Search

Katakata Sukasuka

cerita, cita, dan cinta.

Tag

bangsa

(Jangan) Ganyang Malaysia!

malaysia and indonesia

Postingan kali ini adalah direct posting dari komen saya terhadap notes FB teman, dengan sensor seperlunya.

Ternyata bahasa Indonesia lebih indah lho!!!
Setelah melakukan pengamatan bertanya sana-sini waktu Tour di KL.
Berikut rangkuman yg sempat tercatat.

INDONESIA : Kementerian Hukum dan HAM
MALAYSIA : Kementerian Tuduh Menuduh Continue reading “(Jangan) Ganyang Malaysia!”

Skenarionya Berhasil?

kevin-daniel-howling-wolves

Asas praduga tak bersalah ternyata tidak berlaku di masyarakat.

Dunia semakin gila. Entah bagaimana yang terjadi di luar sana, yang jelas ini betul-betul terjadi di negara kita. Apakah skenarionya berhasil?

Continue reading “Skenarionya Berhasil?”

Indonesiaku: Figur, Wakil Rakyat, dan Partai

images pemilu Kita berhimpun dalam barisan.
Lantangkan suara hati nurani.
Agar negeri ini berkeadilan.
Indonesia maju bukan hanya mimpi.

Sampai sekarang saya tidak pernah mempercayai bahwa seorang, dan hanya seorang, mampu mengubah Indonesia sepenuhnya.

Namun saya percaya sepenuhnya bahwa ketika seseorang itu mampu mengubah dirinya dan keluarganya, maka ia mampu mengubah masyarakatnya. Dan dalam tahapan selanjutnya, mengubah negaranya. Tentunya, dalam konteks ini, ke arah yang lebih baik.

Dan saya—agaknya ungkapan saya berlebihan—makin lama makin muak ketika ada salah satu atau salah dua atau beberapa partai terlampau mengagungkan figur di kelompoknya. Bagi saya, semuanya sungguh mustahil bagi seorang calon wakil rakyat menyandarkan kepopuleran diri—sebut saja begitu—untuk benar-benar optimal bekerja mewakili rakyat nantinya. Karena bekerja untuk rakyat perlu sebuah independensi. Bahkan harus. Bahkan kepada figur separtai pun. Independensi, ketidakberpihakan, harus dijunjung tinggi terhadap segala sesuatu yang tidak berpihak kepada rakyat.

Terlebih, seorang wakil rakyat bukan cuma berfungsi sebagai mulut rakyat. Melainkan juga tangan dan kaki rakyat. Otak rakyat. Hati dan jiwa rakyat. Setiap mereka memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin, yakni memimpin rakyat dari daerah pilihan masing-masing. Mengapa? Karena mereka bertanggung jawab penuh seputar pemberdayaan rakyat yang mereka wakili. Mereka harus sanggup menjadi supir bis yang patuh aturanNya dalam berlalu-lintas, dan mengantarkan rakyat hingga sampai ke tujuan yang semestinya, yang diridhoiNya. Dan tentu saja, mereka seharusnya adalah pemimpin-pemimpin rakyat yang mampu menggerakkan hati-pikiran-tubuh segenap rakyatnya untuk bersama berjuang demi kemajuan bangsa ini.

Seorang wakil rakyat bukanlah mereka yang memberikan ikan. Bukan sekedar memperjuangkan BLT, ASKES-Maskin, dan sebagainya, melainkan harus sanggup memajukan dan memandirikan rakyat yang diwakilinya. Merekalah pemberi kail, yang sanggup melatih keluarga-per-keluarga rakyatnya untuk mandiri, berdiri di atas kaki sendiri, untuk memakmurkan dirinya dan keluarganya dengan cara-cara yang halal dan terhormat, untuk kemudian menuju pemberdayaan masyarakat yang seutuhnya. Dengan demikian, perubahan bangsa ini dimulai dari sektor terkecil yakni keluarga. Ya, keluarga kecil yang sederhana, berkecukupan, mandiri, menjalin silaturrahim, dan terdidik.

Baru kemudian kita bicara soal mengubah bangsa. Dan untungnya, bangsa yang besar ini tersusun dari himpunan-himpunan kecil keluarga dalam RT, RW, kelurahan, kecamatan, kota madya atau kabupaten, dalam suku-suku, dalam rimba ataupun kota. Maka, perubahan bangsa ini tentu saja harus dilakukan secara simultan dari tingkat mikro hingga makro. Dan usaha perubahan bangsa ini tidak bisa dilakukan oleh seorang figur sendirian. Seorang figur hanyalah simbolisasi, dan bagi saya sangat bodoh siapapun yang mengagungkan sesosok figur dalam kampanye dengan harapan mendulang simpati dari rakyat. Untuk menjadikan rumah kita makin bersih, sapu lidi lebih berfungsi jika diikat bersama-sama dan mudah dipatahkan bila bergerak sendiri-sendiri.

Karenanya, saya lebih mempercayai mereka-mereka yang telah berhasil membangun keluarganya, menjadi teladan di masyarakatnya, untuk kemudian secara berjamaah membangun negaranya. Ya, secara berjamaah, dimana musyawarah menjadi kekuatan inti pergerakan partainya (bahkan musyawarah adalah nilai yang ditanamkan pada saya semenjak eSDe!), ditunjang oleh keistiqamahan kadernya dalam keharibaan rindu surga Tuhannya untuk melayani rakyatnya.

Saya sepenuhnya yakin dan meyakinkan siapapun untuk tidak memilih partai yang mengagungkan figur belaka. Melainkan silakan memilih partai yang memiliki sistem jamaah yang baik (bukan sekedar hasan—baik, tapi ahsan—terbaik!). Karena mereka memiliki sistem pelayanan yang menyeluruh, holistik, kader mereka tersebar di berbagai bidang di masyarakat, sehingga pemberdayaan itu lebih mudah dicapai. Sekali lagi, ibarat sapu lidi, batang-batang yang liat dan lentur itu lebih bisa berdayaguna bila diikat dalam jamaah.

Sehingga saya menjadi yakin, golput bukanlah jalan terbaik pada masa-masa sekarang ini. Karena golput cenderung memubadzirkan kebaikan yang seharusnya bisa kita persembahkan kepada bangsa dan negara.

Semoga Allah meridhoi bangsa ini.

Wallahu alam bishawab.

Kenapa Fatwa Dipermasalahkan?

Logo_MUI

Saya tidak tahu persis asal muasal kenapa golput diharamkan, namun sepertinya ada pemberitaan yang timpang di media massa. Saya berusaha ambil sisi positifnya saja.

Mayoritas penduduk indonesia adalah muslim, sedangkan MUI punya kewajiban melayani mereka supaya akidah umat muslim di negara ini tetap terpelihara dengan baik. Sehingga konsekuensinya adalah, MUI harus memastikan umat muslim ini menjalankan risalah agamanya dengan sebaik mungkin.

Kalo ga salah, dalam surat Al Maidah sekitar ayat 40-50an, banyak dibahas tentang pemimpin, memimpin, dan dipimpin. Terutama ayat 55, disitu disebutkan, “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).”
*perlu ditekankan, pengertian dan penilaian beriman, salat, zakat, dan tunduk, tentu saja sesuai dengan yang dituntunkan Allah dan RasulNya* Sehingga berdasar ayat ini, inilah kriteria pemimpin yang patut dipilih umat muslim.

MUI melihat, permasalahan bangsa bukan sekedar milik satu-dua orang saja, melainkan permasalahan bagi segenap muslim di dalamnya. Karenanya, segenap muslim hendaknya memberikan perhatian terhadap permasalahan bangsa.

Dan permasalahan bangsa itu, secara teknis dalam konteks kenegaraan dimulai dari Pemilu. Maka setiap muslim, harus memilih pemimpin yang sesuai dengan kriteria yang disebutkan dalam ayat tadi. Jadi, ini bukan sekedar masalah halal-haram, melainkan urgensi memilih pemimpin yang patut dipilih sesuai tuntunan Allah dalam Alquran.

Seingat saya juga, fatwa tentang golput ini ada dua poin besar:
1. Setiap muslim wajib memilih pemimpin dengan kriteria seperti disebutkan dalam ayat tadi.
2. Haram hukumnya apabila memutuskan untuk tidak memilih padahal ada pemimpin yang ternyata sesuai dengan kriteria tadi.

Maka, ada dua hal yang ternyata menjadi esensi dari fatwa MUI ini:
1. Permasalahan bangsa adalah permasalahan umat muslim, sehingga selaku umat yang mayoritas, semestinya mau dan mampu bersatu untuk berpadu memberikan solusi terbaik, bukan malah saling mengecam saudaranya sendiri. Secara teknis, dengan memilih pemimpin yang layak untuk dipilih melalui pemilu.
2. Setiap muslim juga harus mau dan mampu mencari baik secara mandiri maupun bersama-sama profil dari para calon pemimpinnya. Banyak cara yang bisa ditempuh. Banyak blog dan social network program yang bisa di browse. Banyak search engine yang bisa dijajal. Banyak orang yang bisa diajak diskusi. Yang jelas, sebaiknya mencocokkan apa yang terjadi di lapangan dengan yang dipromosikan oleh para calon tersebut. Dengan demikian, setiap muslim tidak menilai dari superfisialnya saja, dan berlepas dari ghibah dan fitnah terhadap saudaranya sendiri.

Yah, demikianlah soal golput. Soal fatwa rokok, setahu saya juga masih dalam tahap ikhtilafiyah, antara makruh atau haram *bukan mubah atau bahkan sunah dan wajib!* Mengenai nasib beribu karyawan pabrik rokok, sudah menjadi kewajiban bagi pemerintah dan segenap lapisan masyarakat untuk mencarikan pekerjaan. Toh, Allah banyak menebarkan rizkinya di muka bumi ini, dan tak akan habis dicari. Sekarang hanya masalah mau atau tidak kita mencari. *Sekali lagi, kebanyakan kita melihat nasib karyawan pabrik rokok hanya dari sudut pandang masalah saja. Coba buka mata-otak-hati lebar-lebar, masih banyak kok pekerjaan di luar sana, euy…*

Saya mendapat bahan tulisan ini dari ceramah jumat di kampus yang diisi oleh Ustad Fuad Amsyari. Tidak bermaksud mempromosikan beliau, namun jika pembaca menginginkan jawaban yang langsung dari pakarnya, silakan kontak beliau. Daripada kita berputar-putar pada pembahasan yang selalu bernada menyudutkan saudara sendiri, akhirnya hanya sirkumstansia yang kita dapat.

Maap jika tidak berkenan dengan tulisan ini…
Mohon koreksi, yah…

Terimakasih.;)

… .

IBSN adalah sebuah wadah insan indonesia dalam jaringan internet
dengan berbagai jenis blog platform yang memiliki konsep
keindahan berbagi berbagai hal bermanfaat untuk kebaikan pada
sesama, dengan tujuan untuk membuat hidup ini makin bermakna.
visit Indonesians’ Beautiful Sharing Network

Indonesiaku…

Diposting setelah menyaksikan Republik Mimpi, membahas tentang singkatan ABS, tapi posting ini OOT banget dari ABS… hehew…

1219101715indonesia08 "Itulah Indonesia…"

Ngaret, jarang tepat waktu, sering melupakan janji tentang waktu, meremehkan waktu, lalai akan waktu, tidak bisa memperkirakan waktu, bla bla bla…

semua alasan tentang waktu.

"Maap, aku belum bisa ngatur waktu…"

seribu satu rasionalisasi tawaran jadi mentah hanya dengan kalimat, "Waduh, aku belum ada waktu untuk itu. Aku masih harus banyak belajar. Aku masih belum bisa ngatur waktu buat nambahin kerjaan lagi."

Ngaret. Lelet. Mbambet. Lambretta labamba. "Itulah Indonesia…"

Ada orang Indonesia sendiri yang bilang, "Yah, itulah Indonesia…," lalu kamu siapa..

Ada manusia Indonesia sendiri bilang,

"Aku ngga suka negeri ini. Korupsi dimana-mana, rakyat miskin tambah miskin, sumber alam yang tersedot oleh perut-perut birokrat, solidaritas sesama yang rendah, penanganan korban bencana yang lambat,…"

"Bahkan Putri Indonesianya cuma bisa berpakaian khas Indonesia tanpa berkepribadian Indonesia…"

"Aku tidak suka Indonesia…"

Lalu, Anda-Anda yang berkata seperti itu, silakan ganti kewarganegaraan deh. *tapi agaknya saya setuju soal Putri Indonesianya yang kadang seleksinya terkesan ala kadarnya. hehe… maap….*

Continue reading “Indonesiaku…”

Blog at WordPress.com.

Up ↑