Saya meronta, menendang-nendang sekuat tenaga, supaya tangannya tak bisa meraih pinggul saya. Saya berteriak sejadi-jadinya, namun yang ada hanya suara mendesis. Tangan kiri Duryudana menggenggam kuat kedua kaki saya—yang tentu jauh lebih kecil daripada kelingkingnya. Saya diangkatnya tinggi-tinggi dengan kepala di bawah, lalu menghadapkan muka saya ke arahnya.

Place/Date/Time: Pink house/Sabtu, 17012008/7:59

Eyang di Jember, saat saya masih pertama kalinya dikenalkan dengan seragam tk, suka menggelar bancaan sekaligus wayang kulit. Acara apapun itu, perayaan hari besar—atau yang dianggap besar—tak lengkap tanpa pagelaran wayang kulit. Termasuk ketika saya lahir *sebagai info, saya cucu pertama dari silsilah keluarga bunda dari eyang jember* eyang menggelar wayang kulit. Ketika usia saya sekitar 7-8 bulan, eyang menggelar wayang kulit. Ketika saya belajar berjalan, eyang menggelar wayang kulit. Ketika saya baru bisa kencing berdiri… hee… ngawur… *sebagai info, saya baru tahu kencing sebaiknya duduk ketika esempe…* *info ini penting ngga seh… :P*

Begitulah. Setiap acara wayang kulit mulai, sekitar pukul sepuluh malam dimana anak kecil seharusnya tidur, saya tidak. Bunda kemudian memangku saya sambil menggerak-gerakkan pinggulnya yang besar itu, supaya saya cepat tertidur.

Dan benar. Continue reading “Wayang Kulit”