Search

Katakata Sukasuka

cerita, cita, dan cinta.

Tag

cinta

Flashback

Beberapa hari terakhir bagi saya seolah-olah seperti momen untuk flashback. Flashback, merenungi kembali apa yang saya alami dalam sekian tahun terakhir: kehidupan pribadi, bisnis dan karir, termasuk keluarga dan pertemanan.

Iya, memang mellow bagi saya. Belum tentu bagi kamu, duhai pembaca setia blog saya (ciee).
Continue reading “Flashback”

AADC 2: Lesson Learned about Love and Friendship (1)

Oke. Tulisan ini nggak dimaksudkan untuk spoiler. Tapi, dimaksudkan untuk…….spoiler. Xixixi. Mo gimana lagi. How can I post about lesson learned without being spoiler? Buat yang udah nonton, anggap tulisan ini sebagai review. Yang belum nonton, silakan meratapi nasib. Nah! Continue reading “AADC 2: Lesson Learned about Love and Friendship (1)”

Kartiniku, Penyejuk Hatiku

Kadang menjadi obsesif itu ada gunanya. Kamu tahu obsesif, Bro? Obstruksi saluran fifis. Eh, salah. Obsesif itu memikirkan sesuatu berulang-ulang. Seperti aku yang memikirkan kamu. Iyaa, kamuu. Sampai aku terganggu. Itu obsesif. Kalau belum terganggu, bukan obsesif namanya. Kangen aja. (Ini nulis apa, sih?) Continue reading “Kartiniku, Penyejuk Hatiku”

Pelajaran Move On dari Driver Gojek

Jujur, saya belum pernah sekalipun mencoba layanan Gojek, menginstall aplikasinya, apalagi mem PHP Mbak-mbak driver Gojek itu. Serius, belum pernah. Kecuali kalo mbak-mbak itu baper (bawa perasaan), ya sorry to say, biasanya saya ngga sengaja mem PHP. Haha.
Continue reading “Pelajaran Move On dari Driver Gojek”

Tuhan sudah Membuatkan Sebuah Pintu

Beberapa waktu lalu saya nonton “500 Days of Summer” di sebuah stasiun TV kabel. Ternyata Summer adalah salah satu nama tokoh perempuan, dan pasangan tokohnya adalah Tom. Saya tidak mengikuti semua ceritanya, hanya beberapa scenes terakhir. Tapi justru ada makna mendalam di sana. Continue reading “Tuhan sudah Membuatkan Sebuah Pintu”

Ketika Cinta tak lagi Penting dalam Pernikahan (2)

Beberapa waktu lalu saya ngobrol sama adik kelas saya, sebut saja Daffodil (karena Mawar sudah terlalu mainstream). Yah, Daffodil (27). Meski tak laik sebut usia di sini, setidaknya saya membantu dia untuk merasa matang, agar segera menikah. Hehe. Continue reading “Ketika Cinta tak lagi Penting dalam Pernikahan (2)”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑