Search

Katakata Sukasuka

cerita, cita, dan cinta.

Tag

couple

Flashback

Beberapa hari terakhir bagi saya seolah-olah seperti momen untuk flashback. Flashback, merenungi kembali apa yang saya alami dalam sekian tahun terakhir: kehidupan pribadi, bisnis dan karir, termasuk keluarga dan pertemanan.

Iya, memang mellow bagi saya. Belum tentu bagi kamu, duhai pembaca setia blog saya (ciee).
Continue reading “Flashback”

Kartiniku, Penyejuk Hatiku

Kadang menjadi obsesif itu ada gunanya. Kamu tahu obsesif, Bro? Obstruksi saluran fifis. Eh, salah. Obsesif itu memikirkan sesuatu berulang-ulang. Seperti aku yang memikirkan kamu. Iyaa, kamuu. Sampai aku terganggu. Itu obsesif. Kalau belum terganggu, bukan obsesif namanya. Kangen aja. (Ini nulis apa, sih?) Continue reading “Kartiniku, Penyejuk Hatiku”

Buat Sassie

postingan kali ini berawal dari blogwalking yang iseng-iseng, namun akhirnya saya menemukan sebuah berita yang mengejutkan. yakni tentang sassie, seorang blogger yang cukup dikenal di kalangan sesama blogger, member dari IBSN*, sedang berjuang untuk kesehatannya.

sungguh sebuah kejahatan terbesar ketika seorang teman acuh tak acuh kepada temannya.
dan kejahatan terbesar saya adalah mengacuhkanmu.
saya tak pernah melihatmu, tapi entah mengapa energimu sampai kemari.
membubung tinggi, menerobos ruang dan waktu, melampaui batas-batas semu, mengajak semua berpadu untukmu.
energimu betul-betul telah sampai kemari, sie!
itulah energi hidupmu!
dan sesungguhnya kau akan selalu hidup!
hidup, sie!
kau tahu arti hidup, kan?!
kau hidup, sie! hidup!
dan itulah engkau, sie, dengan seluruh energi hidupmu, telah sampai kemari, di setiap sudut hati kami.

berita tentang sassie pada awalnya saya baca di blognya mas langitjiwa. parahnya, saya malah menganggap mereka berdua adalah couple! duh… betapa bodohnya saya… kemudian, blogwalking kesana kemari, akhirnya saya temukan kebenaran beritanya di tulisannya mas nug, seorang yang dipanggil ‘daddy’ oleh sassie. hayyaahh… semoga doa saya belum expired! ya, tak ada kata terlambat untuk sebuah doa!

… .

*IBSN adalah sebuah wadah insan indonesia dalam jaringan internet
dengan berbagai jenis blog platform yang memiliki konsep
keindahan berbagi berbagai hal bermanfaat untuk kebaikan pada
sesama, dengan tujuan untuk membuat hidup ini makin bermakna.
visit Indonesians’ Beautiful Sharing Network

Temanku Ingin Nikah

This story has been legally permitted for publishing in such social network program. Author had the copyrighted writing and everyone can copy-paste this article to response each life as humanity actions. Insya Allah saya sudah minta ijin kepada yang bersangkutan, malah beliau mendukung untuk saya tulis di blog.

True_Love_Forever “Mas, sepertinya aku harus membatalkan janjiku sendiri. Mulai sekarang aku harus memutuskan hubungan dengan dia, karena memang sudah merasa tidak sanggup memegang janji itu lebih lama lagi. Bukan berarti aku putus asa, memang dari beberapa kejadian, sepertinya ada takdir lain yang dipersiapkan untuk kami masing-masing. Aku pada awalnya menaruh harapan yang besar ketika kami punya visi yang sama. Setelah menjalin hubungan, makin lama aku mengenal dia, makin aku mengerti bahwa kami seharusnya saling berdekatan dengan cara lain. Namun aku sama sekali belum siap untuk cara yang baru aku kenal itu. Aku tidak bisa lagi bertahan kalau dalam setahun-dua tahun ini tidak mejalin hubungan sama dia.”

Dia mengatakannya dengan berdiri di ambang pintu kamar saya, dan saya serta merta berhenti blogwalking. Saya mengikutinya menuju kamarnya, lalu kami duduk bersama di depan sebuah nampan berisi roti yang sudah dipersiapkannya. “Kamu serius, Bram?”

“Iya, Mas, Insya Allah. Tadi pagi sudah bicara banyak sama mama. Mama sebenarnya setuju aku nikah, tapi belum siap untuk dananya. Lagipula, aku mulai tidak kuat kalau harus mengambil keputusan bertahan untuk tidak berkomunikasi dengannya sama sekali. Menurutku itu tidak masuk akal.”

Sekitar hampir satu setengah tahun Brama berkenalan dengan gadis itu. Awal perkenalannya cukup unik, yakni melalui Friendster.

Continue reading “Temanku Ingin Nikah”

Pak Dulah, o, Pak Dulah…! (2)

Pak Dulah, o, Pak Dulah…! (1)

Sore itu, secara sengaja Brama membuka pintu kamar kos saya. Tiba-tiba sekali dia. Mukanya datar, seperti biasa. Tapi nada suaranya yang berbeda. “Mas,” panggilnya. Saya tidak segera menoleh. “Ada kabar buruk.”

“Ha? Kenapa?”

“Aku ngga bisa potong rambut lagi.”

“Lho?,” cegek saya. Tapi tetep berusaha co’ol. “Kan emang rambutnya barusan ini dipotong, masa mau potong lagi?” Pagi tadi Brama cerita kalo dia mau tampil lebih ngganteng (menurutnya sih…). Jadi sore ini harus ada perubahan sama rambutnya.

“Aku ngga bisa potong rambut pake gayaku lagi.”

“Emang biasanya kamu pake gaya yah?”

“Ya iya, harus itu.”

“Emang kenapa?”

“Pak Dulah sudah pergi. Baru siang tadi. Jadi aku cari tukang cukur lain.”

“Kapan Pak Dulah balik?”

“Ngga balik, mungkin.”

“Hm, kok bisa? Bukannya dia tinggal sama anaknya di sini yah? Di depan toko mbak jilbab itu kan?”

“Ya, makanya itu. Pak Dulah sudah pergi dan tak kembali. Nanti malam tahlilan.”

“Astagfirullahaladzim. Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun… Kamu tuh, yang jelas donk ngomongnya.”

“Ya, jelas kan? Ngga ada Pak Dulah berarti ngga ada yang bisa motong rambutku sesuai gayaku.”

“Berarti kamu ngga bisa ngganteng lagi?”

“Lho, potong yang tidak sesuai gayanya bukan berarti ngga bisa ngganteng, Mas.”

Apa sih, ngga penting, ah. Saya berdiri dan menepuk punggungnya. Lalu melewati dia yang menuh-menuhin pintu kamar. “Nanti aja ngurusi kenggantenganmu. Pede ngga apa-apa. Tapi jangan kepedean, tauk,” saya berlalu, “kamu asline yo ngganteng. Pak Dulah cuma moles aja.”

Depan rumah Pak Dulah sudah diberi terop. Saya turun ke bawah dan memastikan kabar ke tetangga depan kos. Ternyata benar. Pak Dulah sudah tiada.

Continue reading “Pak Dulah, o, Pak Dulah…! (2)”

Begini Rasanya

Saya pulang kampung berkali-kali, dalam rentang waktu yang cukup singkat, dalam jumlah jarak yang tak terhitung. Tapi baru kali ini saya merasakan betapa sepinya ditinggal pulang kampung.

Place/Date/Time: Pink House/Selasa, 13012009/5:53am

Ternyata begini rasanya. Sepi.

Kawan, jika kau punya seseorang yang dekat denganmu, hampir setiap hari kau merasakan kehadirannya, maka bersiaplah menderita sindroma home alone. Bukan seperti di film yang kau bisa melakukan hal-hal lucu dan cerdik untuk mengelabui pencuri rumahmu, tapi justru kau merasa tak dapat melakukan apa-apa. Jadi home alone di sini maksudnya seperti left behind, meski saya tahu dia tidak bermaksud meninggalkan saya. *ahaha…*

Seolah ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang kosong, tapi tak dapat diisi siapapun, apapun. Mungkin mirip seseorang yang ditinggalkan kekasihnya, sedangkan perasaan cinta itu masih sedang dalam-dalamnya. Bedanya, saya tahu dia sedang tidak meninggalkan saya, dan memang suatu saat pasti kembali. Toh, dia pulang kampung, menunaikan kewajibannya sebagai seorang anak yang berbakti kepada orang tuanya.

Hari ini saya bangun tidur dengan enggan. Enggan mengetahui kenyataan bahwa esok dia sudah harus terbang ke rumahnya. Yang secara jarak memang jauh, meski dapat ditempuh dalam setengah hari saja. Dan kepulangannya tak dapat ditunda barang sedetik pun, kecuali delayed, mungkin karena tukang parkir pesawatnya yang senewen sama pilotnya gara-gara sang pilot kehilangan karcis parkir pesawatnya. Tapi tampaknya begitulah pesawat si raja singa itu, ga delayed ga berangkat.

Bahkan malam sebelumnya saya tidak ingin tidur, karena tidur adalah fase tidak sadar, artinya saya menjadi tidak waspada pada saat-saat kepulangannya. Ditambah lagi, hari selasa pekan sebelumnya dia mengabarkan bahwa rabunya dia sudah harus berangkat, sementara kami sudah cukup lama *sekitar lebih dari 3 hari, haha* belum bertemu. Saat itu saya lemas seketika, dan hal ini cukup menjadi alasan untuk bolos hari ini. *dasar patol*

… .

And i’m still waiting for next 1 month. 😉

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑