Search

Katakata Sukasuka

cerita, cita, dan cinta.

Tag

album ketiga

Urusan Perut Si Emak

Ingin rasanya saya batalkan saja pertemuan petang kemarin, supaya bisa menulis postingan ini dengan lebih leluasa. Apalah dikata, pinta sudah bersambut, kata sudah terangkai, tidak mungkin saya membatalkan secara sepihak saja. Apalagi itu sudah janji.

Penjual_Gudeg [wiki] Sore kemarin saya kembali ke kosan dalam keadaan kehujanan, lapar, perut belum terisi nasi dari pagi. Karena ada perubahan rencana, petang ini juga saya harus kembali lagi ke rumah sakit. Daripada pingsan di tengah jalan, saya putuskan untuk mampir di warung makan tak jauh dari ruang rawat inap.

Terkagetlah saya, karena warung itu tak tampak sempurna seperti biasanya. Persis seperti gerobak yang terpotong dua, meja hanya tinggal sebiji, kursi plastik dua buah—itupun yang tak layak duduk karena penyok, dan kardus yang disusun terbalik di atas meja. Di atas kardus itu terdapat beberapa bungkus nasi yang disusun seperti piramida. Yang lebih mengejutkan, karena gerimis yang tak kunjung berhenti sejak sore tadi, emak penjual nasinya melindungi semua dagangannya itu dengan payung ala kadarnya. Dia sendiri tidak berpayung, hanya mengandalkan topi jeraminya yang lebar yang pernah didapatnya dari seorang pelanggan. Dia tidak duduk, lebih tepatnya ndhodhok di pinggir trotoar. Untuk melawan angin yang semilir dingin, aduhai, tas kresek yang dimodifikasinya tampak seperti formalitas saja untuk disebut jas hujan. 

Habis obrakan, Nak,” ujarnya sambil terkekeh. Gigi serinya tinggal tiga, dua di atas satu di bawah.

Continue reading “Urusan Perut Si Emak”

Oh, Maap, Saya Hanya Sedang Tidak Tahan

imageAda yang bilang kalau menulis itu adalah proses meluapkan perasaan si penulis. Ada juga yang bilang, penulis sedang bermain-main dengan perasaan orang lain, yang sedang dimasukkan menjadi perasaannya sendiri, hingga ia menulis seolah-olah itu adalah perasaannya sendiri. Saya pernah melakukan proses yang kedua, dimana saya bukanlah tokoh utama, tapi dalam tulisan saya menggunakan kata ganti ‘saya’ supaya lebih menjiwai perasaan orang lain yang sedang saya perankan. Tapi dalam tulisan ini, kata ganti ‘saya’ tidak lain adalah diri saya sendiri.

Continue reading “Oh, Maap, Saya Hanya Sedang Tidak Tahan”

Blog at WordPress.com.

Up ↑