NATURE HOMEOSTASIS
“Kalau kau merasa beruntung kali ini, sesungguhnya kau berhutang pada alam semesta, untuk melakukan hal terbaik di kesempatan berikutnya. Kalau kau belum merasa beruntung, mungkin ada yang salah dari sudut pandangmu kali ini.
Tanya pada dirimu, pernahkah kau benar-benar merasa bersyukur, dengan berbagi seadil-adilnya atas nikmat yang kau dapat terhadap sesama?”

… .
Read more…
(Jangan) Ganyang Malaysia!

Postingan kali ini adalah direct posting dari komen saya terhadap notes FB teman, dengan sensor seperlunya.
Ternyata bahasa Indonesia lebih indah lho!!!
Setelah melakukan pengamatan bertanya sana-sini waktu Tour di KL.
Berikut rangkuman yg sempat tercatat.INDONESIA : Kementerian Hukum dan HAM
MALAYSIA : Kementerian Tuduh Menuduh Read more…
Kopi dan Diare

“Dia suka kopi…” ujarnya kali waktu, saat saya sedang follow up kondisi anaknya. “Kopi kental, gula banyak-banyak.” Saya membalas senyumnya. Sambil menaburkan kopi, sang ibu memijit-mijit kaki anaknya. “Bosnya sering mentraktir dia, Mas. Sampai subuh baru pulang ke rumah, dianter sama bosnya. Paginya kerja lagi sampai sore. Begitu terus hampir tiap hari.” Seluruh pinggang anaknya tertutup kopi. Mau bagaimana lagi, baunya begitu amis semerbak ke seluruh bangsal ini. Di sini memang sudah cukup lazim mengunakan kopi untuk menyamarkan bau amis diare pasien.
Jombang Pasti Bertabur Bintang
Haduuh… Lama sekali ngga update, nih. Maap banget jadi jarang menyapa kawan-kawan blogger. Saya sudah bertekad, setelah menyelesaikan semua laporan penugasan saya satu bulan kemarin, akan saya posting semua tulisan tentang apa saja yang kami lakukan di Jombang. Beberapa foto berikut menceritakan tentang apa saja yang kami lakukan selama di Jombang tentang penanggulangan dan pencegahan gizi buruk dan gizi kurang di sana.
… .
Kalau Anda diminta memandirikan suatu desa sedangkan hanya diberikan waktu selama satu-dua minggu saja, apa yang kira-kira Anda lakukan?
putri ku..
Saya lupa kapan terakhir kali kami bicara. Tepatnya, saya terlalu lama tidak menyempatkan bicara panjang lebar dengannya. Buruknya lagi, saya hampir saja lupa bahwa dia adalah pengguna alami otak kiri, dibandingkan otak kanannya. Pengguna alami otak kiri kebanyakan menyebalkan, seringkali bersikukuh pada pendapat pribadinya, kalau tidak disebut keras kepala, mereka tidak akan meyakini sesuatu yang baru sebelum mereka sendiri melihat yang sebenarnya.
Mojoagung, I’m in Love..
Ya, ya. Kecamatan Mojoagung, Kabupaten Jombang. Diukur dengan odometer di Jazz teman saya keluaran tahun 2002, dari titik kami berangkat di kampus sampai Puskesmas Mojoagung, kurang lebih 68.1 kilometer. Itu sudah termasuk putar balik yang memakan 1-2 kilo saat kami kebablasan, dan cari putar balik ke puskesmas…duh, minta ampun sulitnya. Belum lagi bis-bis dan truk-truk yang melaju kencang-kencang seenak udelnya. *bis punya udel?*
Mendramatisir Perpisahan
Ada pertemuan, ada perpisahan. Siapa pun di dunia ini, suatu saat akan mengalami perpisahan dengan siapapun-apapun yang dia harapkan bertemu. Baik itu disengaja atau tidak, direncanakan atau tidak, suka atau tak suka, perpisahan itu akan selalu membuntuti setiap pertemuan. Siapa yang berharap bertemu, hendaknya dia siap berpisah. Begitulah hidup, segala sesuatunya diciptakanNya berpasang-pasangan.
Saya bukan orang yang lemah. Lebih tepatnya, saya bukan orang yang dengan gampangnya menunjukkan bahwa saya lemah. Dalam hati boleh merasakan perasaan yang sedih, duka, gundah gulana, namun luarnya harus tetap tegar dan kokoh. Sampai perut ini terasa teraduk-aduk pun, napas saya harus teratur, dada dibusungkan, punggung ditegakkan, suara harus tetap meyakinkan, dan pandangan mata harus lurus ke depan.
Bodoh, ya?
Agonal: Sebuah Terimakasih
Saya tidak pernah lupa akan mata itu. Mata penuh harap. Mata mengiba. Mata yang tak berhenti bercucuran air mata. Sepasang mata yang tak berhenti mengamati saya bekerja. Sepasang mata yang tak mau lepas menatap saat jarum ini mulai memasuki pembuluh nadinya. Sepasang mata yang mengawasi kehati-hatian saya, saat harus mengambil contoh darah untuk pemeriksaan analisa gas darah.
Jika ada seseorang yang mengucapkan terimakasih, akan kamu jawab apa?
Oh, terimakasih kembali. Oh, sama-sama. Oh, tidak usah sungkan.
Oh, iya, kalau ada apa-apa bilang aja, ya.
Bagaimana jika ada seseorang yang baru saja kehilangan ibunya, sedangkan peristiwa kehilangannya di depanmu, lalu dia mengucapkan terimakasih?
Akan kamu jawab apa? Read more…
Skenarionya Berhasil?

Asas praduga tak bersalah ternyata tidak berlaku di masyarakat.
Dunia semakin gila. Entah bagaimana yang terjadi di luar sana, yang jelas ini betul-betul terjadi di negara kita. Apakah skenarionya berhasil?
IBSN: Negri Lomba-Lomba

MERDEKA!
dulu orang berlari mengusung senjata,
mati-matian bertahan di atas benteng
lambang harga diri Read more…
Saya Tidak Percaya Bom
Dari lubuk hati yang terdalam, kami menyampaikan duka sedalam-dalamnya kepada seluruh korban perang di muka bumi ini, baik di negara kami maupun di seluruh belahan bumi yang lain. Kami selalu berdoa supaya semua dosanya diampuni, diterima seluruh amal kebaikannya, dan ditempatkan di tempat terbaik di sisiNya. Semoga keluarga dan sanak saudara yang ditinggalkan diberi ketabahan untuk mengenang mereka dalam doanya, dan dibekali semangat untuk mempromosikan bahwa perang sesama saudara hanyalah menambah luka di hadapanNya.
Saya hampir tidak percaya bom. Peristiwa terakhir di JW Marriott dan Ritz Carlton hanyalah menambah daftar panjang rasa ketidakpercayaan saya. Saya tahu pemboman itu terjadi, saya melihat rekamannya, membaca dan menyimak beritanya, membandingkan jumlah korban dengan peristiwa serupa di tempat lain, dan saya masih tetap tak percaya. Saya tidak percaya bahwa hal itu betul-betul terjadi. Read more…
IBSN | Agonal: Pergi Selamanya
Napasnya satu-satu. Wajahnya menyeringai, seolah melihat sesuatu yang menyeramkan di sana. Bola matanya telah membalik ke arah atas, sehingga hanya sebagian besar sklera putihnya yang kini tampak kemerahan menahan sakit. Ruhnya tercabut, dan saya ’sukses’ mendampingi pasien saya pergi untuk selamanya.
Mengiba dan mengharap. Sempat tertangkap setitik embun yang merembes di ujung pipinya. Ada berjuta-juta cinta di mata sang suami itu. Melihat kami yang sedang melakukan resusitasi, berusaha membuat nenek ini bernapas kembali. Kami tahu itu tidak mungkin. Dan saya yakin pak tua itu juga mengerti bahwa tidak mungkin kami menuntut Tuhan yang sejak awal telah menggenggam jiwa nenek ini.
Lelah.
“Kapan seorang muslim beristirahat? Saat kakinya telah menginjak surga.”
Saya lelah. Bener-bener lelah. Dan baru kali ini saya merasa, menulis bukan pelarian yang tepat untuk saat ini. Karena masalah yang sebenarnya ada di dalam sini. Mau ditumpahkan pun, rasanya hanya terjadi efek duplikasi…

Dalam sepersekian detik, mata setiap orang terhubung dengan hatinya. Apa pun yang dilihatnya diubahnya menjadi sinyal-sinyal, disampaikannya ke hati, untuk diberi makna atas apa yang dia mengerti. Demikian sebaliknya; prasangka apapun yang dirasa dalam hati, suka, duka, gembira, gundah gulana, dikembalikannya sebagai sinyal-sinyal lembut, sehingga menggerakkan jalinan otot wajah dalam kombinasi yang kompleks, dalam ritme yang teratur. Perubahan sedikit saja pada suasana hati, mampu mengubah kompleksitas susunan otot wajah yang demikian halus, menghasilkan sebuah ekspresi yang bisa dipelajari. Inilah bukti keberadaan hidup. Inilah yang memberikan warna dalam kehidupan: mata hati. 










Yang Baik Hati..