Patah Hati Hampir Hancur

Tulisan lama, yang saya posting lagi di sini supaya lebih bisa berbagi. Ada seseorang yang bercerita kepadaku, tentang bagaimana teman kecilnya dulu waktu TK, beranjak gedhe, pacaran, ML, dan diputus pacarnya. Patah hati, pasti. Hancur, tidak. Karena memang tidak demikian. Namun semakin hari luka itu semakin kronis, dan mengalami eksaserbasi akut. Semakin menganga. Dan hatinya mendekati kehancuran. Apa yang harus dia lakukan sebagai teman?

Saya juga tidak tahu. Tapi inilah yang saya tulis untuknya lewat msg FS.

Ya, yang bisa kita lakuin sebagai teman tu nemenin dia untuk berjuang lebih baik lagi mewarnai hidupnya.

Coba, anggap sekarang kamu menghadapi pasien kanker stadium 4 yang ngga bisa disembuhin secara medis praktis. Hanya kemurahan Allah jika ditunjukkan jalannya yang bisa membuat kanker itu hilang.

Apa yang kamu lakukan? Sebagai dokter, aku mendiagnosa pasien ini sudah terminal dan hanya terapi paliatif yang sangat dibutuhkan dia sekarang.

Minta tolong dek, kasi dia Injeksi i.v. adrenalin pagi sore satu ampul, lalu injeksi i.v metothrexate dosis kecil untuk melihat respon imun tubuhnya. Kalo semakin baik, tingkatkan dosis. Kalo semakin buruk, pertahankan dosis sampe esok, nanti aku diagnosa lagi. Beri isoflurane i.v dosis menengah pagi sore. Pertahankan rehidrasi. Selebihnya, tolong adek temenin dia dan pastikan dia nyaman dalam perawatannya.

Apa yang akan kamu lakukan? Ini kasus pasien yang tidak bisa sembuh. ‘Tidak bisa sembuh itu’ kata-kata menurut kita. Tapi etika kepada pasien, dia harus tetep kita kasi semangat untuk sembuh. Karena banyak bukti bahwa terapi non-farmakologis dari persepsi pribadi bisa membuat respon imun pasien semakin baik. So, pertahankan semangatnya untuk sembuh dan hidup seperti sediakala.

Bagaimana caranya? Adek yang berimprovisasi. Kasus pasien kanker stadium 4 yang didiagnosa tidak bisa sembuh secara medis praktis itu cuma sekelumit kisah saja. Banyak orang yang tidak seberuntung kita. Jangan segan memberi bantuan kepada orang lain selama kita mampu. Jangan kalah sama mood. Selama tangan kita masih lengkap, kaki, dan semua organ kita masih kuat, pertahankan hidup untuk lebih banyak berusaha dan berkarya. Jangan kalah sama masa lalu. Tatap masa depan dan bangun hidup kita.

Hanya dengan begitu kita bisa lepas. Waktulah yang membuat kita terbiasa nantinya. Ya, terbiasa buat berjuang. Pada akhirnya kita akan bangga dengan hidup kita sendiri, tanpa tergantung dengan citra masa lalu ataupun orang lain.

Temenmu itu bukan pasien kanker stadium 4, dek. Temenmu masih bisa sembuh. Dia bukan orang bodoh yang kalah dengan keadaan. Semua orang punya masa lalu yang mungkin lebih buruk dari dia. Kalo dia memang orang yang bersyukur karena sadar telah berbuat kesalahan, dia akan memaafkan dirinya sendiri dan beralih untuk membangun masa depannya.

So, pastikan dia nyaman dalam perawatannya…

Allah with us. clip_image001

Yap, Allah ghoyatuna.

  1. 10 Februari 2009 pukul 8:03 am | #1

    di beberapa buku yang pernah saya baca, katanya waktu akan menyembuhkan segala luka. sebenarnya bukan waktu yang menyembuhkan hanya ALLAH sajalah yang mampu melunturkannya…

    salam

    setuju banget, mba… ;)

  2. 10 Februari 2009 pukul 9:10 am | #2

    artikel yg menarik.. ^_^

    terimakasih, kakak senior… :D

  3. 10 Februari 2009 pukul 1:02 pm | #3

    hmm..banyak bahasa-tingkat-tingginya.. *garuk2 kpala pertanda lemot* :lol: eniwey…PERTAMAAXX..asiikk!

    hihi… lebih tepatnya bahasa yang ditinggi-tinggikan… hikikik… maap… eh, pertamax? aduh, kayanya saya ndak ngaprove comment sesuai waktu masuknya, yah? maap… eh, iya kah?

  4. 10 Februari 2009 pukul 2:26 pm | #4

    HHmmm …
    saya harus dua tiga kali membaca nya …

    dan yes …
    Ini keren

    Salam saya

    tuerriimmaa kuassiihh… pak nur… ;)

  5. 10 Februari 2009 pukul 3:43 pm | #5

    wah kamu dokter mudah yah…
    anak universitas mana nih/…..

    saia dari unair surabaya, mas… kalo mas iwan?

  6. 11 Februari 2009 pukul 5:58 pm | #6

    pertama bukan ya? *clingak clinguk*

  7. 11 Februari 2009 pukul 6:03 pm | #7

    oh iya yang pertama *senang, girang*
    baca dulu ya, baru komentar :D

    ahaha…

  8. 11 Februari 2009 pukul 6:06 pm | #8

    jadi intinya.. spt apapun kondisi kita ato orang lain,ttp punya hak utk hidup, ya kan? :)

    iya, mba, benar sekali… eh, komennya Hattrick! :D

  9. 13 Februari 2009 pukul 6:36 am | #9

    Nah penyakit yang satu ini ada gak obat nya secara medisnya pak…he he ..jadi konsultasi nich….mumpung gratis sama pak dokternya…ups..sorry..mangnya dokter cinta ya ? ……nice posting……

    hakakak… kayanya masih bisa, sih… kalo karena cinta jadi depresi, diberi antidepresan ajah :D anw, saia mmg seorg dokter cinta, lebih tepatnya dokter yang sedang menikmati cinta *halah* :P

  10. 13 Februari 2009 pukul 6:58 am | #10

    mas hafid tugas di rumah sakit mana…. ?

    insyaAllah di rsu dr. soetomo, sekarang di bagian psikiatri, ilmu kesehatan jiwa… mau konsul? hikikik… :P

  11. 13 Februari 2009 pukul 7:29 am | #11

    Assalamualaikum

    Mas… akan lebih afhdol kalo mas juga mengunjungi blog resmi IBSN di http://ibsn.web.id dan meninggalkan jejak disana :D

    waalaikumsalam… whe, iyah… baik, saya tinggalkan jejak di sana, pak… maap dan terimakasih ;)

  12. edy
    13 Februari 2009 pukul 7:41 am | #12

    hehehe belom lama saya juga patah hati dan nyaris hancur
    untungnya banyak orang di sekitar saya yg bisa jadi temen ngobrol, hingga saya ga sampe hancur lebur. tengok ke bawah, jangan tengok ke atas

    betul, bung… benar sekali… ok, smangad teruss buatmu, bung! terimkasih kunjungannyah… ;)

  13. 13 Februari 2009 pukul 10:35 am | #13

    karena semangat dan kemauan kita bisa terus jalani hidup

    oosshh…!

  14. 13 Februari 2009 pukul 8:53 pm | #14

    hiks..jadi inget bude saya yg meninggal gara2 kanker..
    iyah.. mereka tetep ada hak untuk hidup dengan semangatnya..

    iyup… smangad slalu, mba! terimakasih kunjungannya… segera akan ada kunjungan balasan ;)

  15. 14 Februari 2009 pukul 11:48 am | #15

    wew… banyak kata2 yg ndak ngerti :lol:

    tapi kena intinya…

    “…pastikan dia nyaman dalam perawatannya…”

    wew!! senengnya klo beneran seorang dokter bilang begituh ^_^

    hwehe… jadi malu… :P terimakasih kunjungannya, mba :D

  16. gwgw
    16 Februari 2009 pukul 6:57 am | #16

    wah….pasti enak nih jadi dokter… :-)
    selamat bertugas…

    hayahaha… doakan masih merasa ‘enak’, mas… semoga semuanya diberikan yang terbaik. terimakasih. selamat bertugas juga ;)

  17. 16 Februari 2009 pukul 6:46 pm | #17

    jadi dokter emang harus ngasih semangat hidup gitu ya…
    biarpun peluang sudah tipis, bukan berarti nggak ada kan….?
    semuanya kan tergantung Yang Maha Menentukan…

    insyaAllah, mas. semoga semua dokter makin istiqamah ;)

  18. Br4
    26 April 2009 pukul 5:12 am | #18

    Pasiennya perlu diberitahu ndak niy ttg stadium 4 nya?
    (etikanya siy iya)

    tapi kalo ternyata malah down, ndak semangat, piye?

    “Ayo pak, semangat!”
    “Tapi kata dokter saya khan sdh ndak bisa sembuh, mau semangat piye?”
    “Lho, saya ndak bilang gitu, mksd saya ada 1% org2 di luar sana yg keadaannya sama kaya bapak akhirnya bisa sembuh walau sdh didx stad 4, ada kekuatan lain selain kekuatan kita”
    “Halah podo ae dok, dokter iki iso ngomong gitu karena ndak berada di posisi saya, coba kalo dokter yg sakit seperti saya gini, masih berani ngomong gitu? Org yg belum pernah mengalami sendiri, ndak usah sok mengajari kepada yg lain!!!”

    “(Glek!) Iya pak maaf, anda benar juga”

    Hahaha, piye Fid, ngadepin pasien cerewet kaya gitu (soalnya kl aq jd pasien, ngomongnya mgkn bs gitu)

    entah lah, bri. kalo aku sih, lebih suka ngebicarain hal-hal yang dia suka. kalo ada sesuatu yang dia suka dan ingin dia lakuin sekarang, selama dia bisa dan mampu, kenapa engga? yg penting dia jadi merasa penting dan dipentingkan. “to increase the quality of life..” ;)

  1. Belum ada trackback.