Search

Katakata Sukasuka

cerita, cita, dan cinta.

Tag

dad

Cinta di Punggung Ayah

“Hati-hati, Be. Hari akan hujan.”

punggung...Masih saya ingat sinar mata itu. Kosong, hampa, tak berisi, atau apalah namanya. Yang jelas tak ada apa-apa di sana. Sedetik kemudian mata itu berubah menjadi danau, tetes demi tetes airnya mengumpul, lalu sinar yang keluar darinya membias tak keruan, menandakan pikirannya yang sedang kacau, gelisah, dan penuh rasa bersalah. Mungkin tak pantas baginya menaruh prasangka yang demikian mendalam kepada sang ayah, terutama setelah apa yang dilakukannya hari ini.

Sang ayah berjalan menjauh membelakanginya, sambil menuntun hati-hati motor yang hampir tak berbentuk itu; kempol kirinya, totoknya, dan lampu depannya sudah berhamburan entah kemana. Sialnya lagi, setirnya telah serong ke kiri dan rem belakangnya menjadi tumpul. Praktis, hanya ahli sirkus yang bisa mengendarai motor itu.

Kawan saya tertunduk malu. Malu pada dirinya sendiri. Malu kepada ayahnya. Malu hanya karena tidak mengurangi kecepatan ketika turun gerimis, sehingganyalah dia jatuh, motornya pecah. Bikin ayahnya repot harus menempuh perjalanan antar kota dengan sepeda motor lain untuk menukarnya dengan motor sialan ini.

Continue reading “Cinta di Punggung Ayah”

Duit… penting ngga seh?

vinzhe-IDR edit

Saya sedang membaca buku tentang Pelatihan Salat Khusyu, sementara pikiran saya melayang-layang ke tiga sebuah proposal bisnis yang sedang saya geluti. Saya membuka kembali buku itu, di dalamnya disebutkan:

“Secara fitrah manusia menginginkan ketenangan, kedamaian dan kebahagiaan dalam hidupnya. Peluang itu sebenarnya bisa diraih kapan saja, tanpa harus bersusah payah mencari sesuatu yang berharga mahal untuk memenuhinya. Sering kita mengalami hal ini dengan paradigma yang keliru, bahwa kebahagiaan itu hanya bisa diraih dengan uang (materi) atau harus menjadi orang kaya terlebih dahulu baru kita akan mendapatkan ketenangan dan kebahagiaan. Pemahaman seperti ini sudah tentu mengalami distorsi makna. Padahal kebahagiaan, ketenangan, cinta dan rindu itu bersifat sederhana dan konkrit. Potensi sebenarnya ada pada diri kita sendiri. Banyak orang yang bingung mencari potensi tersebut atau menggunakan cara yang sulit untuk memperolehnya. Anda telah membuktikan dan merasakan ketika Anda mengalami cinta pertama. Bukankah Anda mendapatkan keadaan itu tanpa perlu mencarinya dengan istilah dan definisi dalam kamus bahasa pengetahuan. Terkadang ia muncul begitu saja memenuhi ruangan hati tanpa kta minta. Terkadang pula ia hilang lenyap tanpa jejak sehingga sulit dicari kembali. Akhirnya kita mencoba keluar dari diri kita dengan cara bermacam-macam untuk menemukannya kembali.”

Pun, seorang teman yang sama-sama berkubang di profesi kesehatan mengatakan, “Apa kamu mau cuma dihargai sebatas gaji?”

Saya pernah mencibir ketika babe saya sendiri enggan masuk kantor jika tak mendapat uang lembur. Beliau kemudian berkata bahwa, lebih baik menghabiskan waktu di rumah daripada bekerja tanpa upah. *meski pada akhirnya beliau berangkat setelah mendengar temannya kesusahan mengerjakan laporan bulan ini!*

Saya sedang menjalani stase di psikiatri, dan mendapati bukan satu-dua pasien yang mengalami kepribadian terpecah (skizofrenia) karena harta. Ada yang gara-gara anaknya sembarangan menggunakan kartu kredit ayahnya, isterinya ngopeni cem-cemane dari uang suaminya, dan seterusnya. *believe it or not, apa yang ditampilkan di sinetron dan termehek-mehek memang terjadi di dunia nyata! Pasien-pasien saya buktinya :|*

Fine. Bagi saya, uang tetap penting. Meski bukan yang terpenting. Apa yang disebutkan dalam buku Pelatihan Salat Khusyu tadi, adalah batasan kebahagiaan untuk diri sendiri. Ukuran bagi seseorang untuk membahagiakan diri sendiri. Bahwa kebahagiaan tidak diukur dengan banyak sedikitnya harta, tapi seberapa besar kedamaian yang dirasai dalam hati.

Bagaimana tentang membahagiakan banyak orang? Mas Tsalis, teman kos saya berkata, membahagiakan orang lain pun tidak perlu dengan uang. Percuma banyak uang jika hanya menjadi tetangga yang menyusahkan. Tapi susah juga kalau jadi tetangga yang miskin yang selalu jadi bahan dikasihani tetangga lainnya dan jadi sasaran zakat-infaq-sadaqah. So, sebaiknya bagaimana? Kata Mas Tsalis, lebih baik jadi tetangga yang tidak merepotkan, syukur-syukur kalau bisa membantu tetangganya.

Hmm… tidak, tidak. Menjadi tetangga yang baik memang baik, tapi lebih baik lagi kalau menjadi tetangga yang terbaik. Baik secara moral, juga finansial. Ya, ya. Pertanyaannya sekarang, bagaimana? Okelah, secara moral, setiap kita pasti bisa menjadi tetangga yang baik. Secara finansial, bisa kah kita membuat tetangga kita sukses bersama-sama? Sama-sama sukses, dan sukses bersama-sama!

Ya, bagi saya uang tetap penting. Meski bukan yang terpenting. Saya melihat banyak sekali yang bisa dilakukan untuk membantu orang lain, dan banyak uang membuat hal itu lebih konkrit. Sebut saja, semua kita yang ada di dunia ini memiliki potensi kebaikan hati yang sama besarnya, memiliki moralitas yang sama indahnya. Dengan modal yang berasal dari kantong saya sendiri, maka saya buatkan sekolah gratis khusus anak-anak usia esde, mendidik mereka dengan spiritualitas yang agung, mentalitas yang kuat, jiwa entepreneur yang dinamis, dan punya kemampuan “promosi-prevensi-kurasi” untuk masyarakat di sekitarnya. Saya dirikan juga sebuah masjid yang penuh dengan buku-buku sejarah Islam, akidah dan akhlaq, juga tentang fiqih dan syariah. Sekalian saya gaji para ustadnya dan saya jamin kesejahteraannya untuk mendidik banyak santri. Dari sekolah dan masjid ini nantinya melahirkan banyak sekali muslim yang sanggup memajukan masyarakat di sekitarnya, membawa cahaya agamanya yang terang, dan bersikap lembut terhadap sesama namun tetap tegas dalam memegang prinsipnya. Amiin!

Karenanya saya mempelajari tiga salah satu proposal bisnis perusahaan ini, ini, dan ini. Sebagai panduan untuk menjalankannya, sepertinya Cashflow Quadrant dan Rich Dad Poor Dad oleh R. T. Kiyosaki sangat bagus untuk dipelajari. 😉

ProductReflection_CFQ

Babe, Rokok, dan Idul Fitri

Place/Date/Time: Green House/Minggu, 28092008/14:22pm

Babe menarik napas dalam-dalam, hingga aroma anthurium yang sebenarnya tidak berasa apa-apa masuk ke dalam seluruh lapang paru-parunya, menggantikan semua asap dua batang rokok yang dihisapnya pagi-pagi tadi. Berbagai anthurium dikoleksi babe dan menyesaki hampir seluruh sudut kebun kami. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan semua anthurium itu, hanya saja ledakan hasratnya untuk membeli anthurium tidak sebanding dengan kecepatannya dalam menata satu per satu pot anthurium itu. Walhasil, kebun kami lebih mirip hutan belantara daripada disebut sebagai taman anthurium. Daripada kebun ini penuh sesak, sebaiknya babe menjual beberapa anthurium yang sudah tidak tren lagi. Lalu membeli beberapa pot sansiviera, yang katanya bisa menghisap asap rokok. Beberapa waktu terakhir di sela kepopuleran anthurium, tetumbuhan mini inimemang cukup digemari karena kelebihannya itu. Bahkan beberapa housing magazine menganjurkan meletakkan sansiviera di ruang tamu. Baik sebagai pemanis interior dan penyaring asap rokok. Agaknya, babe saya sendiri lah yang bertindak sebagai sansiviera-man, pemanis rumah sekaligus penghisap asap rokok.

Continue reading “Babe, Rokok, dan Idul Fitri”

Arisan

Place/Date/Time: Green house/07062008/8:42pm

Apa yang kamu lakukan jika ketika kamu sudah pe-we (posisi wuenak) mau belajar buat ujian, tiba-tiba salah seorang anggota keluargamu meminta bantuanmu menyiapkan arisan?

I’ll go for it. Ya, meski membutuhkan sekitar tiga puluh menit to ignore and try to keep focus in what I am doing, tapi dalam hati lama-lama ga enak juga. Saya sengaja mengambil sikap diam-tanda-protes, tapi sepertinya babe mengacuhkan. Semenjak saya kos, sekitar kelas satu cawu-3 waktu itu, babe mulai memperlakukan saya seperti seorang anak muda yang sudah free-to-decide what am doing for my life. Beliau tidak banyak mengatur, tapi menyerahkan sepenuhnya mau jadi apa saya ini. Waktu itu, seringkali beliau bilang, “Terserah kamu, lho. Kamu yang ngatur hidupmu sendiri.” Kalimat ini baru saya sadari maknanya, ya, beberapa hari terakhir ini. Saya pikir waktu itu babe sudah desperate punya anak seperti saya, yang nggak ngerti seberapa besar orang tua menaruh harapan di pundak ini. Haha… Saya yakin, tiap orang tua pun—seburuk apapun mereka seperti di telenovela itu (telenovela=novel yang bertele-tele)—pasti membanggakan anak-anaknya jika mereka mampu mencetak prestasi. Hanya, standard orang tua tentang sesuatu yang disebut prestasi itulah yang berbeda-beda. Dan tentu saja, cara penyampaiannya pun berbeda.

Ruang keluarga tempat saya melumat handout fisiologi obstetri berbatasan langsung dengan teras dan taman depan. Babe terus saja menyapu dan menyingkirkan segala dedaunan yang ada disana. *Agak repot juga ya, lha arisannya di teras, koq bersih-bersihnya sampai taman depan.* Bunyi rambut sapu yang mengusir dedaunan coklat itu sangat mengganggu. Seperti terus-menerus menyindir saya. Whatever, saya harus ujian , dan tidak ada alasan yang lebih logis untuk membuat saya tetap berada di sini, kencan sama handout Prof Agus Abadi.

“Mas, tolong pindahin sepedamu ke garasi, ya?,” teriak babe dari taman depan.

Oke, there’s no big thing to deal with. Saya pindahin motor, selesai urusan.

Ah, ternyata tidak sesederhana itu. Begitu melihat saya, babe memasang tampang melas (melas, Jawa=kasihan sama dirinya sendiri), kuyu, belum mandi *emang, sih…*, campur sedikit marah dan sedih *entah kenapa saya mendramatisirnya begitu*, lalu serasa capeekk banget ngurusin anak seperti saya. Haha… Tapi di rumah ini, hanya saya yang minta toleransi. Adik saya yang sedang persiapan SNM-PTN pun tidak menolak mengantar bunda belanja ini-itu. *Secara, belanja memang faktor penting untuk mengembalikan mood fisiologis seorang wanita, haha…*

So, what am doing? Sitting down here and acting like a 3-years-old boy, hungry, angry, cry, and hoping elder people give some food to me. But my mind try to deal with my self that helping people arround is the best way to keep them silent. *Ah, nggak banget, sih.* Besides, helping people is not about they need you, but you need them to flow down your energy. Your energy need to be synchronized with everything surrounds you, so yours will be guided to maximum performance for your best life. Secara tak sadar, berpura-pura tidak tahu saat orang lain membutuhkan, ibarat membuang sampah dalam kolam cakra kita. Semakin lama, aliran dalam kolam itu akan terhambat, sehingga cakra kita tidak akan mengalir lebih baik lagi.

*Haha… paragraf tadi terinspirasi oleh Uncle Iro dan The Guru di Avatar The Last Airbender.*

Saya menghela napas panjang. Sesekali saya mencuri pandang ke arah babe menembus gorden tipis di ruang keluarga ini. Tidak lama, saya sudah berada di teras.

“Apa planningnya, Be?”

“Kosongin ruang tamu. Pindahin semua barang yang ada di sana ke tempat lain. Kita punya garasi sama ruang tengah.” Singkat, padat, dan tidak perlu bertele-tele. Prinsip efektivitas bekerja sama, adalah ketika kau mampu membuat rekan kerjamu paham tentang tujuan pokok dari kerja tim ini. Selebihnya, serahkan pada inisiatif, kreativitas, dan etos kerja masing-masing individu dalam tim.

Siang tadi bunda sudah bilang akan ada 32 orang selepas isya nanti. Tentu saja, ruang tamu dan teras depan harus disiapkan untuk ibu-ibu sebanyak itu.

Baguslah, waktu arisannya selepas isya. Sekarang sudah 17.20, sebentar lagi magrib, tapi tidak akan cukup waktu antara magrib dan isya untuk mempersiapkan semuanya. Tujuannya, ruang tamu kosong dan teras depan harus lebih longgar. Garasi dan ruang tengah bisa dipakai buat parkir sementara barang-barang itu. Sepertinya, mindah sofa ruang tamu tidak akan lama. Yap, kami masih bisa mengejar magrib. Yang jelas, semua sofa harus keluar dari ruang tamu dulu, ngaturnya belakangan.

Semua sofa sudah keluar. Secara simultan saya dan babe membuat ruang tamu baru di garasi. Ternyata tidak bagus juga memaksakan beberapa sofa lagi di garasi ini. Apalagi nanti motor adik harus parkir di sini. Jadi kami harus pakai ruang tengah. TV dan dua radio yang sudah beberapa minggu mangkrak di sana, kami masukkan mobil. Mau tidak mau, babe harus segera mengantar mereka ke tempat service. Lalu beberapa sofa dan satu meja kaca kami pindah ke ruang tengah. Terakhir, keyboard Yamaha milik adik kami pindah ke ruang makan.

Persis dua puluh menit. Adzan magrib sudah lewat sepuluh menit. Tapi agak bersalah juga meninggalkan ruang tamu dalam keadaan kotor begini. Lihat, debu yang sudah mendekam lama menjadi garis-garis coklat membentuk jejak kaki sofa yang kami pindah tadi. Bagian dinding tempat punggung sofa bersandar pun banyak sarang laba-laba. Padahal, dinding itu akan menjadi tempat bersandar punggung ibu-ibu yang pernah kelelahan menahan beban perut mereka, yang dulu berisi bayi-bayi kampung ini.

Babe segera mengambil sapu teras, dan membabat dengan hati-hati semua debu di ruang tamu ini. Saya meninggalkan babe ke teras depan, lalu menyingkirkan semua kursi kayu di sana dan membariskan mereka di gang kecil menuju garasi. Tidak ada tempat lagi. Prinsipnya, ruang tamu harus kosong dan teras depan harus lebih longgar. Dan dalam tiga puluh menit, semuanya beres.

Tiga puluh menit seusai salat magrib dan bersih diri, kami semua berkumpul di ruang makan. Adik dan bunda sudah ada di sana, menempatkan satu jeruk dan dua salak dalam satu plastik kecil. Mereka sedang tidak salat, jadi sepulang belanja tadi mereka bisa langsung memulai pekerjaannya.

Saya tanya lagi sama babe, “Apa lagi planningnya, Be?”

“Ngepel ruang tamu sama teras depan. Kamu di sini aja, bantuin adik sama bunda, ya.”

We just spent 20 minutes. Setelah itu, semuanya bisa bersantai. Salat isya juga tidak perlu tergesa-gesa. Sambil menata snack di beberapa piring sebagai suguhan, saya dan adik ‘terpaksa’ harus uji-kendali-mutu snack-snack ini beberapa kali supaya benar-benar yakin mereka layak disuguhkan.*bilang aja nyemil, mas, nggragas alias rakus tuh…* Otomatis bunda komen, “Jangan diambilin aja, itu buat tamu. Kalau sudah selesai semua, kalian boleh ambil.” Haha…

Bunda menunjuk dua karpet yang masih tergulung, dan meminta saya membantu menggelarnya di ruang tamu. Yap. It’s easy to me for you, Mom.

Kami berdua mengukur-ukur luas ruang tamu ini dengan dua-tiga karpet sebagai alasnya. Sambil sok filosofis, saya tanya sama bunda, “Bun, emang gimana sejarah arisan itu?”

Saya berharap ulasan yang naratif, seperti cerita bunda tentang awal pertemuannya dengan babe di tempat kerja mereka. Misalnya, ya, dahulu kala pernah dikisahkan: isteri Tumenggung Anu ingin mengetahui seberapa besar kesetiaan para adipati di desa mereka. Maka isteri Tumenggung Anu punya ide untuk mengumpulkan isteri-isteri mereka di rumahnya, dengan harapan bisa mengetahui seberapa besar pengabdian suami mereka kepada desa. Mencari info penting di antara mereka yang tidak diketahui kadar kesetiannya itu pada akhirnya menjadi tantangan tersendiri bagi isteri Tumenggung Anu. Isteri Tumenggung Anu harus berani menurunkan egonya dan meruntuhkan semua dinding prestise di hadapan mereka. Berbicara dalam bahasa mereka, mengubah total gaya berpakaiannya, dan satu hal yang penting, harus berani bergosip. Sambil menghembuskan gosip, isteri Tumenggung Anu harus menjadi bagian dari mereka. Mungkin hasil yang dia dapat tak sesuai harapan, artinya, kesetiaan para adipati memang pantas diragukan. Sangat, sangat pantas diragukan. Dan banyak diantara mereka yang harus segera dipecat untuk mengamankan desa. Akan tetapi, satu hal yang sangat penting, ternyata isteri Tumenggung Anu menemukan alasan logis mengapa hampir semua adipati bersikap demikian. Adalah karena sikap suaminya sendiri yang tidak memperhatikan kesejahteraan keluarga para adipati. Singkat cerita, arisan semakin membudaya sejak zaman itu.

Tapi jawaban bunda sangat singkat, bahkan cukup kuat untuk jadi alasan mempertahankan budaya arisan. Yaitu, “Ah, cuman untuk silaturrahim aja, Mas.” Dan tidak ada gosip di sana. Sangat tidak etis jika ibu-ibu bergosip dalam forum yang luar biasa itu. Heran juga, kenapa wanita diidentikan dengan tukang gosip? Padahal mereka punya arisan sebagai forum klarifikasi, jadi tidak perlu terlalu lama berkubang dalam gosip, mungkin? Manfaat yang lain, ibu-ibu bisa mencari utangan kepada mereka yang lebih beruntung mendapat kopyokan arisan. Dan ibu itu pula yang mendapat giliran untuk menjamu semua ibu-ibu di arisan berikutnya. Dari sini, arisan bisa dioptimalkan untuk saling bertamu dan menyambung silaturahim sekalius membantu perekonomian keluarga.

Sampai semua karpet digelar, bermacam suguhan ditempatkan di tempatnya, air kemasan sudah disiapkan, jajanan dalam kotak siap dibagikan, hidangan andalan bunda belum datang. Tek-wan! Mana tek-wannya?? Saya sama adik harus segera uji-kendali-mutu lagi untuk memverifikasi bahwa hidangan andalan bunda siap disuguhkan. *Haha…* Tapi, sepuluh menit menjelang jadwal arisan, tek-wannya kok belum datang?

Bunda dengan gugup campur marah campur kecewa segera menelepon penjual tek-wan yang katanya sudah langganan itu. Ah, kesimpulannya, kami tidak bisa mengandalkan ibu penjual itu. Meski demikian, bunda masih berusaha menata kata-katanya dengan lembut sehingga tidak tampak emosional, sebagaimana yang ditampakkannya beberapa menit lalu.

Babe segera mengambil kunci mobil, dan adik pun bersiap. Saya memberi usulan hidangan apa saja yang kira-kira berkuah tapi tetap sesuai dengan mangkuk semini itu. Akhirnya keluar opsi: bakso, per porsi cukup dua ribuan.

Ibu-ibu kampung ini mulai berdatangan, dan saya bisa melihat raut bunda semakin gelisah. Adik belum memberi kabar apakah usaha mereka berhasil. Bunda mondar-mandir entah sedang apa. Kalau bunda itu setrikaan, bisa-bisa rumah kami sudah hangus dari tadi. Sedapat mungkin bunda harus menahan ibu-ibu itu lebih lama berada di sini. Padahal, tidak ada dalam sejarah kampung kami, arisan dilaksanakan lebih dari empat puluh lima menit. Dan sekarang sudah berjalan hampir tiga puluh menit.

Adik dan babe datang, bunda meloncat kegirangan sambil menarik kaki saya yang sedang tiduran di ruang keluarga. Sontak saya ngglundung-ngglundhung kaya onde-onde yang muter-muter di baskom wijen. *Aih, hiperbolis!* Tanpa banyak bicara kami segera menghidangkan bakso itu di ruang tamu dan teras. Tidak lama bunyi mangkuk plastik yang beradu dengan sendok semakin meriah dengan pembicaraan ibu-ibu. Mereka semakin ramai, dan tidak sedikit tawa ibu-ibu itu berderai-derai. Entah karena bahagia atas topik pembicaraan yang menyenangkan, atau karena baksonya memang enak, atau sebagai kamuflase ruptus atau flatus *ups! Nggak bole suudzon, kalee…*, atau memang, yaa… pengen ketawa aja.

Apapun itu, bunda cukup puas atas arisan kali ini. Menarik juga, karena ada beberapa poin penting yang harus disampaikan kepada Ketua RT *dalam hal ini bapak saya sendiri* tentang rumah warga yang kebanjiran kala hujan. Kebanjiran? Baru kali ini terdengar lagi setelah delapan atau sepuluh tahun yang lalu saat kami harus mengungsi ke rumah kosong di ujung jalan kampung, karena rumah kami sedang direnovasi. Saat itu, memang rumah yang lebih dekat ke jalan raya mudah tergenang air. Lanskap kampung kami yang berada di kaki bukit ini, cenderung menurun ke arah jalan raya. Tapi, setelah jalan raya mengalami peninggian demi peninggian, terbentuk kontur seperti tampon air untuk deretan rumah di tepi jalan raya. Di tahun itu pula sudah dibuat sebuah gorong-gorong selebar kurang lebih setengah meter mengarah ke selokan utama untuk mencegah genangan air lebih tinggi lagi. Tapi, seiring zaman *dan egoisme manusia, mungkin* gorong-gorong itu tertutup oleh pelebaran halaman samping beberapa rumah. Inilah yang susah diatasi. Hampir mustahil meminta para kepala rumah tangga di sana untuk membongkarnya kembali. Apakah perlu kompensasi seperti halnya berita tentang pelebaran jalan di negara kita? Who knows. Orang satu RT harus bijak dalam bertindak, dan di sinilah peran Pak RT untuk melakukan pendekatan masalah yang paling mungkin. Over all, peran kontrol ibu-ibu sangat optimal dalam arisan ini.

Salut deh, sama kaum perempuan. Allah be always blessing you. All of you. Amiin.

***

Chicken Nugget, lagi?

Place/Date/Time: Green house/Kamis, 21022008/05:45am

Bunda begitu saja menenggelamkan beberapa potong chicken nugget beku dalam minyak yang mendidih. Suara mendesis begitu berisik, asap mengepul memenuhi ruang tempat bunda berkarya di rumah kami. Chicken nugget tadi saya ambil dari dari freezer dalam keadaan beku. Kata bunda, sebenarnya tidak bagus langsung menggoreng daging beku, karena bagian dalam daging itu akan lebih sulit ditembus panasnya minyak. Chicken nugget adalah daging olahan yang sudah matang dari pabriknya, jadi tidak masalah kalau digoreng dalam keadaan beku. Yah, matang tak matang, setengah matang juga matang. Tapi, tepung di bagian luar akan lebih sulit bertahan kerenyahannya karena kandungan airnya masih banyak tersisa. Lebih baik chicken nugget atau daging apa saja dibiarkan saja atau direndam sambil menunggu esnya mencair. Terutama direndam dalam perasan jeruk nipis, supaya lebih lunak dan lemaknya banyak meluruh. Ikatan antar protein otot itu akan lebih mudah dikacaukan oleh asam dari perasan jeruk nipis, sehingga daging menjadi lunak dan lebih mudah diolah. Tentu saja, bunda belum pernah merendam chicken nugget dalam air asam atau garam, karena rasanya akan menjadi semakin aneh.

Di Prancis sana, daging direndam dalam anggur untuk lebih memunculkan aroma manisnya. Daging yang direndam dalam anggur tidak boleh digoreng dalam minyak. Minyak akan larut oleh alkohol yang dikandung anggur dan meresap ke dalam daging, sehingga di mulut muncul rasa seperti lemak beku yang kata orang Jawa ngendhal. Daging ini harus dibakar atau dipanggang dengan api yang cukup. Karena adanya alkohol dari anggur itu, panas dari api akan lebih mudah menyebar ke setiap bagian daging. Daging lebih mudah matang, panasnya bertahan lama, proses pemasakan lebih cepat, sehingga tidak banyak protein yang hilang terpanggang. Rasa manisnya pun tetap melekat. Cara ini sesuai dengan pola hidup sehat mereka yang menjauhkan diri dari lemak. Tapi belum menjauhkan diri dari alkohol, ya.

Selain itu, proses pemasakan tanpa minyak memang telah cukup berkembang di negara maju. Bahkan entah sejak jaman kapan, masyarakat Jepang terbiasa mencelup daging ikan tawar dalam cuka. Tidak dimasak? Jangan salah sangka dulu. Kata dr. Nanik, dosen ilmu kesehatan masyarakat di kampus saya, ternyata pencelupan daging dalam cuka itu sudah bisa dikatakan sebagai proses pemasakan. Daging ikan yang tersusun dari serat otot white-matter ini, lebih mudah bereaksi dengan asam dalam cuka, karena susunan protein dalam serat-seratnya tidak begitu rumit. Serat otot white-matter tidak memiliki myoglobin. Di sinilah oksigen dan nutrisi dibakar untuk pergerakan sang ikan. Proses ini yang disebut pembakaran aerobik pada serat otot red-matter yang memiliki myoglobin. Tapi pada serat white-matter, yang terjadi adalah pembakaran anaerobik. Pembakaran ini tidak memerlukan proses yang bertingkat untuk mengelola oksigen. Energi yang dihasilkan memang tidak sebesar pembakaran aerobik, tapi prosesnya lebih cepat untuk menghasilkan energi. Sehingga, serat otot white-matter ini dimiliki ikan-ikan lincah yang suka bergerak gesit, dan mereka terdapat pada arus sungai deras yang tidak terlalu dalam.

Bunda pernah mencoba mengganti anggur dengan cuka apel manis, karena alkohol memang sudah diharamkan di agama kami meski sedikit saja. Lagipula, cuka apel memang berkhasiat melunturkan kolesterol. Hasilnya, daging memang beraroma harum dan manis, tapi rasanya jadi campur aduk. Manis dan gurih, tapi terlalu kuat karena asinnya keluar dari cuka yang asam. Daging sapi itu seharusnya punya rasa manis yang bisa muncul dan lepas di sela-sela gigi, dan tetap berada di sana  oleh rasa asamnya. Tapi karena ada rasa asinnya, semua rasa jadi tertahan dan terkumpul di tepi dan pangkal lidah. Siapapun yang memakan akan menjadi cepat puas oleh rasa itu, dan tidak merasa misterius lagi. Akibatnya, waktu itu saya dan adik tidak ingin nambah satu porsi pun.

Spontan saya menarik tali yang menjadi tuas blower dapur. Asap-asap itu tersedot berarakan keluar ruangan setelah sebelumnya membubung tinggi di langit-langit dapur. Seluruh dapur jadi berasa gurih, menggambarkan rasa chicken nugget yang renyah dangan asin yang pas. Dagingnya empuk dan tidak meleleh, cukup praktis untuk sarapan pagi ini. Rasanya pun tidak terlalu rumit dan bisa diterjemahkan oleh lidah siapa saja. Bagi saya yang terbiasa kos dengan uang saku yang sering habis karena pos-pos telekomunikasi terlalu menggelembung, tidak pernah merasakan masakan yang meski praktis namun penuh gizi ini. Selama di kos, sarapan selalu jam 10-11 pagi. Lebih tepatnya disebut brunch, breakfast and lunch. Kalau malam, menunya tempe penyet. Selalu tempe penyet. Sehari cukup dua kali makan. Tapi makan malam saya selalu porsi satu setengah, belum lagi tengah malam kalau kami cangkruk di warung kopi. Kata Anas, saya punya pola makan ‘balas dendam’. Seperti orang buka puasa yang memasukkan apa aja di meja makan, yang kata orang Jawa nggragas alias rakus. Saya tidak berusaha rakus, hanya makan porsi sesuai ‘kebutuhan’ saja.

“Namanya juga perjuangan, Nak,” kata bunda kali waktu, “kamu harus terbiasa hidup susah supaya kamu tahu rasanya orang berjuang mempertahankan hidup. Orang-orang di sudut kota, di kolong jembatan, gelandangan di manapun, mereka tidak pernah berpikir untuk sekolah, beli pakaian yang layak, sepatu untuk anaknya… Bagi mereka sangat tabu memikirkan hal-hal semacam itu, karena untuk makan saja sangat susah. Daripada semakin lapar karena memikirkan hal-hal yang tak mampu mereka raih, lebih baik memikirkan cara bagaimana bisa makan hari ini, dan bertahan hingga besok pagi. Yang penting perut terisi dan semua anggota keluarga bisa tersenyum, meski berulang kali menelan pil pahit kehidupan. Yang penting semua anak-anaknya nyaman, meski satpol PP selalu ngejar-ngejar mereka. Bukankah berulang kali merasakan pahit akan membuat orang lebih terbiasa? Lagipula, kita baru bisa merasakan manis kalau tahu bagaimana rasa pahit, kan?”

“Masa separah itu, Bun?”

“Ya, kamu lihat sendiri kan, Nak? Baru kemarin di Jakarta dibuat rencana peraturan yang akan menertibkan mereka yang mengais nafkah di jalanan. Ya, ya. ‘Menertibkan’…” kata bunda sambil melotot ke arah chicken nugget yang mendesis ketika digoreng. Bunda segera menyipitkan matanya karena asap itu tiba-tiba membubung ke wajahnya.

“Semua ‘kan demi mereka sendiri. Kasian kan, kalau hidup di jalanan terus-menerus. Selain tidak terjamin, premanisme sekarang marak, Bun! Apalagi di kota besar seperti Jakarta. Di jalan berlaku hukum rimba, siapa yang kuat dia yang menang. Bahkan penghuni rimba pun tak segan memakan daging penghuni yang lain.”

“Tahu darimana kalau mereka bakal dapat hidup lebih layak, Nak?”

“Ya, pastinya, lah,” sebenarnya saya juga tidak begitu tahu, “tapi saya yakin, Bun, seperti yang selalu diberitakan, mereka akan mendapat binaan dari dinas sosial supaya bisa menguasai keterampilan tertentu. Sehingga mereka bisa hidup lebih layak karena pekerjaan mandiri yang mereka lakukan.”

“Sekarang kita bicara soal pola pikir, Nak. Mengubah pola pikir mereka tak semudah membalik telapak tangan. Mengubah pola dasar kehidupan mereka tidak secepat mengedipkan mata. Usaha menertibkan mereka harus dibarengi usaha lain yang cukup efektif untuk mendidik mereka. Mungkin pemerintah kota Jakarta punya metode bagus untuk membekali mereka dengan keterampilan, tapi mana? Belum pernah dengar. Balum pernah ada berita tentang sekolah khusus anak jalanan, misalnya. Yang ada ya, kumpulan anak muda seusiamu yang bikin kelompok belajar, seperti Sanggar Alang-alang di Surabaya, ya kan? Bukankah demikian yang diajarkan Rasul kita, bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Kita juga tidak pernah diajarkan untuk menyalahkan orang dan mencari kambing hitam, kan? Otakmu cukup kreatif untuk mencari kambing, tapi yang ditemukan hitam semua. Bahkan kambing putih dicat hitam.”

“Namanya juga media, Bun. Pers ‘kan bisa memilih mana berita yang diberitakan, mana yang disimpan. Sekarang hampir semua opini publik bisa dibentuk dari media, Bun. Seperti kata Alvin Toffler, dunia sekarang dikuasai tiga kekuatan, pemerintah, pihak oposisi, dan pers. Yang tidak bisa menguasai pers, siap-siap saja kalah.”

“Kalau begitu sekarang tugasmu, Anak Muda,” ujar bunda ringan sambil mengangkat chicken nugget dari penggorengan, meniriskannya sebentar, lalu menatanya di atas piring. Beberapa daun mint dan potongan tomat diletakkan di salah satu sudut, sehingga tatanan chicken nugget itu lebih sedap dipandang. Meski mengundang selera, saya jadi tidak tega memakannya. Saya panggil adik supaya dia sarapan dulu. Jadi tidak ada perasaan bersalah buat saya sebagai pengacak-acak pertama chicken nugget bunda.

Kalau begitu sekarang tugasmu, Anak Muda. Kata-kata itu meluncur saja dari mulut bunda. Mungkin bunda melihat bahwa percuma saja mendebat seorang anak muda di depannya. Daripada energi kami habis membahas sesuatu dari sudut pandang masing-masing, lebih baik memikirkan konsep permasalahannya sebentar, lalu merencanakan aksinya lebih matang. Seperti kata seorang mantan presiden Amerika, kalau saya punya tujuh jam untuk menebang pohon, maka saya habiskan enam jam untuk mengasah gergajinya.

Entah mengapa hampir setiap orang tua suka menilai berlebihan kepada anaknya yang dibilang baru menginjak usia remaja, yang sedikit saja punya pikiran menerobos. Menerobos? Itu istilah yang dipakai Andrea Hirata. Sepertinya sangat wajar kalau siapa saja yang disebut anak muda punya pikiran yang kadang berseberangan dengan pengalaman yang dimiliki orang tua. Sehingga sangat wajar pula seorang anak muda harus mendengar dan menuruti nasehat orang tua. Supaya roda kehidupan ini menggelinding ke arah yang lebih baik, dan generasi penerus tidak perlu mengulangi kesalahan yang pernah dibuat generasi sebelumnya. Kata Billy Lim, mereka bisa saja mendapat setiap pengalaman itu dengan darah, tapi kau cukup mendengarkannya dengan gratis. Itulah pentingnya komunikasi antara yang tua dengan yang muda. Soal ini, Kahlil Gibran pernah berpendapat demikian, “jika kau tidak menerima pendapat mereka, maka dengarkanlah mereka dengan tersenyum, karena telinga mereka telah mendengar suara-suara zaman dan mata mereka telah melihat wajah-wajah tahun.”

Lagipula debat sebelum sarapan ini tidak baik untuk kesehatan. Diskusi boleh, tapi tidak untuk debat. Kasihan otaknya sudah teracuni adrenalin yang berlebihan. Siapa bilang adrenalin baik karena sanggup memacu tubuh untuk bekerja lebih cepat dan giat? Adrenalin itu sendiri yang menjadi superoksid, dan menyebabkan stres oksidatif pada endotel pembuluh darah. Permukaan bagian dalam pembuluh darah menjadi tidak rata, dan keping-keping trombosit dengan mudah nyangkut di sana. Kemudian ada reaksi inflamasi terpacu yang menarik semua sel-sel inflamasi seperti makrofag dan kawan-kawan, masuk ke bagian tengah dari lapisan dinding pembuluh darah melalui sela-sela endotel yang rusak tadi. Akibatnya, bantalan lemak di sana dilahap oleh makrofag, jadilah makrofag sebagai sel busa. Ya, sel busa. Pernah lihat busa, kan? Karena disesaki sel busa itu, dinding pembuluh darah menggelembung lalu membuat sempit diameter pipa pembuluh darah. Peredaran darah tidak lancar, dan jaringan atau organ yang dituju tidak mendapat suplai nutrisi dan oksigen yang cukup. Kalau hal ini terjadi di otak, siap-siap saja kena stroke.

Yah, anak-anak jalanan itu, orang-orang yang di sudut-sudut kota, para gelandangan yang hidup di kolong jembatan, tidak akan pernah berpikir tentang stroke, stres oksidatif, sel busa… . Pikirannya nggak nutut, bahkan sangat tabu memasukkan hal-hal semacam itu di pikiran mereka. Mungkin mendengar saja tidak boleh. Mendengarnya akan membuat mereka bermimpi. Mimpi hanya akan membuat mereka terbang sementara tubuhnya masih bergelimang di tanah bumi yang paling bawah. Bagi mereka, mimpi adalah haram hukumnya. Karena mimpi membuat mereka berangan-angan, sedang angan-angan tak lebih seperti bioskop murah di tengah Pasar Kembang Surabaya yang dindingnya bisa dipanjat supaya tidak perlu beli tiket untuk nonton filmnya. Bioskop yang selalu memutar film-film yang sangat dekat dengan syahwat. Film yang memabukkan, yang menerbangkan mereka ke negeri khayalan, tinggi dan jauh tinggi, lalu menghempas mereka sangat keras ke tanah batu karang kehidupan ketika kembali ke dunia nyata. Jadi, meski gratis dan menyenangkan, bermimpi bagi mereka adalah haram hukumnya.

Memikirkan mereka membuat saya merasa sangat tidak berhak menggigit chicken nugget ini. Makanan ini memang praktis, tapi cukup mewah dibanding apa yang bisa mereka makan. Makanya saya keburu menyuruh adik saya diam ketika dia menggerutu, “Chicken nugget, lagi?” Saya melotot ke arahnya, dan dia cukup cerdas untuk berhenti bicara lalu melanjutkan melahap sarapannya. Orang-orang itu, bisa jadi tak kan bisa berkumpul seperti ini dengan sanak familinya. Sebenarnya siapa yang membuat mereka seperti itu?

Saya jadi ingat istilah isolasi di pelajaran ilmu kesehatan jiwa semester kemarin. Mereka tetap bertahan dengan pola kehidupan yang sangat melarat, tidak pernah berpikir untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Mereka berhenti menyalahkan pemerintah, karena pikiran semacam itu termasuk pikiran tabu yang bisa menyeret mereka ke jurang kelaparan lagi. Mereka dengan pasif menjalani kehidupan sambil tetap mempertahankan status kemelaratannya. Sehingga mereka lebih bisa bahagia dengan sedikit saja rejeki yang mereka terima, tanpa perlu memikirkan konsekuensi apabila menerima rejeki yang lebih dari biasanya . Tapi, mereka tidak bisa disebut bahagia, juga tidak bisa disebut sengsara. Yah, mereka yang memilih kondisi seperti itu, sebut saja bahagia karena menerima kesengsaraan. Be Happy!, bahkan buku itu mengatakan, “Silakan bersedih sesering yang kamu inginkan, jika kesedihan bisa membuat hidupmu lebih bahagia!”

Maka tiap santunan kita kepada mereka adalah usaha untuk mengajak mereka bercita-cita. Cita-cita bukanlah mimpi, dan tidak akan menjadi haram hukumnya karena dirangkai dengan usaha nyata. Setiap uang receh yang disisihkan buat mereka, sebenarnya untuk lebih menginspirasi bahwa mereka juga bisa melakukan hal yang sama kepada saudaranya yang lain. Tidak perlu menyalahkan pemerintah, nasib, takdir, atau siapapun. Apa yang bisa dilakukan, kita lakukan. Mungkin ini yang bunda maksudkan tentang mengubah pola pikir, yakni mengajak mereka bercita-cita. Kalau mereka telah berani dan mampu bercita-cita, maka tinggal selangkah lagi bagi mereka untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

Kalau begitu sekarang tugasmu, Anak Muda. Kata itu terus berdengung di telinga saya. Dan sekaranglah saatnya bagi kami, anak-anak muda, untuk memberi perhatian bagi sekeliling kami. Inilah era kami, ikan-ikan gesit yang bergerak lincah menentang arus kosmopolitan yang abu-abu. Kami lah ikan-ikan muda yang membawa arus perubahan untuk masyarakat yang mau berbenah. Kami akan memberi cetak biru untuk setiap perubahan. Kami harus konsisten berenang memecah arus pola pikir bizarre yang telah membesar menjadi anak-anak sungai. Pola pikir yang terlalu muluk untuk membuat keindahan semu akan masa depan di kota metropolitan. Kami harus berani karena tubuh kami mengandung white-matter sebagai modal bergerak cepat. Kami tak akan tergiur dengan daging sapi yang telah dilumuri anggur. Karena keindahan itu semu.

Keindahan yang sebenarnya adalah ketika semua orang berani bercita-cita. Ketika semua orang berani untuk berbenah. Untuk mereka. Untuk kami. Untuk siapa saja. Untuk bangsa? Ah, sepertinya terlalu jauh kalau untuk bangsa ini. Nanti saja ketika usia saya sudah kepala limaan. Kalau sekarang, lebih baik berpikir apa yang bisa dilakukan bersama orang-orang di kanan-kiri kami. Karena masyarakat di tingkatan akar rumput masih perlu untuk diberdayakan, diajak berusaha, dan yang lebih penting, dipandu untuk berani bercita-cita. Suatu saat, jika kami harus pergi dari dunia ini, biarlah kami mati berlumur cuka, bukan anggur.

Saya menghela napas panjang. Bunda di seberang meja masih memperhatikan adik yang sedang makan. Saya tersenyum kepada adik, kemudian membelai rambutnya yang telah dipotong dengan model layer. Iya, ya. Sangat sering bunda membuatkan chicken nugget buat sarapannya. “Bunda, sering masak chicken nugget, yah? Kalau memang repot, kenapa nggak ngajak pembantu saja?”

“Pembantu? Nggak usah, deh. Biar bunda saja yang masak. Kalau pagi yang sarapan cuma adikmu. Makanya bunda praktis saja buat sarapan. Kalau makan malam memang harus istmewa, karena waktunya makan bersama-sama. Lagipula babemu masih suka memuji masakan bunda.” Bunda tersenyum bijak. Dasar, ternyata karena sindroma masa tua.

Memang menyenangkan rasanya memasak untuk orang yang dicintai. Kalau ada seseorang yang memasak untuk saya, pasti saya puji. Kalau dia isteri saya, seketika saya kecup keningnya.

Beberapa Tangkai Gelombang Cinta

Place/Date/Time: Green House/Kamis, 07022008/05:15am

Angin tiba-tiba berhembus lembut, menyesaki barisan anthurium di kebun depan rumah kami yang berjajar rapat-rapat, sehingga menimbulkan suara ribut yang keras dan sangat mengkhawatirkan. Ayah buru-buru memalingkan muka ke tanaman yang disebutnya gelombang cinta itu, kalau-kalau angin mampu membuat lembaran daunnya patah atau lecet sedikit. Berbagai anthurium ini dirawatnya sejak setengah tahun lalu menjadi tumpukan dedaunan dalam pot besar-besar hingga harganya ditaksir mencapai tiga juta rupiah. Ayah tidak ingin satupun dari tumpukan daun itu rusak. Bukan karena harganya yang mencapai jutaan, tapi karena curahan kasih sayangnya teralih kepada mereka. Entah dimana letak keindahan sang gelombang cinta. Dia tidak berbunga, hanya berwarna hijau monoton tanpa variasi apapun. Menuntut pemiliknya untuk menempatkannya di pot-pot raksasa supaya akarnya yang besar menyebalkan dan menghujam ke bawah itu bisa rakus mereguk air dan nutrisi banyak-banyak dari mediumnya. Bagi saya tanaman itu tak lebih dari seonggok tumpukan daun. Para birokrat penguasa bisnis tanaman telah bersepakat untuk menggelontorkan berita bahwa gelombang cinta adalah tanaman hias terpopuler dekade ini. Semua tak lebih dari ide-ide pengusaha berperut tambun yang berkonspirasi untuk menciptakan tren gelombang cinta. Mereka menguasai pasar dengan menarik orang-orang mabuk yang tak berpikir panjang tentang estetika tanaman untuk menyerbu pasar-pasar gelombang cinta dengan harga tinggi, pada akhirnya semakin mengenyangkan perut mereka yang tambun itu. Mungkin ini representasi akumulasi kecemburuan saya sebagai seorang anak yang jarang pulang kampung, dan ketika sampai di rumah yang didapatinya adalah seorang ayah yang begitu terobsesi oleh tanaman monoton yang samasekali tidak memiliki bunga itu.

Saya beringsut melingkarkan diri ke atas kursi karena angin musim basah ini begitu dingin. Musim menjadi begitu tidak menentu di tahun ini, yang kata orang-orang disebabkan banyak terjadi perusakan alam, sehingga alam pun menghadirkan ketidakseimbangan cuaca yang benar-benar tidak bisa diprediksi. Semalam adalah salah satu ketidakmenentuan cuaca. Hujan deras intermitten mengiringi perjalanan pulang kampung saya. Bertolak dari kampus pukul delapan malam kemarin hari, dengan harapan jalanan lebih lengang sehingga saya bisa mengendarai motor dengan santai dan lebih hati-hati. Ternyata harapan itu sedikit pupus—kalau tidak disebut pesimis, karena hujan telah melunturkan semangat saya sejak sore harinya. Hujan yang seharusnya deras dan ganas di akhir tahun kemarin justru terasa lebih berat di sore itu. Beberapa peristiwa bencana alam berkaitan dengan hujan beringas yang diklaim force de majeur oleh pemerintah rata-rata terjadi pada akhir tahun. Di awali oleh tsunami Aceh tahun 2004, longsor masif di Jember tahun 2005, peristiwa hilangnya pesawat dan kapal laut karena badai lautan di medio 2006 akhir, lalu beberapa banjir hampir di seluruh area pulau Jawa penghujung tahun kemarin. Sangat mungkin hujan kemarin malam adalah sisa-sisa kepenatan alam di akhir tahun 2007 karena tidak ada perbaikan moral dari manusia-manusia penghuni bumi dari tahun ke tahunnya.

Masih merasa lelah karena perjalanan menantang hujan semalam, saya pun hanya memandangi ayah yang sedari tadi melap lembar demi lembar daun tanaman tiga juta rupiah itu. Saya pun sempat berpikir tayamum saja untuk salat subuh tadi, karena tangan ibu sungguh terasa dingin di pergelangan kaki ketika menyuruh saya bangun untuk salat di masjid. Saya semakin beringsut di atas kursi kayu yang dipotong seadanya ini, sambil sesekali melempar pandangan ke langit yang berangsur terang karena matahari semakin meninggi. Justru sinar matahari yang hangat membuat perbedaan suhu ekstrim ketika angin musim basah itu berhembus. Badan saya menggigil dan bersin beberapa kali, tapi ayah masih tampak tekun dan tak terganggu sedikitpun. Seolah sedang memberi makan anak yang lahir dari isterinya, ayah masih tegar di tengah kebun malah mengajak bicara beberapa tanamannya. Memang menurut beberapa majalah tanaman hias yang saya baca, mengajak bicara tanaman yang sedang dirawat akan membawa dampak positif bagi pertumbuhan tanamannya. Tanaman yang diperhatikan baik fisik maupun jiwanya, akan menunjukan pertumbuhan yang sehat dan kuat, seperti seorang remaja yang mengenal nilai-nilai etika dan siap menghadapi hidup dengan semangat yang membara.

“Sepertinya tanaman itu mengerti apa yang ayah ucapkan,” saya menyela untuk menggoda ayah sambil tertawa kecil, “dia mengangguk-angguk dari tadi, mengiyakan semua ucapan ayah.” Tentu saja lembaran daun anthurium itu bergoyang seiring hembusan angin, dan gesekan di antaranya menimbulkan suara berdesir seram seperti semak belukar yang dirambati ular.

“Hahaha… .” Ayah membalas dengan tertawa singkat, tapi tak menoleh samasekali. “Cuma mengikuti ritualnya saja, kok. Mengajak tanaman bicara bukan menuruti arti harfiahnya. Tapi tanaman-tanaman ini tahu bahwa mereka sedang diperhatikan, dirawat dan diberi kasih sayang. Seolah jiwa pemilik dan tanamannya bertransferensi dalam panjang gelombang yang sama, sehingga frekuensi lembut itu mengalun sesuai harmoninya. Amplitudo akan mengalir dalam urutan puncak dan lembah yang tidak terlalu naik dan tidak terlalu turun, dan urutan itu menjadi dinamis di lembaran daun gelombang cinta ini. Sangat sesuai dengan yang tersebut dalam kitab suci, ‘setiap makhluk hidup selalu bertasbih kepada TuhanNya tapi manusia sekalian tidak mengerti.’ Kalau kita mengeluarkan gelombang positif melalui ucapan yang baik, maka diapun akan beraksi positif. Seperti anak kecil yang baru mengenal orang lain, dia tidak akan takut untuk bergaul jika dia disambut dengan tangan terbuka oleh orang-orang di sekitarnya. Karena itu, tanaman ini akan tumbuh dengan baik, selain memang kebutuhan nutrisi dalam medium dan obat anti jamurnya harus cukup.”

Hanya medium anthurium yang berwarna hitam. Medium aglonema, adenium, dan euphorbia di lantai dua kebanyakan berwarna coklat tua. Padahal campurannya hampir sama: cocofin, sekam, bubuk gergaji, arang, sedikit pasir, beberapa genggam pupuk kandang dan obat-obatan dicampur jadi satu. Harus dengan takaran yang seimbang, dan masing-masing dosis bahannya berbeda untuk masing-masing tanaman. Sejak tengah tahun kemarin ayah lebih sering merabuk medium anthurium, dan bisa dipastikan beberapa spesies anthurium mulai berjajar di muka kebun kami. Hanya beberapa caladium diletakkan berdampingan, dan mereka hanya menjadi pemanis saja. Berselang-selang antara jenis caladium pink cloud dan carolyn worthon dengan anthurim jenmanii dan black horse gadungan di barisan depan, lebih dekat ke pagar. Berurutan burgundy, garuda cobra, dan lidah naga menempati tiga pot raksasa di barisan belakang. Saya tidak pernah yakin kalau ayah mampu menumbuhkan sendiri garuda cobra-nya, karena daun garuda cobra lebih memuncak ke atas, tidak tidur seperti milik kami ini. Dalam hati saya menggerutu kepada apa yang ayah lakukan. Mungkin sebaiknya ayah melakukan hal lain yang lebih bermanfaat daripada merawat tumpukan daun ini dan tidak menghasilkan apa-apa kecuali kebun kami yang menjadi penuh sesak dan dingin oleh mereka.

“Memberi perhatian kepada sesuatu mungkin lebih baik daripada melamun. Berimajinasi dan bercita-cita memang diperbolehkan, tapi percuma saja kalau menjadi angan-angan yang tidak realistis, tidak pernah membangun usaha untuk meraihnya, sehingga terbang begitu saja seperti anai-anai ditiup angin,” agaknya ayah menangkap kesan saya yang skeptis daritadi, dan berhasil membaca apa yang saya pikirkan tentang beliau. Melap tumpukan daun ini masih lebih baik daripada menyerah pada udara dingin pagi ini, mungkin begitu yang ingin beliau katakan.

“Kenapa memilih suka anthurium padahal tanaman itu tidak memiliki bunga?”

“Yah, cuma berpikir bagaimana caranya mengisi waktu luang dengan menyenangkan, Nak,” ayah menghentikan pekerjaannya sejenak, lalu mengambil semprotan air yang sudah dicampurinya dengan obat anti jamur.

“Lalu, kenapa anthurium? Bukankah ada tanaman lain yang lebih berwarna karena bunganya?”

“Hahaha… . Sebenarnya ada cerita tersendiri. Kami, ayah dan ibumu, akan bekerja sebagai satu tim dalam aktivitas yang sama di kebun ini. Setiap pagi dan sore, bahkan tengah malam ketika hujan dan angin sempat menimbulkan suara berisik yang merisaukan di kebun ini. Karena kami satu tim, harus bekerja sama merawat tanaman ini. Sama halnya ayah yang setiap pagi sebelum sarapan dan menjelang makan malam harus mengunjungi dapur untuk mengecek kegaduhan apa yang bisa ayah bantu selesaikan, maka ibumu selalu bisa mengajari ayah untuk telaten merawat kebun ini. Tapi ternyata semua itu tidak cukup. Ada yang ingin ayah persembahkan kepada ibumu, kalau-kalau sindroma masa tua mulai menyergap kami. Sesuatu yang cukup sederhana, yang kadang setiap orang tidak mengetahuinya dan membutuhkan penjelasan ekstra panjang untuk orang lain, tapi cukup singkat untuk dimengerti kekasih sendiri.

“Sesuatu yang melambangkan cinta kami bertahun-tahun lamanya diikat dalam sebuah ikatan suci. Sebuah ikatan yang takkan lekang oleh zaman, dan takkan pudar oleh waktu. Ikatan yang mampu melahirkan orang-orang semacam kamu dan adikmu, yang akan mengubah wajah dunia di kemudian hari. Ikatan yang mampu mengajarkan kalian bagaimana menggugah cinta dalam hati setiap orang, pada akhirnya mampu menyadarkan mereka akan kekuatan cinta yang halal, bukan cinta sesaat yang muncul di pagi hari lalu tenggelam di sore hari. Bukan yang ditunjukkan oleh edelweiss, bunga puncak bukit yang terlalu jauh untuk dijangkau, bukan pula oleh euphorbia yang tampak indah tapi sebenarnya menyimpan duri. Dan itulah anthurium, sang gelombang cinta, sebuah perlambang sederhana yang mampu menciptakan gelombang untuk menggetarkan hati sang kekasih.”

Ah, kiranya ayahku sedang dimabuk cinta. Saya mulai memahami mengapa ayah mau bersusah payah merawat tumpukan daun di kebun kami ini. Bukan mereka yang memposisikan diri sebagai tanaman angkuh yang sok kuasa di pot-pot raksasanya, tapi kedalaman makna yang mereka berikan kepada pemiliknya. Mungkin tidak semua penggemar anthurium memahami makna seperti yang dipahami ayahku, karena makna itu sifatnya sangat personal sekali. Tidak heran setiap pecinta selalu egois seperti yang dikatakan Andrea Hirata dalam Laskar Pelangi-nya, tapi itu adalah egoisme yang khas. Egoisme yang patut, karena tumbuh dari cinta yang suci dalam ikatan yang halal.

Saya beranikan melawan hawa dingin angin musim basah ini, karena baru saja mendapat teladan dari kehangatan seorang kepala keluarga. Saya kemudian bergerak meninggalkan kursi kayu, menuju ayah di tengah-tengah kebun. Perlahan saya sentuh satu demi satu lembaran anthurium ini, dan melapnya dengan kapas yang ayah saya berikan. Ayah kemudian tersenyum, dan itu adalah senyuman terindah seolah ayah dan ibu baru saja menikah kemarin sore. Pantas saja mereka bersemangat bekerja sebagai satu tim di kebun kami ini, bahkan sampai tengah malam buta. Karena esok harinya sewaktu berangkat salat subuh, ayah dan ibu akan melihat barisan anthurium sang gelombang cinta di kebun kami, dan dengan demikian cinta mereka akan tumbuh semakin kuat tiap hari dengan akar-akarnya yang menghujam di hati masing-masing.

Dan suatu saat saya akan menanam beberapa tangkai gelombang cinta di kebun saya sendiri.

Blog at WordPress.com.

Up ↑