Search

Katakata Sukasuka

cerita, cita, dan cinta.

Category

pernyataan sikap

Homoseks: Antara Problem, Stigma, dan Pup

Baiklah. Artikel ini sengaja ditulis sebagai wujud kegelisahan saya terhadap isu LGBT akhir-akhir ini. Lama saya merenung, bagaimana sebenarnya sudut pandang kita terhadap hal ini. Alhamdulillah, sejauh ini Indonesia tidak sampai melegalkan LGBT. Naudzubillah, jangan sampai. Continue reading “Homoseks: Antara Problem, Stigma, dan Pup”

Kebodohan Prabowo

Ada yang bisa mengkonfirmasi kebodohan ini? Tulisan di bawah murni copas dari grup whatsapp dan BBM.

KEBODOHAN PRABOWO:

1. BODOH karena diam saja saat dihina dan difitnah oleh jendral-jendral tua, padahal bukan kau pelakunya.

2. BODOH, mendirikan asrama untuk pelatihan nelayan, peternak dan petani tapi tidak minta diekspos oleh media.

3. BODOH, membeli bisnis perusahaan kertas raksasa namun pailit yang berpotensi kerugian hingga 1 Trilyun hanya agar kerugian tidak ditanggung negara.

Continue reading “Kebodohan Prabowo”

Tulus Cinta di Matanya

Saya copas tulisan berikut dari grup whatsapp. Selamat menikmati. 🙂

“Kutatap tulus cinta di matanya”

Reaksi jenderal yang dahulu kusangka agresif dan kejam, sungguh diluar dugaan. Tak sekalipun dia menyerang memojokkan lawannya. Tak pula dia menyindir atau menatap sinis lawan debatnya. Bahkan tak segan dia memuji, menghormati pendapat rivalnya.

Saat dipojokkan kembali dengan isu HAM yang menderanya dan membunuh karirnya 16 tahun lalu, dia bisa saja memojokkan kembali dengan menjawab: “Tanya kepada bu Megawati, mantan presiden yang pernah mengangkat saya sebagai Cawapres 2009”? Atau bertanya kembali, “Kenapa Pak JK sendiri tidak adili saya waktu Bapak menjabat Wakil Presiden?”

Tapi tidak. Memojokkan bukan sifatnya, tidak ada dalam jernih pikirannya. Mungkin karena begitulah sifat ksatria. Sifat seorang negarawan. Maka dia hanya berkata: “Tanyalah kepada atasan saya”.

Atasan yang kita semua tahu persis berada justru di kubu Pak JK sendiri.

Continue reading “Tulus Cinta di Matanya”

Manajemen Tukang Cukur #SaveRisma

Tahun baru kemarin baru pertama kalinya warga Surabaya menikmati perayaan tahun baru yang tidak biasanya, dimana walikota kami mengosongkan empat ruas jalan utama untuk Car Free Night. Ketika menikmati hiruk pikuk tahun baru lalu di salah satu ruas jalan, salah seorang kolega saya berkomentar, “Bu Risma ini manajemennya kayak manajemen tukang cukur. Semua dikerjain sendiri.”

Continue reading “Manajemen Tukang Cukur #SaveRisma”

Dahlan Iskan: Berkubang dalam Lumpur?

Seekor kerbau, senang berkubang dalam lumpur untuk membersihkan dirinya dari kotoran-kotoran. Kutu, yang cukup parasit untuk kulitnya itu, akan terkikis bersama kulit arinya ketika berkubang dalam lumpur. Kerbau tidak bisa mengandalkan burung untuk membersihkan keseluruhan kutu di tubuhnya. Kalaupun bisa, kurang cepat. Keburu gatal. Kalaupun cepat, kurang bersih. Masih gatal.

Continue reading “Dahlan Iskan: Berkubang dalam Lumpur?”

Diperjuangkan atau Diikhlaskan?

Ketika aku memperjuangkan sesuatu, pada satu titik aku juga harus belajar mengikhlaskannya. – Mas NR.

Suatu ketika saya mengetahui bahwa seorang kakak kelas, yang telah lulus sebagai psikiater, kembali ke departemen kami sebagai staf dosen muda. Saya senang bukan main. Bukan apa-apa, karena sejak menjadi chief (tingkat akhir pendidikan, kakak kelas yang paling senior), ia adalah senior yang paling bersahaja, paling senang mendengarkan adik-adik kelasnya berkeluh kesah, dan paling pertama yang memberikan jalan keluar kepada kami yang masih junior ini. Ibarat spons, ia lah yang menyerap semua gundah gelisah kami tanpa terkecuali, tanpa sedikitpun ia merasa terbeban.

Saya ingat ia ingin memperdalam psikiatri anak, dan mendapat brevet konsultan dari bidang tersebut. Saya suatu kali pernah melihat surat rekomendasi untuk menempuh jenjang pendidikan itu di Jakarta, dan setelah menyelesaikannya, maka ia kembali ke Manado tempat asalnya. Oleh karena itu, kehadirannya di Surabaya sebagai staf dosen muda, merupakan kejutan tersendiri bagi kami. Sempat saya bertanya, haruskah ia menunda cita-citanya sebagai psikiater anak itu, dengan pindah tempat kerja di Surabaya.

Continue reading “Diperjuangkan atau Diikhlaskan?”

Blog at WordPress.com.

Up ↑