Kenapa Fatwa Dipermasalahkan?

Logo_MUI

Saya tidak tahu persis asal muasal kenapa golput diharamkan, namun sepertinya ada pemberitaan yang timpang di media massa. Saya berusaha ambil sisi positifnya saja.

Mayoritas penduduk indonesia adalah muslim, sedangkan MUI punya kewajiban melayani mereka supaya akidah umat muslim di negara ini tetap terpelihara dengan baik. Sehingga konsekuensinya adalah, MUI harus memastikan umat muslim ini menjalankan risalah agamanya dengan sebaik mungkin.

Kalo ga salah, dalam surat Al Maidah sekitar ayat 40-50an, banyak dibahas tentang pemimpin, memimpin, dan dipimpin. Terutama ayat 55, disitu disebutkan, “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, RasulNya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah).”
*perlu ditekankan, pengertian dan penilaian beriman, salat, zakat, dan tunduk, tentu saja sesuai dengan yang dituntunkan Allah dan RasulNya* Sehingga berdasar ayat ini, inilah kriteria pemimpin yang patut dipilih umat muslim.

MUI melihat, permasalahan bangsa bukan sekedar milik satu-dua orang saja, melainkan permasalahan bagi segenap muslim di dalamnya. Karenanya, segenap muslim hendaknya memberikan perhatian terhadap permasalahan bangsa.

Dan permasalahan bangsa itu, secara teknis dalam konteks kenegaraan dimulai dari Pemilu. Maka setiap muslim, harus memilih pemimpin yang sesuai dengan kriteria yang disebutkan dalam ayat tadi. Jadi, ini bukan sekedar masalah halal-haram, melainkan urgensi memilih pemimpin yang patut dipilih sesuai tuntunan Allah dalam Alquran.

Seingat saya juga, fatwa tentang golput ini ada dua poin besar:
1. Setiap muslim wajib memilih pemimpin dengan kriteria seperti disebutkan dalam ayat tadi.
2. Haram hukumnya apabila memutuskan untuk tidak memilih padahal ada pemimpin yang ternyata sesuai dengan kriteria tadi.

Maka, ada dua hal yang ternyata menjadi esensi dari fatwa MUI ini:
1. Permasalahan bangsa adalah permasalahan umat muslim, sehingga selaku umat yang mayoritas, semestinya mau dan mampu bersatu untuk berpadu memberikan solusi terbaik, bukan malah saling mengecam saudaranya sendiri. Secara teknis, dengan memilih pemimpin yang layak untuk dipilih melalui pemilu.
2. Setiap muslim juga harus mau dan mampu mencari baik secara mandiri maupun bersama-sama profil dari para calon pemimpinnya. Banyak cara yang bisa ditempuh. Banyak blog dan social network program yang bisa di browse. Banyak search engine yang bisa dijajal. Banyak orang yang bisa diajak diskusi. Yang jelas, sebaiknya mencocokkan apa yang terjadi di lapangan dengan yang dipromosikan oleh para calon tersebut. Dengan demikian, setiap muslim tidak menilai dari superfisialnya saja, dan berlepas dari ghibah dan fitnah terhadap saudaranya sendiri.

Yah, demikianlah soal golput. Soal fatwa rokok, setahu saya juga masih dalam tahap ikhtilafiyah, antara makruh atau haram *bukan mubah atau bahkan sunah dan wajib!* Mengenai nasib beribu karyawan pabrik rokok, sudah menjadi kewajiban bagi pemerintah dan segenap lapisan masyarakat untuk mencarikan pekerjaan. Toh, Allah banyak menebarkan rizkinya di muka bumi ini, dan tak akan habis dicari. Sekarang hanya masalah mau atau tidak kita mencari. *Sekali lagi, kebanyakan kita melihat nasib karyawan pabrik rokok hanya dari sudut pandang masalah saja. Coba buka mata-otak-hati lebar-lebar, masih banyak kok pekerjaan di luar sana, euy…*

Saya mendapat bahan tulisan ini dari ceramah jumat di kampus yang diisi oleh Ustad Fuad Amsyari. Tidak bermaksud mempromosikan beliau, namun jika pembaca menginginkan jawaban yang langsung dari pakarnya, silakan kontak beliau. Daripada kita berputar-putar pada pembahasan yang selalu bernada menyudutkan saudara sendiri, akhirnya hanya sirkumstansia yang kita dapat.

Maap jika tidak berkenan dengan tulisan ini…
Mohon koreksi, yah…

Terimakasih.;)

… .

IBSN adalah sebuah wadah insan indonesia dalam jaringan internet
dengan berbagai jenis blog platform yang memiliki konsep
keindahan berbagi berbagai hal bermanfaat untuk kebaikan pada
sesama, dengan tujuan untuk membuat hidup ini makin bermakna.
visit Indonesians’ Beautiful Sharing Network

  1. 28 Februari 2009 pukul 9:48 am | #1

    he-he… sampean sepertinya tidak membaca postingan saya secara lengkap ya :)

    terkait pemilu saya udah buat postingannya hari ini :)

    oo… baiklah… saya kunjungi ya, pak… terimakasih dan maap… :D

  2. 28 Februari 2009 pukul 11:47 pm | #2

    ada yang bagus juga nih

    http://www.surya.co.id/2009/02/25/oleh-oleh-dari-probolinggo/

    oiya? baik, saya kunjungi, pak… :)

  3. 28 Februari 2009 pukul 11:55 pm | #3

    hmmm kaitannya adalah…. bukan masalah golputnya… an sich yang harus dipermasalahakan…. coba baca link yang saya sebutkan di atas… itu masyarakat awam pada banyak yang sudah eneg dengan parpol2 yang ada…. lagian banyak masyarakat yang tidak peduli…. dengan pemilu…

    cuma sekedar info aja… saya sama temen2 pernah direct selling – sekalian sosialiasi… hmmm… menyedihkan memang ternyata kondisi perpolitikan kita bikin hopeless banyak orang – mereka gak peduli siapa partenya.. yang penting hidup tidak semakin berat.

    so… harusnya MUI kalo mau fair juga bikin fatwa.. terhadap para parpol… dan caleg… diharamkan menghamburkan uang… coba baca postingan saya tentang Caleg dan palestine di gogling di blog saya pasti nemu.

    kalo mas hafid membaca rangkain tulisan saya terhadap pemilu, caleg dan fatwa mui (saya nulis tentang mui di blog saya kalo gak salah 3 atau 4 kali) pasti menemukan benang merahnya…

    gitu aja dulu

    oo! baik, pak, saya coba gugling yap… terimakasih ;)

  4. 2 Maret 2009 pukul 4:42 am | #4

    duh..kok saya jadi bingung…di satu sisi Anda bicara golput…lalu “seakan-akan” membela MUI…tapi…pada titik untuk dikritisi.. ada tulisan..”silakan langsung ke pakar” lalu…ada ungkapan malu-malu…Mohon koreksi yah..di akhir tulisan…

    pertanyaan besar adalah ” APakah Sebelum Menulis Anda sudah riset sederhana tentang pro-kontra tentang Fatwa Haram Golput MUI…ingat di MUI Palembang (mohon koreksi kalau saya salah) mereka menentang fatwa tersebut…

    Sepanjang pengetahuan Islam saya yang dangkal…Islam mengajak umat untuk mencari referensi tidak hanya dari satu sumber…sederhananya…ada Al-Quran dan Al Hadits…jadi Tidak ada Ustadz atau Kyai yang SERaTUS PERsen BEnar…karena Mereka Juga Manusia…

    Saran saya…kalau ragu dengan apa yang ditulis…jangan menegasi keraguan dengan kata-kata “kembali ke pakar” kecuali ANda tidak memberi komentar yang panjang atau mengutip yang panjang atas “Apa yang Anda anggap Perlu kepakaran”….Ragu Itu Boleh Kok! …Salah Satu Jalan UNTuk Mencari Ilmu adalah Bertanya…dan Pertanyaan acapkali timbul dari Keraguan….

    Salah satu kekurangan orang Muslim terutama di Indonesia…adalah riset…risetlah sedikit…tentang apa yang akan Anda tulis…itu saran saja…untuk hal lain…saya yakin Anda jauh lebih expert dari saya…

    GBU!

    hehe… tulisan saya ini sifatnya informatif, mas. sengaja saya sampaikan apa yang disampaikan dalam ceramah jumat oleh salah seorang yang terlibat langsung dalam proses munculnya fatwa tersebut.

    memang saya tidak melakukan riset, karena tulisan ini tidak dimaksudkan untuk riset. menurut pengetahuan tulis-menulis saya yang dangkal, bagi saya, tulisan ini memang bersifat pemberitaan saja. mengenai keabsahan nilai beritanya, saya sendiri di kampus cukup mempercayai beliau sebagai narasumber selaku dosen sekaligus ustad sekaligus kyai sekaligus de es be. yang perlu digarisbawahi, saya memang tidak meminta njenengan mempercayai beliau sebagaimana saya mempercayai, karena kita hanya berbicara sebatas tulisan, tidak totalitas untuk bertatap muka langsung. mengenai validitas nilai datanya, silakan langsung bertandang dan berdiskusi lewat blog beliau.

    tapi saya menawarkan sudut pandang yang berbeda dari apa yang mas tulis. dan saya lihat sudut pandang yang berbeda ini penting sekiranya untuk memperkaya khasanah pengetahuan kita sebelum memberikan penilaian kepada saudara kita sendiri, sesama muslim. bukan berarti mengkritik itu tidak boleh, justru mengkritik itu sangat dianjurkan apalagi untuk menetapi kebenaran dan kesabaran. namun, yang disorot sekarang adalah caranya. jika memang akan mengkritik, lebih baik melakukan tabayun (cross check, dan semacamnya) dulu kepada yang bersangkutan. kemudian cara menyampaikan hasilnya kepada publik. mungkin pembaca akan menilai sendiri bagaimana kualitas pribadi kita yang tercermin lewat tulisan, sebagaimana tulisan saya ini dan tulisan njenengan di sini.

    dan hasil tabayun saya, adalah tulisan ini, insya Allah.

    wallahu alam bishawab, semoga Allah merahmati bangsa ini dan melunakkan hati mereka yang keras, supaya lembut, dan mau memperluas cakrawala akal-hati-jiwanya, melembutkan kata-kata terhadap saudaranya sendiri, sambil tetap teguh dalam berprinsip, demi kemajuan agama dan bangsa ini.
    Allahuma amiin. ;)

  5. 2 Maret 2009 pukul 9:40 am | #5

    Yap… tentang rokok juga saya berfikir seperti itu, mau tidak ulama dan Sarjana di Kudus dan daerah sentra penghasil rokok lainnya berfikir untuk mencari alternatif penghasilan bagi warganya selain dari rokok (Posting Saduran “Pohon Terlarang”) .
    Juga soal kemasyarakatn seperti Perilaku Berkendaraan, Keteladanan Ustadz, Saling Menghormati Perbedaan, dan lainnya.
    Thanks telah mampir dan berkoment di Blog Saya, mari selamat berbagi, yang bahasa Al Qur’annya “Wa tawashoubil Haq Wa tawashoubis Sobr”.
    Wassalam.

    jazzakallah, akhi ;) salam kenal… :D

  6. 2 Maret 2009 pukul 10:54 am | #6

    Hmmm… mas cahyo promo ni…

    ahaha… makasih uda mampir ya, mas

  7. 3 Maret 2009 pukul 4:34 pm | #7

    sayah cuma bingung aja.. bagi sayah sih tidak memilih adaLah saLah satu piLihan juga.. hhe.
    soaL merokok ? haduh.. sayah kadang kadang juga merokok ni.. hhu.

  8. 11 Maret 2009 pukul 6:12 pm | #8

    Tanya kepada para perokok. Benarkah alasan terus merokok demi keberlangsungan hidup para pegawai rokok? Be honest…

  9. 28 Maret 2009 pukul 1:18 pm | #9

    assalamu alaikum wr. wb.

    Permisi, saya mau numpang posting (^_^)

    http://ulamasunnah.wordpress.com/2008/06/03/menggugat-demokrasi-daftar-isi/
    http://hizbut-tahrir.or.id/2009/03/17/demokrasi-bukan-jalan-perubahan-hakiki/

    Sudah saatnya kita ganti sistem,
    untuk masa depan umat yang lebih baik!
    semoga link di atas bisa menjadi salah satu rujukan…

    Terima kasih atas perhatian dan kerja samanya.
    Mohon maaf kalau ada perkataan yang kurang berkenan. (-_-)

    wassalamu alaikum wr. wb.

    hmm… mantap, bro. banyak sekali pandangan mengenai sistem negeri ini, ya. setelah saya coba diskusi dengan seorang musrif di kampus, dikatakan sekarang sudah saatnya ganti sistem, sebagaimana yang njenengan bilang. kemudian saya minta pendapat seorang murobbi di kampus, dikatakan perlunya sebuah proses untuk menuju seperti yang njenengan bilang. dan ketika saya minta pendapat ke temen2 salafy, dikatakan sekarang masih ditekankan dakwah tauhid yang artinya mengajak segenap muslim untuk menyadari keberadaan dirinya. memang semuanya tidak semudah membalik telapak tangan, bro. butuh proses, diantaranya menulis seperti ini. hihi… wallahu alam bishawab. ;)

  10. 17 April 2009 pukul 4:12 pm | #10

    Download Software AL-QUR’AN Pro Ver. 3.0
    Al-Qur’an lengkap 30 juz ( 114 Surat + teks & terjemahan (Arab/English/Indonesia))
    Tafsir Quran Lengkap, Penunjuk waktu sholat, 21 bahasa terjemahan Al-Quran, Al-Qur’an Audio with Voice of Shaikh Sudaish (Imam Mecca).
    Download Gratis Sekarang . Link Download http://www.ziddu.com/download/3082887/Al-QuranProVer.3.0.exe.html

  1. Belum ada trackback.