Search

Katakata Sukasuka

cerita, cita, dan cinta.

Tag

ikhlas

Diperjuangkan atau Diikhlaskan?

Ketika aku memperjuangkan sesuatu, pada satu titik aku juga harus belajar mengikhlaskannya. – Mas NR.

Suatu ketika saya mengetahui bahwa seorang kakak kelas, yang telah lulus sebagai psikiater, kembali ke departemen kami sebagai staf dosen muda. Saya senang bukan main. Bukan apa-apa, karena sejak menjadi chief (tingkat akhir pendidikan, kakak kelas yang paling senior), ia adalah senior yang paling bersahaja, paling senang mendengarkan adik-adik kelasnya berkeluh kesah, dan paling pertama yang memberikan jalan keluar kepada kami yang masih junior ini. Ibarat spons, ia lah yang menyerap semua gundah gelisah kami tanpa terkecuali, tanpa sedikitpun ia merasa terbeban.

Saya ingat ia ingin memperdalam psikiatri anak, dan mendapat brevet konsultan dari bidang tersebut. Saya suatu kali pernah melihat surat rekomendasi untuk menempuh jenjang pendidikan itu di Jakarta, dan setelah menyelesaikannya, maka ia kembali ke Manado tempat asalnya. Oleh karena itu, kehadirannya di Surabaya sebagai staf dosen muda, merupakan kejutan tersendiri bagi kami. Sempat saya bertanya, haruskah ia menunda cita-citanya sebagai psikiater anak itu, dengan pindah tempat kerja di Surabaya.

Continue reading “Diperjuangkan atau Diikhlaskan?”

Ikhlas, Cara Gampangnya a.d.a.l.a.h..

Ikhlas emang ngga gampang, tapi bisa!

Dan inilah cara gampangnya.

Sebelum lanjut, saya mau minta maap dulu. Artikel ini telat. Mestinya terbit Jumat kemarin, eh, molor. Saya sedang UTS, tapi itu pun ngga bisa jadi alasan. Yah, diikhlasin aja yaa.. Muakasii.. Hehe..

Lanjut? Yuuk maree..

Saya terinspirasi sama tweetnya Rangga Umara (@ranggaumara)* beberapa hari lalu. Tweet itu tentang cara menangkap monyet di Afrika tanpa melukainya sedikitpun.

Penasaran?

ini monyet, monyet!

Yang penasaran berarti bangsa monyet. Yang ngga penasaran berarti uda pernah ketangkep. Yang ngakak berarti temennya monyet. Yang ngga ngakak berarti emaknya monyet.

Cuma yang nulis bener-bener manusia.. *dilempar bacok*

Hahahaha..

Stop becandanya. *ini serius, monyet*

Continue reading “Ikhlas, Cara Gampangnya a.d.a.l.a.h..”

Gara-gara Ikhlas: Beli Satu Rumah, Sekarang Satu Rumah Lagi!

rumah impian2

Total tagihan saya mencapai 75 juta rupiah..!

Bukan saya yang berhutang. Melainkan orang lain yang berhutang sama saya. Bagi saya yang baru lulus kuliah lima bulan lalu, dana sejumlah itu cukup besar. *ya iya lah!* Dana yang seharusnya bisa saya pakai buat beli ipad2, yaris sport warna putih, bikin resto.. yah, sekarang cuma bisa gigit jari.

Duit 75 juta itu sudah nyebar kemana-mana. Bilangnya untuk dipinjam, sampai sekarang belum kembali. Ada juga akad untuk modal bisnis, eh, yang pinjem modal malah ngga jalanin bisnisnya. Salah saya sendiri sih, pengembalian modalnya setelah usahanya berhasil. Lha kalo ngga jalan gini, saya mau nagihnya gimana?

 

Continue reading “Gara-gara Ikhlas: Beli Satu Rumah, Sekarang Satu Rumah Lagi!”

Bangkit Indonesiaku: Infaq Seribu Rupiah itu Ikhlas, Katamu?

sedekah

Tulisan ini nyambung dengan tulisan saya sebelumnya, yakni Infaq Seribu Rupiah: Jebakan “Keikhlasan”.

Sekali lagi saya tidak ingin meragukan keikhlasan masing-masing orang, karena keikhlasan itu letaknya di hati, yang tahu hanya dirimu dan Tuhanmu. Saya tidak ingin ikut campur. Dan naudzubillah, saya tidak ingin sok tahu.

Saya hanya ingin berbagi di sini tentang apa yang saya rasakan, dan parahnya, saya ingin saya bagikan adalah rasa tertohok saya oleh kata-kata seseorang tentang infaq ini.

 

Continue reading “Bangkit Indonesiaku: Infaq Seribu Rupiah itu Ikhlas, Katamu?”

Blog at WordPress.com.

Up ↑