Urusan Perut Si Emak
Ingin rasanya saya batalkan saja pertemuan petang kemarin, supaya bisa menulis postingan ini dengan lebih leluasa. Apalah dikata, pinta sudah bersambut, kata sudah terangkai, tidak mungkin saya membatalkan secara sepihak saja. Apalagi itu sudah janji.
Sore kemarin saya kembali ke kosan dalam keadaan kehujanan, lapar, perut belum terisi nasi dari pagi. Karena ada perubahan rencana, petang ini juga saya harus kembali lagi ke rumah sakit. Daripada pingsan di tengah jalan, saya putuskan untuk mampir di warung makan tak jauh dari ruang rawat inap.
Terkagetlah saya, karena warung itu tak tampak sempurna seperti biasanya. Persis seperti gerobak yang terpotong dua, meja hanya tinggal sebiji, kursi plastik dua buah—itupun yang tak layak duduk karena penyok, dan kardus yang disusun terbalik di atas meja. Di atas kardus itu terdapat beberapa bungkus nasi yang disusun seperti piramida. Yang lebih mengejutkan, karena gerimis yang tak kunjung berhenti sejak sore tadi, emak penjual nasinya melindungi semua dagangannya itu dengan payung ala kadarnya. Dia sendiri tidak berpayung, hanya mengandalkan topi jeraminya yang lebar yang pernah didapatnya dari seorang pelanggan. Dia tidak duduk, lebih tepatnya ndhodhok di pinggir trotoar. Untuk melawan angin yang semilir dingin, aduhai, tas kresek yang dimodifikasinya tampak seperti formalitas saja untuk disebut jas hujan.
“Habis obrakan, Nak,” ujarnya sambil terkekeh. Gigi serinya tinggal tiga, dua di atas satu di bawah.
Oh, Maap, Saya Hanya Sedang Tidak Tahan
Ada yang bilang kalau menulis itu adalah proses meluapkan perasaan si penulis. Ada juga yang bilang, penulis sedang bermain-main dengan perasaan orang lain, yang sedang dimasukkan menjadi perasaannya sendiri, hingga ia menulis seolah-olah itu adalah perasaannya sendiri. Saya pernah melakukan proses yang kedua, dimana saya bukanlah tokoh utama, tapi dalam tulisan saya menggunakan kata ganti ‘saya’ supaya lebih menjiwai perasaan orang lain yang sedang saya perankan. Tapi dalam tulisan ini, kata ganti ‘saya’ tidak lain adalah diri saya sendiri.
Empat Puluh Harinya

Mbah putri bingung mencari sesuatu. Aku yang sedari tadi memperhatikan, menjadi tertarik untuk menghampiri beliau. “Nang endi, to?,” (Dimana, sih?) gumam mbah putri ketika mengetahui aku mendekat.
“Madosi napa, Mbah?” (Mencari apa, Mbah?) Tangan mbah putri mengibas, memintaku menyingkir dari depan kamar mbah kakung.
“Enggak, iki lho Le, wis tak gawekke kopi. Golekono mbah kungmu, Le, kongkonen mrene, ngopi dhisik.” (Enggak, ini lho, Nak, sudah saya buatkan kopi. Carilah mbah kungmu, Nak, suruh kesini, minum kopi dulu.)
Astaghfirullah, dadaku berdebar kencang seketika. “Mbah kung mbonten enten, Mbah. Pun seda… .” (Mbah kung sudah tidak ada, Mbah, sudah meninggal… .)
Melihat yang Tak Terlihat

Untuk menghasilkan sebuah bangunan kokoh, selalu diawali dengan rencana yang matang. Sketsa yang memukau, perhitungan yang detil, presentasi proyek yang menarik untuk inevstor, dan yang terakhir, eksekusi program yang tak boleh berhenti sampai deadline. Bagi mereka yang tidak menyenangi, pekerjaan ini sungguh melelahkan. Syukur-syukur kalau sketsanya jadi. Bahkan untuk memulai menggambar sketsa saja sudah malas, menunda, banyak alasan.
Sedang asyiknya saya mempersiapkan presentasi esok hari, seorang teman muncul di pintu kamar. Dia menantang saya–dan semua anak satu kos–untuk menyelesaikan sebuah teka-teki. Dikatakan, teka-teki ini dibuat oleh Einstein semasa hidupnya. Hanya 2% orang di dunia ini yang diperkirakan berhasil memecahkannya. Sisanya, yakni sebanyak 98%, pasti gagal. Ya, pasti gagal. Buset, dah.
Semoga Allah Melindungi Kita

Semoga kita semua tidak terpancing. Semoga Allah swt melindungi kita semua, membukakan pintu hati dan jiwa kita, melapangkan dada, menajamkan akal, sehingga bisa bersikap jernih atas apa saja yang terjadi di muka bumi ini. Termasuk yang satu ini.
Astagfirullah, lagi asik-asiknya hiatus, seorang teman mengabarkan untuk mengunjungi blog ini dan segera melaporkannya ke wordpress… Tak henti-hentinya saya mengurut dada, karena tak hentinya jantung ini merentak-rentak berontak. Kecewa, sekaligus marah. Saya terus terang pada awalnya tidak yakin perlu nggaknya saya nulis di blog pribadi saya ini tentang apa yang saya lihat di sana. Kalau tidak menulis, dada saya bakal serasa membusuk seperti rawa-rawa yang mati, berputar-putar sibuk mencari alasan. Jadi, saya memutuskan untuk menuliskannya di sini.
QS Al-Isra’ (17):
45. dan apabila kamu membaca Alquran, niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat suatu dinding yang tertutup,
46. dan Kami adakan tutupan di atas hati mereka dan sumbatan di telinga mereka agar mereka tidak dapat memahaminya. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu dalam Alquran, niscaya mereka berpaling karena bencinya.
47. Kami lebih mengetahui dalam keadaan bagaimana mereka mendengarkan sewaktu mereka mendengarkan kamu, dan sewaktu mereka berbisik-bisik (yaitu) ketika orang-orang zalim itu berkata, “Kamu tidak lain hanyalah mengikuti seorang laki-laki yang kena sihir.”
48. Lihatlah bagaimana mereka membuat perumpamaan-perumpamaan terhadapmu, karena itu mereka menjadi sesat dan tidak dapat lagi menemukan jalan (yang benar).
Silakan rekan-rekan blogger mengunjungi situs yang saya link di atas, dan rekan-rekan akan terkejut ketika melihat isinya. Teman saya tadi menyarankan untuk melaporkan situs tersebut ke wordpress dengan alasan “Content is obscene and defamation cause religious and racial hatred”. Jika berkenan, rekan-rekan blogger bisa melakukan hal yang sama seperti yang saya lakukan. Read more…
Nista, Ibu Berdusta?
sekeras kereta berjejak di atas besi tak retak, tanah gemeretak
bagitu juga rumah kami, satu-satunya
dari lapis kayu, bertiang sedih dan sendu,
tumbuh di atas sampah-sampah yang kini menjadi penghias jalan kereta itu,
gemeretak-retak keras batu Read more…
Negeri Seribu Masjid
Mungkin kita bukan berada di Turki, sebuah negara bekas pusat kekhalifahan yang memiliki seribu masjid. Kita juga tidak berada di Kazakhtan, dimana pada abad 15 dibangunlah seribu masjid untuk melayani umat di sana. Bukan pula kita berada di Iran, yang mengklaim memiliki 72.000 masjid untuk melayani penganut agama ini dengan berbagai macam mazhab dan aliran. Tapi kita berada di Indonesia, negara berjuluk zamrud khatulistiwa dengan jumlah muslim terbanyak di dunia. Read more…
Cinta dalam Tiupan Sangkakala

secangkir kenangan.
rindu dalam seduhan coklat panas
:pahit, elegan, dan membekas Read more…
Gravida: Orkestra Jihadifillah

Sang ibu mengerang, urat nadinya serasa putus. Nafasnya sesekali berhenti di tenggorokan, menyesak dalam tiap tarikannya. Dia tak mampu teriak, karena tiap teriakan hanya menambah derita. Dia hamil. Sang ibu telah sampai pada usia tua kehamilannya, dan sang janin, yang telah tiga puluh sembilan minggu dikandungnya, kini berontak, tidak betah berlama-lama dalam tiga kegelapan ini. Read more…
NATURE HOMEOSTASIS
“Kalau kau merasa beruntung kali ini, sesungguhnya kau berhutang pada alam semesta, untuk melakukan hal terbaik di kesempatan berikutnya. Kalau kau belum merasa beruntung, mungkin ada yang salah dari sudut pandangmu kali ini.
Tanya pada dirimu, pernahkah kau benar-benar merasa bersyukur, dengan berbagi seadil-adilnya atas nikmat yang kau dapat terhadap sesama?”

… .
Read more…
(Jangan) Ganyang Malaysia!

Postingan kali ini adalah direct posting dari komen saya terhadap notes FB teman, dengan sensor seperlunya.
Ternyata bahasa Indonesia lebih indah lho!!!
Setelah melakukan pengamatan bertanya sana-sini waktu Tour di KL.
Berikut rangkuman yg sempat tercatat.INDONESIA : Kementerian Hukum dan HAM
MALAYSIA : Kementerian Tuduh Menuduh Read more…
Kopi dan Diare

“Dia suka kopi…” ujarnya kali waktu, saat saya sedang follow up kondisi anaknya. “Kopi kental, gula banyak-banyak.” Saya membalas senyumnya. Sambil menaburkan kopi, sang ibu memijit-mijit kaki anaknya. “Bosnya sering mentraktir dia, Mas. Sampai subuh baru pulang ke rumah, dianter sama bosnya. Paginya kerja lagi sampai sore. Begitu terus hampir tiap hari.” Seluruh pinggang anaknya tertutup kopi. Mau bagaimana lagi, baunya begitu amis semerbak ke seluruh bangsal ini. Di sini memang sudah cukup lazim mengunakan kopi untuk menyamarkan bau amis diare pasien.
Jombang Pasti Bertabur Bintang
Haduuh… Lama sekali ngga update, nih. Maap banget jadi jarang menyapa kawan-kawan blogger. Saya sudah bertekad, setelah menyelesaikan semua laporan penugasan saya satu bulan kemarin, akan saya posting semua tulisan tentang apa saja yang kami lakukan di Jombang. Beberapa foto berikut menceritakan tentang apa saja yang kami lakukan selama di Jombang tentang penanggulangan dan pencegahan gizi buruk dan gizi kurang di sana.
… .
Kalau Anda diminta memandirikan suatu desa sedangkan hanya diberikan waktu selama satu-dua minggu saja, apa yang kira-kira Anda lakukan?
putri ku..
Saya lupa kapan terakhir kali kami bicara. Tepatnya, saya terlalu lama tidak menyempatkan bicara panjang lebar dengannya. Buruknya lagi, saya hampir saja lupa bahwa dia adalah pengguna alami otak kiri, dibandingkan otak kanannya. Pengguna alami otak kiri kebanyakan menyebalkan, seringkali bersikukuh pada pendapat pribadinya, kalau tidak disebut keras kepala, mereka tidak akan meyakini sesuatu yang baru sebelum mereka sendiri melihat yang sebenarnya.

















Yang Baik Hati..