Search

Katakata Sukasuka

cerita, cita, dan cinta.

Tag

indonesia

Insight: Antara Tikus Gurun dan Inovasi

“This is the country where the specialists haven’t met each other, and being stubborn standing in their own field.” ~ saya

Pak Ahmad Fais Zainuddin, founder SEFT, pernah bercerita. Ada kisah tentang seorang arsitek naturalis asal Eropa yang diminta membangun mall di Afrika Selatan. Kita tahu, Benua Afrika sebagian besar terdiri dari gurun, dimana cuaca bisa sangat ekstrim panas di kala siang.

“Tidak mungkin membuat rancang bangun mall gaya Eropa di sini. Pasti high-cost, karena pendingin yang dibutuhkan sangat besar,” pikir sebagian besar arsitek.

Namun satu-satunya desain yang disetujui dan dipertaruhkan keberhasilannya adalah dari sang arsitek naturalis ini. Mengapa arsitektur naturalis? Continue reading “Insight: Antara Tikus Gurun dan Inovasi”

Akibat 3-0, Indonesia Kepepet! Mari Berpikir Besar Demi Bangsa!

menggenggam matahari

“Jikalau Berpikir Besar dan Berpikir Kerdil ongkosnya sama, yakni sama-sama capek, sama-sama buang waktu, kenapa ngga Berpikir yang Besar aja skalian?”

_____
Quote by: Bpk. Teguh
Platinum Associate PT TVI Express Indonesia
Peraih 1,2 M dalam 8 bulan

… .

Baik. Kali ini saya tidak ingin promosi soal perusahaan yang digeluti Pak Teguh, yang kebetulan sama dengan saya. Saya hanya ingin berbagi, bagaimana kita seharusnya bersikap untuk bangsa ini.

Jikalau sebelumnya saya menulis tentang kebangkitan Timnas di leg kedua Piala AFF, kali ini saya menulis tentang kaki. Lho, kok kaki?

Continue reading “Akibat 3-0, Indonesia Kepepet! Mari Berpikir Besar Demi Bangsa!”

Melupakan Tuhan Satu Hari: Yakin Timnas Bangkit?

image

“Bahwa apa yang kau alami hari ini, yang kau dapatkan sekarang, adalah akumulasi amal-amal dan doa-doamu di masa lalu.”

_____
Quote by: Hafid Algristian, dr.
Trainer SMILE Leadership Centre

… .

Pop up! Quote ini muncul justru setelah saya nonton Timnas kita kalah 3-0 di leg pertama. Nelangsa, kecewa, marah, campur aduk jadi satu. Mengapa lini belakang mudah dikecoh hanya oleh dua orang penyerang lawan.

Continue reading “Melupakan Tuhan Satu Hari: Yakin Timnas Bangkit?”

Negeri Seribu Masjid

img9

Mungkin kita bukan berada di Turki, sebuah negara bekas pusat kekhalifahan yang memiliki seribu masjid. Kita juga tidak berada di Kazakhtan, dimana pada abad 15 dibangunlah seribu masjid untuk melayani umat di sana. Bukan pula kita berada di Iran, yang mengklaim memiliki 72.000 masjid untuk melayani penganut agama ini dengan berbagai macam mazhab dan aliran. Tapi kita berada di Indonesia, negara berjuluk zamrud khatulistiwa dengan jumlah muslim terbanyak di dunia. Continue reading “Negeri Seribu Masjid”

Paranoia: Dan Bom Meledak Lagi…

ConradJakartaMixed-Use_Jkt

With eyes closed tightly,
I march so blindly.
Pretending everything’s fine,
’Cause you’re there to keep me in line.
I don’t want your guidance,
I’ll break my silence.
So sick of asking and being denied and now I realize.

We’re holding the key, to unlock our destiny,
We were born to lead.
We’re finally free, no longer following,
We were born to lead… we were born to lead.

(Born to Lead, Incubus)

Dan satu bom meledak lagi. Dua-tiga hari terakhir koran mengulas mengenai runutan bagaimana bos pengebom memesan kamar, menunggu agenda yang direncanakan sambil satu demi satu rekannya mensuplai bahan-bahan peledak dari luar.

Continue reading “Paranoia: Dan Bom Meledak Lagi…”

Indonesiaku: Figur, Wakil Rakyat, dan Partai

images pemilu Kita berhimpun dalam barisan.
Lantangkan suara hati nurani.
Agar negeri ini berkeadilan.
Indonesia maju bukan hanya mimpi.

Sampai sekarang saya tidak pernah mempercayai bahwa seorang, dan hanya seorang, mampu mengubah Indonesia sepenuhnya.

Namun saya percaya sepenuhnya bahwa ketika seseorang itu mampu mengubah dirinya dan keluarganya, maka ia mampu mengubah masyarakatnya. Dan dalam tahapan selanjutnya, mengubah negaranya. Tentunya, dalam konteks ini, ke arah yang lebih baik.

Dan saya—agaknya ungkapan saya berlebihan—makin lama makin muak ketika ada salah satu atau salah dua atau beberapa partai terlampau mengagungkan figur di kelompoknya. Bagi saya, semuanya sungguh mustahil bagi seorang calon wakil rakyat menyandarkan kepopuleran diri—sebut saja begitu—untuk benar-benar optimal bekerja mewakili rakyat nantinya. Karena bekerja untuk rakyat perlu sebuah independensi. Bahkan harus. Bahkan kepada figur separtai pun. Independensi, ketidakberpihakan, harus dijunjung tinggi terhadap segala sesuatu yang tidak berpihak kepada rakyat.

Terlebih, seorang wakil rakyat bukan cuma berfungsi sebagai mulut rakyat. Melainkan juga tangan dan kaki rakyat. Otak rakyat. Hati dan jiwa rakyat. Setiap mereka memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin, yakni memimpin rakyat dari daerah pilihan masing-masing. Mengapa? Karena mereka bertanggung jawab penuh seputar pemberdayaan rakyat yang mereka wakili. Mereka harus sanggup menjadi supir bis yang patuh aturanNya dalam berlalu-lintas, dan mengantarkan rakyat hingga sampai ke tujuan yang semestinya, yang diridhoiNya. Dan tentu saja, mereka seharusnya adalah pemimpin-pemimpin rakyat yang mampu menggerakkan hati-pikiran-tubuh segenap rakyatnya untuk bersama berjuang demi kemajuan bangsa ini.

Seorang wakil rakyat bukanlah mereka yang memberikan ikan. Bukan sekedar memperjuangkan BLT, ASKES-Maskin, dan sebagainya, melainkan harus sanggup memajukan dan memandirikan rakyat yang diwakilinya. Merekalah pemberi kail, yang sanggup melatih keluarga-per-keluarga rakyatnya untuk mandiri, berdiri di atas kaki sendiri, untuk memakmurkan dirinya dan keluarganya dengan cara-cara yang halal dan terhormat, untuk kemudian menuju pemberdayaan masyarakat yang seutuhnya. Dengan demikian, perubahan bangsa ini dimulai dari sektor terkecil yakni keluarga. Ya, keluarga kecil yang sederhana, berkecukupan, mandiri, menjalin silaturrahim, dan terdidik.

Baru kemudian kita bicara soal mengubah bangsa. Dan untungnya, bangsa yang besar ini tersusun dari himpunan-himpunan kecil keluarga dalam RT, RW, kelurahan, kecamatan, kota madya atau kabupaten, dalam suku-suku, dalam rimba ataupun kota. Maka, perubahan bangsa ini tentu saja harus dilakukan secara simultan dari tingkat mikro hingga makro. Dan usaha perubahan bangsa ini tidak bisa dilakukan oleh seorang figur sendirian. Seorang figur hanyalah simbolisasi, dan bagi saya sangat bodoh siapapun yang mengagungkan sesosok figur dalam kampanye dengan harapan mendulang simpati dari rakyat. Untuk menjadikan rumah kita makin bersih, sapu lidi lebih berfungsi jika diikat bersama-sama dan mudah dipatahkan bila bergerak sendiri-sendiri.

Karenanya, saya lebih mempercayai mereka-mereka yang telah berhasil membangun keluarganya, menjadi teladan di masyarakatnya, untuk kemudian secara berjamaah membangun negaranya. Ya, secara berjamaah, dimana musyawarah menjadi kekuatan inti pergerakan partainya (bahkan musyawarah adalah nilai yang ditanamkan pada saya semenjak eSDe!), ditunjang oleh keistiqamahan kadernya dalam keharibaan rindu surga Tuhannya untuk melayani rakyatnya.

Saya sepenuhnya yakin dan meyakinkan siapapun untuk tidak memilih partai yang mengagungkan figur belaka. Melainkan silakan memilih partai yang memiliki sistem jamaah yang baik (bukan sekedar hasan—baik, tapi ahsan—terbaik!). Karena mereka memiliki sistem pelayanan yang menyeluruh, holistik, kader mereka tersebar di berbagai bidang di masyarakat, sehingga pemberdayaan itu lebih mudah dicapai. Sekali lagi, ibarat sapu lidi, batang-batang yang liat dan lentur itu lebih bisa berdayaguna bila diikat dalam jamaah.

Sehingga saya menjadi yakin, golput bukanlah jalan terbaik pada masa-masa sekarang ini. Karena golput cenderung memubadzirkan kebaikan yang seharusnya bisa kita persembahkan kepada bangsa dan negara.

Semoga Allah meridhoi bangsa ini.

Wallahu alam bishawab.

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑