Point of No Return, sebuah titik ketika kita harus keep on moving forward, karena berhenti di tengah-tengah adalah sebuah hal yang sangat tidak memungkinkan, terlalu mahal, berbahaya.

Place/Date/Time: Pink House/Kamis, 15012008/7:54pm

Inilah saat kita mengambil keputusan untuk sesuatu yang besar dalam hidupmu. Entah apapun itu, being settled down with somebody, taking a nu job, memilih judul skripsi, making an appointment, teken kontrak, bahkan sekedar meneruskan keinginan untuk tidur atau memilih makanan yang kita makan.

PNR—point of no return, dulunya dipakai dalam dunia penerbangan. Para pilot biasanya menggunakan istilah “Radius of Action Formula”, yakni karena alasan bahan bakar, sebuah pesawat terbang tidak dapat kembali ke tempat asalnya. Maka setelah melewati PNRnya, tidak ada jalan lain bagi sang pilot kecuali meneruskan perjalanan atau mencari tempat mendarat darurat.

Sendang Biru, Sempu

Hal yang sama saya alami ketika menyeberangi Pulau Sempu untuk menuju Sendang Biru. Tiga-empat bukit kami lalui, capek, berat, tapi kami sudah lebih dari setengah perjalanan, dan tidak mungkin kembali lagi kecuali meneruskan perjalanan sampai ke tujuan.

Sedikit berbeda dengan Puncak Semeru, yang di tengah perjalanan kita bisa menemui Rono Kumbolo, di mana dihamparkan sebuah pemandangan yang tak ternilai indahnya. Sebuah danau di tengah hutan, perpaduan antara hijau dan biru alami, berkelip-kelip seperti jutaan mutiara yang digelar begitu saja di depan mata kita. Kebanyakan orang awam akan berhenti sampai di sini, lalu memutuskan untuk turun kembali. Kebanyakan orang awam cepat puas, sehingga baru setengah perjalanan mereka memutuskan untuk berhenti lalu kembali.

Sempu dan Semeru menawarkan PNR dalam kondisi berbeda. Jika di Sempu kita akan dikondisikan dalam suasana terpaksa, maka di Semeru kita dikacaukan oleh banyak sekali kenikmatan sesaat.

Continue reading “Point of No Return: The Rubicon River and The Thariq’s Ships”