Search

Katakata Sukasuka

cerita, cita, dan cinta.

Tag

kehidupan

Mata, Mata Hati

cute eyesDalam sepersekian detik, mata setiap orang terhubung dengan hatinya. Apa pun yang dilihatnya diubahnya menjadi sinyal-sinyal, disampaikannya ke hati, untuk diberi makna atas apa yang dia mengerti. Demikian sebaliknya; prasangka apapun yang dirasa dalam hati, suka, duka, gembira, gundah gulana, dikembalikannya sebagai sinyal-sinyal lembut, sehingga menggerakkan jalinan otot wajah dalam kombinasi yang kompleks, dalam ritme yang teratur. Perubahan sedikit saja pada suasana hati, mampu mengubah kompleksitas susunan otot wajah yang demikian halus, menghasilkan sebuah ekspresi yang bisa dipelajari. Inilah bukti keberadaan hidup. Inilah yang memberikan warna dalam kehidupan: mata hati.

Saya pernah mencoba sekali bermain-main dengan mata. Saya memintanya duduk dihadapan saya, lalu saya bercerita panjang lebar tentang kampus dan perkuliahan. Pada saat yang tepat, saya utarakan bahwa saya menaruh rasa padanya. Tanpa puisi, tanpa lagu, tanpa bahasa romantis apapun. Apalagi rayuan cengeng. Semuanya dikemas dalam suasana yang kaku, seperti angin yang berdenting saat menabrak kaca jendela. Bergeming.

Continue reading “Mata, Mata Hati”

Hidup yang Menuju Satu Titik

curug gede, purwokerto, 21feb09 Dulu, teman saya pernah berkata, “Hidup itu menuju satu titik, yang perlu kita lakukan adalah berusaha sebaik mungkin untuk menuju satu titik itu.” (semoga saya tak salah ingat).

Ibarat sungai, kita adalah bahagian demi bahagian terkecil dari air sungai kehidupan. Bagaimanapun kita, semua menuju ke satu titik perhentian, yakni muara sungai, hilir, laut. Laut yang terhampar luas, tempat terakhir bagi molekul sungai, dimana kita akan mendapati perhitungan atas semua amalan kita di dunia, baik atau buruk, untuk surga atau neraka.

Continue reading “Hidup yang Menuju Satu Titik”

Saya,Ian, dan Standard Hidup

(Potongan diskusi di milis IPA-1 Smalabaya lulusan 2004)

sederhananya

coba pikirkan secara sadar dan jujur

apa arti hidup bagi anda

apa yang benar2 bisa membuat anda hidup.

coba renungkan hal di bawah:

"ini bukanlah masalah benar atau salah"

"karena di dunia ini tidak ada kebenaran mutlak dan kesalahan mutlak"

"yang ada kebenaran dan kesalahan yang diukur dari standard yang

diciptakan"

"dan kebetulan standar tersebut membuat hidup kita lebih baik"

"tidak salah apapun pengertian dan parameter anda tentang hidup"

"cuman ada beberapa standar yang anda harus pilih untuk bisa survive"

please…

please….

please….

anda harus renungkan dan jawab sendiri

kalau saya "Ian"

hidup saya berarti segala aktivitas saya secara "sadar"

jadi saya really feels alive ketika saya "memilih" secara "sadar"

segala keputusan.

jadi tolong …..teman2 sebisa mungkin bener2 memikirkan

apa artinya hidup saya di dunia dengan "sadar"

Saya:

Salam.

Sumtimes, i try to be more realistic than i can do ever before.

If you wanna talk bout life, and how your life runs, means you talk bout you, yourself, him, her, and them. You cant take anything in your point. But you can score points after you match yours with somebody else. Life goes on, but you are not living alone in this world. So, you choose: 1)you walk on your own and you alienated. 2)or you walk together, do sumtin gud, worth for another people, and you survive ever after. What option do you in?

The problem is, everybody is unique. Option is not about 1 or 2 or 3, but it would be 1a, 1b, 1c, 2a-b, 2a-d, … . What i wanna tell you is, you cant only stand on your standard. You cant only move with your own pronciples. If you do so, anybody include me, will do so. Then, this world just never been worst. We need a same standard. A principle which burst our unique potentials out. A rule that can make us more respected in life, and stands ourself as a gud men.

That’s a standard which had been made with sumtin above man. Sumtin that more understand about what mankind needs. Sumtin who had been believed has a great power. That’s Almighty’s Rule. God’s rule.

U got what i mean?

I hope so.

After all, we aint goin elsewhere, but under Him we back.

Wallahu alam bishawab.

Blog at WordPress.com.

Up ↑