Search

Katakata Sukasuka

cerita, cita, dan cinta.

Tag

brain

Perdarahan Otak: Kasus Mandhe

BrainHerniation Inilah yang terjadi pada Mandhe: perdarahan otak. Seperti pada ilustrasi, warna merah menunjukkan lokasi perdarahan pada otak.

Lihat, batas otak dan darah demikian tegas, ini berarti selaput otak masih utuh. Lalu, darimana sumber perdarahannya?

Tak lain berasal dari pembuluh darah yang ada di antara tempurung dan otak. Jenis perdarahan inilah yang disebut dengan “epidural hematoma”, alias penumpukan darah pada selaput epidural.

Perdarahan otak jenis ini termasuk yang paling berbahaya. Pembuluh darah di sana termasuk pembuluh darah besar yang menyebabkan darah mengucur terus-menerus apabila terluka.

Meski pada awalnya kecil dan penderita tampak segar bugar, seperti pada Mandhe, namun perdarahan yang tak kunjung berhenti menyebabkan pendesakan pada jaringan otak.

Continue reading “Perdarahan Otak: Kasus Mandhe”

Dua Sistem Arteri untuk Otak

Otak kita dirawat oleh dua sistem peredaran darah. Yakni sistem karotis yang terdapat di leher bagian depan dan sistem vertebrobasilaris yang terdapat pada leher bagian belakang.

Karena dua sistem arteri ini, pantas saja hewan kurban masih bisa lari-lari meski sudah disembelih begitu rupa. Pun, hukuman mati yang paling menyiksa ya hukum gantung. Demikian juga hukum tembak sampai mati yang ada di Indonesia. Otak kita belum sepenuhnya rusak pada 3 menit pertama, karenanya masih bisa merasakan sakit. Maka hukuman mati yang paling efektif ya hukum pancung karena secara total memotong dua sistem arteri tersebut. (Baiklah, bicara soal efektivitas hukuman mati tidak kita bahas di sini.)

Continue reading “Dua Sistem Arteri untuk Otak”

Transient Ischemic Attacks

Bapak kos kami terhuyung begitu saja dari tangga. Jagung untuk makanan burungnya berhamburan, airnya tumpah ke mana-mana. Beliau serta merta kami tangkap, dan kami bertiga jatuh bersama-sama, tertimpa tangga pula.

Tiba-tiba pandangannya kabur, tangan kanannya lemah sesaat. Tahu-tahu beliau jatuh. Bapak kos kami (L, 44) merasakan gelap sesaat, dan di antara gelap itu dia masih sempat meraih anak tangga, tapi tenaganya tidak cukup untuk mempertahankan berat tubuhnya. Dia hilang kesadaran, terhuyung berputar ke tepi tangga, badannya melayang di udara… sesaat kemudian dia bangun dan kami tergencet di bawahnya, kesakitan.

Tidak ada mual muntah, tapi mukanya pucat. “Pusing, Pak?”

“Engga…” ujarnya sambil memijit-mijit lengan kanannya.

“Kenapa, Pak?”

“Ngga tahu. Kok tangan saya ngga kerasa, ya?”

Continue reading “Transient Ischemic Attacks”

Blog at WordPress.com.

Up ↑