Search

Katakata Sukasuka

cerita, cita, dan cinta.

Tag

keluarga

Selamat Membahagiakan Orang Tua

Mungkin teman-teman banyak mendapat pesan ini di social media, atau pesan berantai dari whatsapp dan sejenisnya, atau mungkin dari someone special di luar sana. Tapi tak apalah saya posting lagi di sini.
Continue reading “Selamat Membahagiakan Orang Tua”

Hijrah Cinta, Agar Tidak Mudah Sakit Hati

“Mungkin kau perlu merasakan sakit, agar mengerti seberapa besar kau mencintai.” ~ saya

Satu-satunya kesamaan antara saya dan Lukman adalah kami tak gampang percaya lagi setelah satu kali dikhianati. Setelahnya, kami menjadi over-waspada. Atau kalau tidak, kami menjadi less-hope; tidak banyak berharap ketika menitipkan sesuatu padanya.

Karena bagi kami, tetap memberikan kepercayaan kepadanya sama saja dengan memberikan satu kali peluru untuk dia menembak kami, atau menyengaja memberikan punggung untuk ditikam dari belakang sekali lagi.

Termasuk soal cinta.

Continue reading “Hijrah Cinta, Agar Tidak Mudah Sakit Hati”

Sentimen Pernikahan

Wedding rings for web#1#Saya sedang sentimen. Ya, sentimen sama apa yang disebut pernikahan. Bukan karena sentimen pada beberapa orang yang dengan gampangnya menjanjikan nikah kepada perempuan yang disukainya, atau karena nikmat menikah yang belum sampai pada saya, atau bahkan berita artis-artis yang gampang nikah-cerai. Tapi karena saya ditinggal nikah.

Continue reading “Sentimen Pernikahan”

Duit… penting ngga seh?

vinzhe-IDR edit

Saya sedang membaca buku tentang Pelatihan Salat Khusyu, sementara pikiran saya melayang-layang ke tiga sebuah proposal bisnis yang sedang saya geluti. Saya membuka kembali buku itu, di dalamnya disebutkan:

“Secara fitrah manusia menginginkan ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan dalam hidupnya. Peluang itu sebenarnya bisa diraih kapan saja, tanpa harus bersusah payah mencari sesuatu yang berharga mahal untuk memenuhinya. Sering kita mengalami hal ini dengan paradigma yang keliru, bahwa kebahagiaan itu hanya bisa diraih dengan uang (materi) atau harus menjadi orang kaya terlebih dahulu baru kita akan mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan. Pemahaman seperti ini sudah tentu mengalami distorsi makna. Padahal kebahagiaan, ketenangan, cinta dan rindu itu bersifat sederhana dan konkrit. Potensi sebenarnya ada pada diri kita sendiri. Banyak orang yang bingung mencari potensi tersebut atau menggunakan cara yang sulit untuk memperolehnya. Anda telah membuktikan dan merasakan ketika Anda mengalami cinta pertama. Bukankah Anda mendapatkan keadaan itu tanpa perlu mencarinya dengan istilah dan definisi dalam kamus bahasa pengetahuan. Terkadang ia muncul begitu saja memenuhi ruangan hati tanpa kta minta. Terkadang pula ia hilang lenyap tanpa jejak sehingga sulit dicari kembali. Akhirnya kita mencoba keluar dari diri kita dengan cara bermacam-macam untuk menemukannya kembali.”

Pun, seorang teman yang sama-sama berkubang di profesi kesehatan mengatakan, “Apa kamu mau cuma dihargai sebatas gaji?”

Saya pernah mencibir ketika babe saya sendiri enggan masuk kantor jika tak mendapat uang lembur. Beliau kemudian berkata bahwa, lebih baik menghabiskan waktu di rumah daripada bekerja tanpa upah. *meski pada akhirnya beliau berangkat setelah mendengar temannya kesusahan mengerjakan laporan bulan ini!*

Saya sedang menjalani stase di psikiatri, dan mendapati bukan satu-dua pasien yang mengalami kepribadian terpecah (skizofrenia) karena harta. Ada yang gara-gara anaknya sembarangan menggunakan kartu kredit ayahnya, isterinya ngopeni cem-cemane dari uang suaminya, dan seterusnya. *believe it or not, apa yang ditampilkan di sinetron dan termehek-mehek memang terjadi di dunia nyata! Pasien-pasien saya buktinya :|*

Fine. Bagi saya, uang tetap penting. Meski bukan yang terpenting. Apa yang disebutkan dalam buku Pelatihan Salat Khusyu tadi, adalah batasan kebahagiaan untuk diri sendiri. Ukuran bagi seseorang untuk membahagiakan diri sendiri. Bahwa kebahagiaan tidak diukur dengan banyak sedikitnya harta, tapi seberapa besar kedamaian yang dirasai dalam hati.

Bagaimana tentang membahagiakan banyak orang? Mas Tsalis, teman kos saya berkata, membahagiakan orang lain pun tidak perlu dengan uang. Percuma banyak uang jika hanya menjadi tetangga yang menyusahkan. Tapi susah juga kalau jadi tetangga yang miskin yang selalu jadi bahan dikasihani tetangga lainnya dan jadi sasaran zakat-infaq-sadaqah. So, sebaiknya bagaimana? Kata Mas Tsalis, lebih baik jadi tetangga yang tidak merepotkan, syukur-syukur kalau bisa membantu tetangganya.

Hmm… tidak, tidak. Menjadi tetangga yang baik memang baik, tapi lebih baik lagi kalau menjadi tetangga yang terbaik. Baik secara moral, juga finansial. Ya, ya. Pertanyaannya sekarang, bagaimana? Okelah, secara moral, setiap kita pasti bisa menjadi tetangga yang baik. Secara finansial, bisa kah kita membuat tetangga kita sukses bersama-sama? Sama-sama sukses, dan sukses bersama-sama!

Ya, bagi saya uang tetap penting. Meski bukan yang terpenting. Saya melihat banyak sekali yang bisa dilakukan untuk membantu orang lain, dan banyak uang membuat hal itu lebih konkrit. Sebut saja, semua kita yang ada di dunia ini memiliki potensi kebaikan hati yang sama besarnya, memiliki moralitas yang sama indahnya. Dengan modal yang berasal dari kantong saya sendiri, maka saya buatkan sekolah gratis khusus anak-anak usia esde, mendidik mereka dengan spiritualitas yang agung, mentalitas yang kuat, jiwa entepreneur yang dinamis, dan punya kemampuan “promosi-prevensi-kurasi” untuk masyarakat di sekitarnya. Saya dirikan juga sebuah masjid yang penuh dengan buku-buku sejarah Islam, akidah dan akhlaq, juga tentang fiqih dan syariah. Sekalian saya gaji para ustadnya dan saya jamin kesejahteraannya untuk mendidik banyak santri. Dari sekolah dan masjid ini nantinya melahirkan banyak sekali muslim yang sanggup memajukan masyarakat di sekitarnya, membawa cahaya agamanya yang terang, dan bersikap lembut terhadap sesama namun tetap tegas dalam memegang prinsipnya. Amiin!

Karenanya saya mempelajari tiga salah satu proposal bisnis perusahaan ini, ini, dan ini. Sebagai panduan untuk menjalankannya, sepertinya Cashflow Quadrant dan Rich Dad Poor Dad oleh R. T. Kiyosaki sangat bagus untuk dipelajari. 😉

ProductReflection_CFQ

Gara-gara Email Masuk Desa

Ini postingan ringan, saya ambil dari milis angkatan. Gila!

Jaman sekarang e-mail sudah masuk kepelosok desa,
begini ceritanya :

Suatu hari,Tukijo, tukang kayu dari daerah pegunungan Wonosobo dapet kerjaan bikin meubel di salah satu hotel di Yogjakarta. Tugiyem (istrinya) mengantarkan suaminya berangkat duluan ke Terminal Bus, dengan janji akan menyusul kemudian.
Sesampainya di Yogya Tukijo lantas segera kirim e-mail kepada istrinya.

Disuatu tempat lain masih di Wonosobo, Rugiyem seorang istri yang sedang berduka baru saja mengantarkan jenazah suaminya, Paijo, kepemakaman.

Selesai dari pemakaman dia langsung pulang ke rumah, lantas dia buru-buru buka email, untuk cek berita berita dari sanak keluarga. Begitu dia buka email, dia menjerit lalu pingsan……

Continue reading “Gara-gara Email Masuk Desa”

Dapur

Place/Date/Time: Green House/040708/06:14pm

Dapur.

Panas, ya? Kata bunda, soalnya ada kompor.

Saya memang sengaja ngikut bunda kerja di dapur. Yah, meski sekedar masak mie goreng buat saya sendiri. Karena ruang makan bersebelahan dengan dapur, saya dengan mudah makan sambil mengamati bunda beraktivitas di sana.

Hiruk pikuk wajan yang beradu dengan suthil*, belum lagi suara minyak goreng yang mendesis… berisik, ya? Saya sampai berteriak-teriak saat menjawab pertanyaan bunda.

“Kamu…ssshhh…su…ssshhh… pa…ssshhh…?”

“Apa, Bun?”

“Sudah…ssshhh…pu…ssshhh…car?”

“Sudah, apa?”

“Ssshhh…punya…ssshhh…car?”

“Ha?”

Ah, saya beranjak saja ke tempat bunda. “Apa, Bun?”

“Aduh, masih muda kok budheg. Kamu lho, apa sudah punya pacar? Kok jarang pulang?”

Waduh. “Lha, ini kan lagi di rumah, Bun? Jarang pulang gimana?”

“Nanti sore kamu sudah balik lagi ke Surabaya. Pulang satu malam bukan dihitung pulang. Itu namanya cuma ngisi absensi. Kenapa, mau malam mingguan di rumah pacarmu?”

“Hayyah, Bunda… kan tadi sudah dibilangin, mau ada pelatihan di Trustco. Waktunya Sabtu pagi dan Minggu pagi.”

“Lha iya, Sabtu sore kan bisa pulang?”

“Capek di jalan, Bun. Toh ini juga lagi liburan, minggu depan sudah yudisium. Jadi lebih punya banyak waktu di rumah. Ya, kan?”

“Halah, kayak nggak tau kamu aja. Kamu yang namanya liburan sama aja nggak libur. Ada kegiatan ini lah, itu lah.”

“Bunda pengen anaknya tambah pinter?”

Bunda diam. Di antara kami hanya ada suara wajan dan suthil itu. Lalu suara mendesis lagi. Kali ini, suara blower lebih terasa nge-bass dan menggema. Tak lama, teko dari stainless steel itu bersiul. Lengkap sudah. Jadilah orkestra dapur.

Bunda beralih menuangkan air panas untuk menyeduh teh. Saya bisa melihat senyum dari punggung bunda. Mungkin dalam hatinya sedang bertarung antara mengikhlaskan anaknya meniti karir, di sisi lain beliau sangat rindu akan buah hatinya. Orang tua mana yang mau jauh dari anaknya? Mungkin ada, tapi pertanyaan ini adalah tag question yang semua orang tau jawaban semestinya. Saya jadi membayangkan kalau sudah jadi orang tua nanti.

Dapur. Sudah panas, berisik, belum tentu sirkulasi udaranya bagus, mau-maunya bunda kerja di tempat seperti ini. Belum lagi orang-orang kampung yang dapurnya dibuat sekedarnya saja. Berlantai tanah, di sana-sini tersebar cipratan minyak goreng yang sudah jadi jelantah. Apalagi mereka yang pakai kayu bakar. Sudah dapur sempit, apek, abunya kemana-mana… Wajar kalau wanita desa yang sudah berumur punya resiko PPOK bahkan pneumonia. *Meski resiko terbesar PPOK dialami oleh lelaki, karena sebagian besar lelaki merokok.*

“Bunda, dapur tuh panas, lho. Kok mau kerja di tempat kayak gini?”

“Ya, buat anaknya juga. Katanya pengen anaknya pinter, jadi nggak papa, to?”

“Waduh, nggak heran pahalanya bunda banyak.”

“Subhanallah…”

Kami tersenyum.

Tak terbayang susahnya kerja di dapur. Memilih menu yang sesuai dengan keuangan keluarga, sesuai dengan kebutuhan gizi, namun masih terasa nikmat oleh seluruh anggota keluarga. Saya tak ingin hiperbolis, tapi saya pikir setiap perempuan berhak, dan sangat-sangat berhak dipuji atas masakan yang mereka bikin.

Benarlah dulu, sewaktu Aisyah membuat hidangan hanya berupa nasi dan cuka, maka Rasul saw bergumam, “Sebaik-baik lauk adalah cuka,” dan diulangnya sebanyak tiga kali. Tiga kali! Tidak main-main. Perkataan Rasul yang diulangnya tiga kali menunjukkan urgensi makna yang dikandungnya. Hadis ini sahih, dan mencerminkan penghargaan luar biasa kepada perempuan. Dan semestinya diteladani oleh kaum lelaki.

Saya lalu ingat pepatah Jawa, “Golek bojo sing pinter macak, masak, lan manak.”**

Karenanya nanti, saya tidak akan menampakkan punggung kepada isteri saya. Melainkan dada saya tempat dia bertangkup suka, dan bahu tempat dia bercurah duka.

***

*suthil: pengaduk yang berjodoh dengan wajan. Lebih lanjut tanya aja sama yang sering di dapur.

** Cari isteri yang pandai bersolek (menyenangkan suami), masak, dan (mendidik) anak.

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑