Search

Katakata Sukasuka

cerita, cita, dan cinta.

Tag

IBSN

IBSN | Agonal: Pergi Selamanya

Agonal: Pergi SelamanyaNapasnya satu-satu. Wajahnya menyeringai, seolah melihat sesuatu yang menyeramkan di sana. Bola matanya telah membalik ke arah atas, sehingga hanya sebagian besar sklera putihnya yang kini tampak kemerahan menahan sakit. Ruhnya tercabut, dan saya ’sukses’ mendampingi pasien saya pergi untuk selamanya.

Mengiba dan mengharap. Sempat tertangkap setitik embun yang merembes di ujung pipinya. Ada berjuta-juta cinta di mata sang suami itu. Melihat kami yang sedang melakukan resusitasi, berusaha membuat nenek ini bernapas kembali. Kami tahu itu tidak mungkin. Dan saya yakin pak tua itu juga mengerti bahwa tidak mungkin kami menuntut Tuhan yang sejak awal telah menggenggam jiwa nenek ini.

ibsntag
Continue reading “IBSN | Agonal: Pergi Selamanya”

Ghirah

3

“Kita membutuhkan pemuda-pemudi yang penuh semangat, enerjik, dan kuat,
yang hatinya terisi oleh antusiasme, semangat, dan kedinamisan;
yang jiwanya dipenuhi oleh ambisi, aspirasi, keteguhan,
dan mereka memiliki target hidup yang hebat,
berusaha mencapainya hingga mereka tiba di tempat tujuannya.”
(Hasan Al Banna)

… .
*I really like this tags.*

Bunda Saya dan Kartini

Postingan yang terlambat, semoga tidak terlalu terlambat untuk berbagi makna.
Selamat Hari Kartini 21 April 2009, dan Selamat Hari Lahir bunda saya 24 April 2009… 😉

DSC_0534

Saya segera mencium tangannya. Kalau bisa tidak akan saya lepas tangan itu, tidak akan saya lepas. Supaya jelas terasa bahwa kulitnya makin mengendur, tidak kencang lagi, dan keriput-keriput itu berjalan silang menyilang di keseluruhan punggung tangannya. Keriput adalah penanda, bahwa nantinya saya juga seperti ini, keriput, kulit serasa dekat sekali dengan tulang, penanda bahwa waktu kami tak lama berada di dunia. Karena bagaimana pun, bunda lah yang secara langsung mendidik saya hingga sampai seperti sekarang ini.

ra-kartiniTimbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, dimana kondisi sosial saat itu perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air). Sayang itu semua sudah mengalami banyak deviasi sejak diluncurkan dahulu. Setelah berlalu tiga generasi konsep Kartini tentang emansipasi semakin hari semakin hari jauh meninggalkan makna pencetusnya. Sekarang dengan mengatasnamakan Kartini para feminis justru berjalan di bawah bayang-bayang alam pemikiran Barat, suatu hal yang malah ditentang oleh Kartini.

 

Continue reading “Bunda Saya dan Kartini”

Sassie Kirana: Menembus Batas

soon, we'll be there you belong, sist...

Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun…

Telah berpulang ke Rahmatullah, adik dan saudara kami tercinta, Sassie Kirana binti Abdul Muthalib pada hari

Continue reading “Sassie Kirana: Menembus Batas”

Hidup yang Menuju Satu Titik

curug gede, purwokerto, 21feb09 Dulu, teman saya pernah berkata, “Hidup itu menuju satu titik, yang perlu kita lakukan adalah berusaha sebaik mungkin untuk menuju satu titik itu.” (semoga saya tak salah ingat).

Ibarat sungai, kita adalah bahagian demi bahagian terkecil dari air sungai kehidupan. Bagaimanapun kita, semua menuju ke satu titik perhentian, yakni muara sungai, hilir, laut. Laut yang terhampar luas, tempat terakhir bagi molekul sungai, dimana kita akan mendapati perhitungan atas semua amalan kita di dunia, baik atau buruk, untuk surga atau neraka.

Continue reading “Hidup yang Menuju Satu Titik”

Cinta di Punggung Ayah

“Hati-hati, Be. Hari akan hujan.”

punggung...Masih saya ingat sinar mata itu. Kosong, hampa, tak berisi, atau apalah namanya. Yang jelas tak ada apa-apa di sana. Sedetik kemudian mata itu berubah menjadi danau, tetes demi tetes airnya mengumpul, lalu sinar yang keluar darinya membias tak keruan, menandakan pikirannya yang sedang kacau, gelisah, dan penuh rasa bersalah. Mungkin tak pantas baginya menaruh prasangka yang demikian mendalam kepada sang ayah, terutama setelah apa yang dilakukannya hari ini.

Sang ayah berjalan menjauh membelakanginya, sambil menuntun hati-hati motor yang hampir tak berbentuk itu; kempol kirinya, totoknya, dan lampu depannya sudah berhamburan entah kemana. Sialnya lagi, setirnya telah serong ke kiri dan rem belakangnya menjadi tumpul. Praktis, hanya ahli sirkus yang bisa mengendarai motor itu.

Kawan saya tertunduk malu. Malu pada dirinya sendiri. Malu kepada ayahnya. Malu hanya karena tidak mengurangi kecepatan ketika turun gerimis, sehingganyalah dia jatuh, motornya pecah. Bikin ayahnya repot harus menempuh perjalanan antar kota dengan sepeda motor lain untuk menukarnya dengan motor sialan ini.

Continue reading “Cinta di Punggung Ayah”

Blog at WordPress.com.

Up ↑