. Kurang ajar. Apa kemudian seni jawa dihargai sebatas mantra pemanggil syaitan itu?

Place/Date/Time: Pink house/Sabtu, 17012008/10:16am

Jawa Pos hari ini:

“Sebuah acara macapatan digelar di rumah Mbah Atmo, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Acara macapatan dimulai jam sepuluh malam dan berakhir pada dini hari. Suasana di lereng Gunung Merapi malam itu semi. Dingin menggigit. Mbah Atmo mendaras Serat Ambiya yang ditulis dengan aksara Arab gundul.

Kisah yang didaras Mbah Atmo, menjelang dini hari, sampai pada riwayat Nabi Yusuf dicemplungkan ke sumur oleh para saudaranya yang iri pada kemasyhurannya. Nabi Yusuf lolos dari tempat celaka itu. Dia lalu bergegas mengunjungi makam ibu yang sangat dicintainya. Seluruh keluh kesah ditumpahkan di pusara ibunda.

Nabi Yusuf tertidur di makam. Sedang lelap-lelapnya, Nabi Yusuf bermimpi, ibunya datang memberi petuah, ”Sudah Nak, mau diapakan lagi. Perjalanan hidupmu baru terjal dan mendaki. Pesanku, jalani dengan tegar, ikhlas, tekun, dan sabar hati.”

Nabi Yusuf bangun seraya mengusap kedua mata. Kendati sedang berada dalam ”situasi batas”, batinnya melonjak gembira mendengar nasihat ibu. Nabi Yusuf seperti musafir mendapatkan percikan air yang menyegarkan. Niatnya menumbuhkan semangat baru. Ia berani meneruskan perjalanan hidup yang bergelimang kesulitan tak terperi.

Nasihat ibu dalam mimpi Nabi Yusuf pendek dan bersahaja. Justru karena tidak muluk-muluk terasa lebih menghujam ke dalam hati. Mendengar nasihat tadi, penyimak bagai disedot ke dalam turbulensi zona ikhlas (semeleh). Manusia mesti menerima nasibnya tanpa perlawanan. Sembari pasrah pada nasib, manusia harus berani mengatasi kesulitan dan keluar dari keterbatasan hidupnya (breaking through limitation). Perilaku ini bukan sikap fatalistik.

Kebajikan Nabi Yusuf mudah dicerna budi dan merasuk ke dalam hati karena dikidungkan dalam Macapat, menjadi asupan spirit yang meneguhkan.” Continue reading “Tembang Macapat”