Search

Katakata Sukasuka

cerita, cita, dan cinta.

Tag

dokter

Diperjuangkan atau Diikhlaskan?

Ketika aku memperjuangkan sesuatu, pada satu titik aku juga harus belajar mengikhlaskannya. – Mas NR.

Suatu ketika saya mengetahui bahwa seorang kakak kelas, yang telah lulus sebagai psikiater, kembali ke departemen kami sebagai staf dosen muda. Saya senang bukan main. Bukan apa-apa, karena sejak menjadi chief (tingkat akhir pendidikan, kakak kelas yang paling senior), ia adalah senior yang paling bersahaja, paling senang mendengarkan adik-adik kelasnya berkeluh kesah, dan paling pertama yang memberikan jalan keluar kepada kami yang masih junior ini. Ibarat spons, ia lah yang menyerap semua gundah gelisah kami tanpa terkecuali, tanpa sedikitpun ia merasa terbeban.

Saya ingat ia ingin memperdalam psikiatri anak, dan mendapat brevet konsultan dari bidang tersebut. Saya suatu kali pernah melihat surat rekomendasi untuk menempuh jenjang pendidikan itu di Jakarta, dan setelah menyelesaikannya, maka ia kembali ke Manado tempat asalnya. Oleh karena itu, kehadirannya di Surabaya sebagai staf dosen muda, merupakan kejutan tersendiri bagi kami. Sempat saya bertanya, haruskah ia menunda cita-citanya sebagai psikiater anak itu, dengan pindah tempat kerja di Surabaya.

Continue reading “Diperjuangkan atau Diikhlaskan?”

“No Networking = Not Working”

image

“No Networking sama dengan Not Working…!!”

____
Quote by: Hendro Purwantoro, S.Si
Trainer SMILE Leadership Centre

… .

Buat apa beli laptop, kalau bisa pinjem punya teman?,” ini ungkapan yang lucu, setengah menjengkelkan, tapi ada benarnya juga. Bukan berarti gak bondho, lho. Esensinya, berdayakan resource yang ada di sekitar kita.

Continue reading ““No Networking = Not Working””

Idealisme Itu Butuh Duit, Gan!

demo

Sebut namanya dokter Diaz. Dia bercita-cita semua pasien yang berobat padanya gratis. Dia tak ingin mengandalkan penghasilannya dengan menarik bayaran dari orang sakit. Dia tidak ingin menetapkan tarif. Kalaupun dia menerima upah, itu hanya ucap terimakasih dari pasiennya. Sekali lagi, dokter Diaz menerima upah atas jasanya bukan karena tarif.

Continue reading “Idealisme Itu Butuh Duit, Gan!”

Patah Hati Hampir Hancur

Tulisan lama, yang saya posting lagi di sini supaya lebih bisa berbagi. Ada seseorang yang bercerita kepadaku, tentang bagaimana teman kecilnya dulu waktu TK, beranjak gedhe, pacaran, ML, dan diputus pacarnya. Patah hati, pasti. Hancur, tidak. Karena memang tidak demikian. Namun semakin hari luka itu semakin kronis, dan mengalami eksaserbasi akut. Semakin menganga. Dan hatinya mendekati kehancuran. Apa yang harus dia lakukan sebagai teman?

Saya juga tidak tahu. Tapi inilah yang saya tulis untuknya lewat msg FS.

Ya, yang bisa kita lakuin sebagai teman tu nemenin dia untuk berjuang lebih baik lagi mewarnai hidupnya.

Coba, anggap sekarang kamu menghadapi pasien kanker stadium 4 yang ngga bisa disembuhin secara medis praktis. Hanya kemurahan Allah jika ditunjukkan jalannya yang bisa membuat kanker itu hilang.

Apa yang kamu lakukan? Sebagai dokter, aku mendiagnosa pasien ini sudah terminal dan hanya terapi paliatif yang sangat dibutuhkan dia sekarang.

Minta tolong dek, kasi dia Injeksi i.v. adrenalin pagi sore satu ampul, lalu injeksi i.v metothrexate dosis kecil untuk melihat respon imun tubuhnya. Kalo semakin baik, tingkatkan dosis. Kalo semakin buruk, pertahankan dosis sampe esok, nanti aku diagnosa lagi. Beri isoflurane i.v dosis menengah pagi sore. Pertahankan rehidrasi. Selebihnya, tolong adek temenin dia dan pastikan dia nyaman dalam perawatannya.

Apa yang akan kamu lakukan? Ini kasus pasien yang tidak bisa sembuh. ‘Tidak bisa sembuh itu’ kata-kata menurut kita. Tapi etika kepada pasien, dia harus tetep kita kasi semangat untuk sembuh. Karena banyak bukti bahwa terapi non-farmakologis dari persepsi pribadi bisa membuat respon imun pasien semakin baik. So, pertahankan semangatnya untuk sembuh dan hidup seperti sediakala.

Bagaimana caranya? Adek yang berimprovisasi. Kasus pasien kanker stadium 4 yang didiagnosa tidak bisa sembuh secara medis praktis itu cuma sekelumit kisah saja. Banyak orang yang tidak seberuntung kita. Jangan segan memberi bantuan kepada orang lain selama kita mampu. Jangan kalah sama mood. Selama tangan kita masih lengkap, kaki, dan semua organ kita masih kuat, pertahankan hidup untuk lebih banyak berusaha dan berkarya. Jangan kalah sama masa lalu. Tatap masa depan dan bangun hidup kita.

Hanya dengan begitu kita bisa lepas. Waktulah yang membuat kita terbiasa nantinya. Ya, terbiasa buat berjuang. Pada akhirnya kita akan bangga dengan hidup kita sendiri, tanpa tergantung dengan citra masa lalu ataupun orang lain.

Temenmu itu bukan pasien kanker stadium 4, dek. Temenmu masih bisa sembuh. Dia bukan orang bodoh yang kalah dengan keadaan. Semua orang punya masa lalu yang mungkin lebih buruk dari dia. Kalo dia memang orang yang bersyukur karena sadar telah berbuat kesalahan, dia akan memaafkan dirinya sendiri dan beralih untuk membangun masa depannya.

So, pastikan dia nyaman dalam perawatannya…

Allah with us. clip_image001

Yap, Allah ghoyatuna.

Blog at WordPress.com.

Up ↑