Oase Hati
Lihat tulisan saya yang lain untuk Oase Hati >>
Menyendiri, Sendiri
Jika agama ini ibarat obor yang menemani saya sepanjang menempuh jalan gelap gulita, maka saya memegang obor itu saat saya merasa membutuhkan saja. Asy-Syatibi pernah berkata ketika membedakan kualitas amalan seorang muslim, terbagi menjadi dua golongan besar:
“Kelompok pertama keadaannya seperti orang yang beramal karena ikatan iman dan islam semata. Kelompok kedua keadaannya seperti orang yang beramal karena dorongan rasa takut dan harap atau cinta. Orang yang takut akan tetap bekerja kendatipun terasa berat. Bahkan rasa takut terhadap sesuatu yang lebih berat akan menimbulkan kesabaran terhadap sesuatu yang lebih ringan, kendatipun tergolong berat. Orang yang memiliki harapan akan tetap bekerja meskipun sulit. Harapan-harapan akan kesenangan di masa depan akan menimbulkan kesabaran dalam menghadapi kesulitan. Orang yang mencintai akan bekerja mengerahkan segala upaya karena rindu kepada kekasih, sehingga rasa cinta ini mempermudah segala kesulitan dan mendekatkan segala yang jauh…” (Al-Muwafaqat, Asy-Syatibi, 2/14.)
Persis, saya ada di kelompok pertama. Ketika beribadah, baik horizontal maupun vertikal, masih sebatas karena ikatan keagamaan saya. Masih ritual, formalitas. Bagaimana mungkin saya menganggapnya hanya sekedar ritual di hadapanNya, sedangkan Dia selalu melihat?
Hal yang sangat penting dalam kehidupan seorang muslim ialah pembinaan mahabatullah di dalam hati, karena ia merupakan “mata air”. Adalah mahabatullah, cinta kepada Allah, yang sanggup memunculkan pengorbanan dan jihad, di samping asas setiap akhlak yang bergelora dengan benar. Tetapi ia tidak tumbuh dari kematangan rasio semata. Sebab, masalah-masalah rasional semata tidak memberikan pengaruh ke dalam hati dan perasaan. Seandainya demikian, niscaya para misionaris yang bahkan lebih banyak tahu tentang islam dibanding kita akan menjadi pelopor keimanan kepada Allah dan RasulNya. Melainkan kecerdasan mereka terbatas pada logika dan pengetahuan saja, tidak meresap ke dalam kalbu menjadi perasaan cinta kepadaNya. Itulah yang membedakan seorang muslim dengan penganut agama yang lain.
Sarana untuk menumbuhkan mahabatullah –tentu saja setelah iman kepadaNya– ialah memperbanyak tafakur tentang ciptaan dan nikmat-nikmatNya. Merenungkan betapa keagungan dan kebesaranNya. Kemudian banyak mengingat Allah dengan lisan dan hati. Dan semuanya itu, hanya bisa diwujudkan dengan ‘uzlah, khalwat, atau menyendiri, sendiri dari kesibukan-kesibukan duniawi dan keramaiannya pada waktu-waktu tertentu. Tentu, yang harus digarisbawahi, khalwat ini hendaknya terprogram.
Jika seorang muslim telah melakukannya dan siap untuk melaksanakan tugas ini, maka akan tumbuh di dalam hatinya mahabbah ilahiyah yang akan membuat segala yang besar di dunia ini menjadi kecil. Melecehkan segala bentuk tawaran duniawi, memandang enteng segala gangguan dan siksaan, dan mampu mengatasi setiap penghinaan dan pelecehan. Itulah bekal yang harus dipersiapkan oleh para penyeru kepada Allah. Itulah bekal yang Allah berikan kepada RasulNya, Muhammad saw, untuk mengemban tugas-tugas dakwah islamiyah.
Muhammad, sebelum pengangkatannya sebagai rasul, mendekati usia empat puluh tahun mulailah tumbuh pada dirinya kecenderungan untuk melakukan ‘uzlah. Allah menumbuhkan pada dirinya rasa senang untuk melakukan ikhtila, atau menyendiri di Gua Hira.
Hikmah dari program ‘uzlah ini, bahwa tiap jiwa manusia memiliki sejumlah penyakit yang tidak dapat dibersihkan kecuali dengan “obat” ‘uzlah dan “mengadilinya” dalam suasana hening, jauh dari keramaian dunia. Sombong, ujub (berbangga diri), dengki, riya, dan cinta dunia, kesemuanya itu adalah penyakit yang dapat menguasai jiwa, merasuk ke dalam hati, dan menimbulkan kerusakan di dalam batin manusia. Kendatipun lahiriahnya menampakkan amal-amal saleh dan ibadah-ibadah yang baik.
Tetapi maksud khalwat di sini tidak boleh dipahami sebagaimana pemahaman sebagian orang yang keliru dan menyimpang. Mereka memahaminya sebagai tindakan yang meninggalkan sama sekali pergaulan dengan manusia dan hidup di gua-gua.
Maksud khalwat, atau menyendiri ini, adalah sebagai obat untuk memperbaiki keadaan. Karena sebagai obat, maka tidak boleh dilakukan kecuali dengan kadar tertentu sesuai kebutuhan.
Semoga Allah membukakan pintu-pintu jiwa kita, sehingga hikmah dan petunjuk dapat masuk dari mana saja. Allahuma amiin…
Wallahu alam bishawab.
***












Yang Baik Hati..