Search

Katakata Sukasuka

cerita, cita, dan cinta.

Tag

love

Flashback

Beberapa hari terakhir bagi saya seolah-olah seperti momen untuk flashback. Flashback, merenungi kembali apa yang saya alami dalam sekian tahun terakhir: kehidupan pribadi, bisnis dan karir, termasuk keluarga dan pertemanan.

Iya, memang mellow bagi saya. Belum tentu bagi kamu, duhai pembaca setia blog saya (ciee).
Continue reading “Flashback”

Cinta itu Butuh Setia. Titik.

image

“Setia Tanpa Cinta Ibarat Kerbau Dicucuk Hidungnya, Cinta Tanpa Setia adalah Dusta.”
____
Quote by: Hafid Algristian, dr.
Trainer SMILE Leadership Centre

Continue reading “Cinta itu Butuh Setia. Titik.”

Great Escape..!

Lost, but i loved it.

image

and rain always be able to remain me how much I owe this love. 🙂

-10/17/10 | under a red cloud, bright night-sky, and Ur love-

Cinta dalam Tiupan Sangkakala

(sebuah parade puisi cinta)

img4

secangkir kenangan.
rindu dalam seduhan coklat panas
:pahit, elegan, dan membekas Continue reading “Cinta dalam Tiupan Sangkakala”

“tentang aku, kamu, dan hujan kita”

rain on table, taken from fireflyforest.net. please visit! ;) Musik Hujan

langit jenuh, hitam pekat
awan penuh, cercam kilat
guntur bertalu talu

angin lusuh, embun terangkat
dari timur ke barat
hujan deras deras

kami berlagu
berdendang sayu
sendu, rindu bertemu

… .

hujan di kaca, taken from ladangkata.com Puisi Tengah Hujan

ibarat kembang bunga tak jadi
entah ke mana gundah menjadi

senyum kekasih sejuk dinanti
laiknya hujan sirami bumi

… .

Dan saya berlari untuknya. Sampai kapanpun. Menujunya, dan mengajaknya kepada yang semestiya kami tuju: luapan cinta halal nan hakiki yang membuncah… serupa hujan yang pernah membasahi kami.

rain and run, taken from iwanbajang.kemudian.com

Cinta di Punggung Ayah

“Hati-hati, Be. Hari akan hujan.”

punggung...Masih saya ingat sinar mata itu. Kosong, hampa, tak berisi, atau apalah namanya. Yang jelas tak ada apa-apa di sana. Sedetik kemudian mata itu berubah menjadi danau, tetes demi tetes airnya mengumpul, lalu sinar yang keluar darinya membias tak keruan, menandakan pikirannya yang sedang kacau, gelisah, dan penuh rasa bersalah. Mungkin tak pantas baginya menaruh prasangka yang demikian mendalam kepada sang ayah, terutama setelah apa yang dilakukannya hari ini.

Sang ayah berjalan menjauh membelakanginya, sambil menuntun hati-hati motor yang hampir tak berbentuk itu; kempol kirinya, totoknya, dan lampu depannya sudah berhamburan entah kemana. Sialnya lagi, setirnya telah serong ke kiri dan rem belakangnya menjadi tumpul. Praktis, hanya ahli sirkus yang bisa mengendarai motor itu.

Kawan saya tertunduk malu. Malu pada dirinya sendiri. Malu kepada ayahnya. Malu hanya karena tidak mengurangi kecepatan ketika turun gerimis, sehingganyalah dia jatuh, motornya pecah. Bikin ayahnya repot harus menempuh perjalanan antar kota dengan sepeda motor lain untuk menukarnya dengan motor sialan ini.

Continue reading “Cinta di Punggung Ayah”

Blog at WordPress.com.

Up ↑