Search

Katakata Sukasuka

cerita, cita, dan cinta.

Category

dreams

Diperjuangkan atau Diikhlaskan?

Ketika aku memperjuangkan sesuatu, pada satu titik aku juga harus belajar mengikhlaskannya. – Mas NR.

Suatu ketika saya mengetahui bahwa seorang kakak kelas, yang telah lulus sebagai psikiater, kembali ke departemen kami sebagai staf dosen muda. Saya senang bukan main. Bukan apa-apa, karena sejak menjadi chief (tingkat akhir pendidikan, kakak kelas yang paling senior), ia adalah senior yang paling bersahaja, paling senang mendengarkan adik-adik kelasnya berkeluh kesah, dan paling pertama yang memberikan jalan keluar kepada kami yang masih junior ini. Ibarat spons, ia lah yang menyerap semua gundah gelisah kami tanpa terkecuali, tanpa sedikitpun ia merasa terbeban.

Saya ingat ia ingin memperdalam psikiatri anak, dan mendapat brevet konsultan dari bidang tersebut. Saya suatu kali pernah melihat surat rekomendasi untuk menempuh jenjang pendidikan itu di Jakarta, dan setelah menyelesaikannya, maka ia kembali ke Manado tempat asalnya. Oleh karena itu, kehadirannya di Surabaya sebagai staf dosen muda, merupakan kejutan tersendiri bagi kami. Sempat saya bertanya, haruskah ia menunda cita-citanya sebagai psikiater anak itu, dengan pindah tempat kerja di Surabaya.

Continue reading “Diperjuangkan atau Diikhlaskan?”

Merayu Allah: Meraih Cita-cita dalam Lima Hari!

image

“Aku sesuai dengan persangkaan hambaKu.”
____
Hadist Qudsi.
… .

———————————————————————————————-
Disclaimer:

1. Artikel ini dibuat hanya untuk berbagi tentang apa yang saya alami. Hasil bisa berbeda pada masing-masing orang. Tentunya, jika Anda yakin berhasil, insyAllah berhasil. Kan Allah sesuai dengan persangkaan hambaNya.

2. Karena punya hasil yang berbeda untuk masing-masing orang, saya harap para pembaca sekalian sudi untuk berbagi pengalaman dengan komen dalam artikel ini, atau kirim ke email saya di algristianhafid@gmail.com.

Selamat Mencoba!
———————————————————————————————-

Saya punya resep doa. Pengalaman saya, dalam lima hari saya terapkan, saya mendapat apa yang saya cita-citakan. Seperti menulis buku kedua. Begitu saya ingin dan saya panjatkan dalam doa, alhamdulillah di hari keenamnya dapat tawaran untuk menulis.

Ini salah satu contoh kecil. Masih banyak contoh yang lain. Setidaknya, meski cita-cita itu tak langsung diberikan, Allah menunjukkan jalannya untuk kita raih cita-cita tersebut.

Ingin tahu? Lanjutkan bacanya!

Continue reading “Merayu Allah: Meraih Cita-cita dalam Lima Hari!”

Infaq Seribu Rupiah: Jebakan “Keikhlasan”

Yak.. Berikut adalah komen beberapa teman terhadap status fesbuk saya.. Cekidot, gan! Hehehe..

image

Spontan saya langsung nge-like semua komen di sana. Semuanya bener. Ngga ada yang salah. Keikhlasan tidak ditentukan dengan nominal infaq yang kau keluarkan. Keikhlasan adalah sebuah rahasia antara hamba dengan Sang Pemilik Hati. Maka bukan kewenangan saya untuk menilai keikhlasan seseorang, apalagi dari infaq dan gaji. Hoho..

Namun, jika kita bisa berinfaq dengan nominal lebih besar, kenapa tidak?

Continue reading “Infaq Seribu Rupiah: Jebakan “Keikhlasan””

Idealisme Itu Butuh Duit, Gan!

demo

Sebut namanya dokter Diaz. Dia bercita-cita semua pasien yang berobat padanya gratis. Dia tak ingin mengandalkan penghasilannya dengan menarik bayaran dari orang sakit. Dia tidak ingin menetapkan tarif. Kalaupun dia menerima upah, itu hanya ucap terimakasih dari pasiennya. Sekali lagi, dokter Diaz menerima upah atas jasanya bukan karena tarif.

Continue reading “Idealisme Itu Butuh Duit, Gan!”

Pemira Tanpa Partai, Mungkinkah?

Empat tahun lalu, merupakan tonggak bersejarah pergerakan mahasiswa UNAIR. Ketika pemilihan umum raya (PEMIRA) mahasiswa UNAIR pertama kalinya diselengarakan. Pemira ini diawali dengan terbentuknya Konstitusi 2000 yang menjadi dasar bagi hampir setiap bentuk gerakan mahasiswa intra kampus.

Konstitusi hasil musyawarah itu, dihasilkan melalui kesepakatan perwakilan mahasiswa dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) se-Unair dan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas (BEM F) serta Badan Legislatif Mahasiswa Fakultas (BLM F) se-Unair.

Tanggal 23-25 April 2004 melalui Musyawarah Mahasiswa (Musma) Unair di Asrama Haji Surabaya yang dihadiri oleh perwakilan UKM, BEM dan BLM Fakultas serta Komite Pembentukan Komisi Pemilihan Umun Mahasiswa (KPKPUM), disepakatilah Peraturan Pemira Unair. Setelah Musma Unair, KPUM mulai bertugas untuk melaksanakan Pemira Unair sesuai Peraturan Pemira Unair. KPUM ini terdiri dari 7 orang anggota. Mereka dipilih melalui open recruitmen oleh KPKPUM. Tentu saja mereka kemudian diangkat setelah fit and proper test oleh tim dosen yang ditunjuk oleh rektorat.

Continue reading “Pemira Tanpa Partai, Mungkinkah?”

Pertanyaan Seputar Pemira Tanpa Partai

1.Mengapa tidak menggunakan sistem partai? Karena kampus kita tidak memperbolehkan partai berdiri hingga waktu yang tidak ditentukan. Partai harus bubar setelah PEMIRA berakhir. Kenyataannya, banyak di antara anggota legislatif (anggota BLM) yang tidak aktif berasal dari unsur partai. Pertanggungjawaban partai tidak akan bisa diminta karena partai bubar. Akibatnya, keaktivan seorang anggota legislatif hanya bisa dipertanggungjawabkan secara moral, tidak secara hukum. Seorang anggota legislatif yang tidak aktif hanya bisa diingatkan, tidak bisa ditindak secara hukum, misalnya meminta partai yang bersangkutan melakukan recalling untuk mengganti anggota legislatif unsur partai yang bermasalah.

2.Mengapa tidak kita usulkan saja aturan yang membuat partai boleh exist sampai kapan pun, seperti di UGM? Ini lingkungan akademik. Lingkungan pendidikan, bukan politik. Kalaupun kita jadikan politik sebagai ajang pendidikan, politik seperti apa yang kita pelajari? Prof. Narko, ex-warek III pernah berkata, “Ini lingkungan akademik, biarlah terjaga kemurniannya.” Kita berharap pendidikan di sini untuk semua, merata dan lestari kemajuannya, tidak terganggu oleh kepentingan beberapa pihak saja. Artinya, mahasiswa yang menjadi salah satu penentu keberhasilan akademik tidak terkotak-kotak karena golongan dalam partai-partai. Empiris mengatakan, pemira menjadikan mahasiswa terkotak-kotak dalam golongan-golongan. Ini hal yang lebih melelahkan daripada PBL. Karena yang diperebutkan kurang nyata dibandingkan kegiatan akademik-non akademik lainnya. Banyak jajak pendapat yang kami lakukan menyebutkan, hiruk-pikuk PEMIRA tidak terbayar karena kontribusi BEM-BLM tak tampak dalam dinamika kampus.

Continue reading “Pertanyaan Seputar Pemira Tanpa Partai”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑