Search

Katakata Sukasuka

cerita, cita, dan cinta.

Tag

infaq

Berani Infaq 1 Milyar? Dibalas 100 Milyar, lho..

image

Anda yakin bahwa Allah Maha Kaya? Kalau iya, Anda minta apa aja, pasti dikabulkan.

Anda yakin bahwa Allah Maha Mendengar dan Melihat? Kalau iya, apapun yang Anda lakukan pasti Dia tahu.

Anda yakin bahwa setiap sedekah pasti diganti oleh Allah? Kalau iya, Anda tak perlu ragu untuk bersedekah banyak-banyak. Karena pasti diganti, kan? Dan pastinya berlipat-lipat.

Lalu, apa lagi yang Anda tunggu?

Ayo bersedah banyak-banyak!

… .

Give Given Community 

image

Bangkit Indonesiaku: Infaq Seribu Rupiah itu Ikhlas, Katamu?

sedekah

Tulisan ini nyambung dengan tulisan saya sebelumnya, yakni Infaq Seribu Rupiah: Jebakan “Keikhlasan”.

Sekali lagi saya tidak ingin meragukan keikhlasan masing-masing orang, karena keikhlasan itu letaknya di hati, yang tahu hanya dirimu dan Tuhanmu. Saya tidak ingin ikut campur. Dan naudzubillah, saya tidak ingin sok tahu.

Saya hanya ingin berbagi di sini tentang apa yang saya rasakan, dan parahnya, saya ingin saya bagikan adalah rasa tertohok saya oleh kata-kata seseorang tentang infaq ini.

 

Continue reading “Bangkit Indonesiaku: Infaq Seribu Rupiah itu Ikhlas, Katamu?”

Infaq Seribu Rupiah: Jebakan “Keikhlasan”

Yak.. Berikut adalah komen beberapa teman terhadap status fesbuk saya.. Cekidot, gan! Hehehe..

image

Spontan saya langsung nge-like semua komen di sana. Semuanya bener. Ngga ada yang salah. Keikhlasan tidak ditentukan dengan nominal infaq yang kau keluarkan. Keikhlasan adalah sebuah rahasia antara hamba dengan Sang Pemilik Hati. Maka bukan kewenangan saya untuk menilai keikhlasan seseorang, apalagi dari infaq dan gaji. Hoho..

Namun, jika kita bisa berinfaq dengan nominal lebih besar, kenapa tidak?

Continue reading “Infaq Seribu Rupiah: Jebakan “Keikhlasan””

Menertawai Gaji

image Saya pernah tersinggung oleh ucapan seorang teman.

Lama tak bertemu, kami mengobrol tentang bagaimana kondisi sekarang dan seputar kesibukan masing-masing. Hingga suatu ketika saya bertanya, “Berapa gaji kau kerja di sana?,” tanyaku. “Kau mau dihargai hanya dengan gaji?,” jawabnya. Sejak saat itu, bila suatu saat kami bertemu lagi sedang dia kesusahan soal gaji, saya bersumpah menertawainya. *tssaah.. ‘bersumpah’.. lebaaayy..*

Bukan bermaksud apa, tapi kita bicara realita. Hampir sebagian besar dari yang saya lihat, kearmonisan rumah tangga tergantung dengan gaji. Setiap orang berusaha mencari kecukupan pangan. Buat apa ada pengamen. Buat apa ada pengemis. Buat apa ada orang banting tulang kerja siang-malam demi keluarganya.

Bahkan, demi pangan dan papan, mereka melupakan sandang. Bekerja dengan mengumbar aurat. Hei, mereka tidak pernah meminta nasib seperti itu. Mereka tidak pernah sengaja mengemis atau ngabisin waktu dan tenaga buat kerja. Itu semua demi dapur yang tetap mengepul.

Saya lalu bertanya padanya, “Apa dengan kamu dihargai di sana, serta merta gajimu akan naik?”

Continue reading “Menertawai Gaji”

Blog at WordPress.com.

Up ↑