Sentimen Pernikahan

4 07 2009

Wedding rings for web#1#Saya sedang sentimen. Ya, sentimen sama apa yang disebut pernikahan. Bukan karena sentimen pada beberapa orang yang dengan gampangnya menjanjikan nikah kepada perempuan yang disukainya, atau karena nikmat menikah yang belum sampai pada saya, atau bahkan berita artis-artis yang gampang nikah-cerai. Tapi karena saya ditinggal nikah.

Bulan Juni kemarin saya dapat dua undangan nikah. Bulan Juli besok kabarnya ada dua, akan tiga. Mulai dari teman sekos yang relatif lebih muda namun dia berani nikah bulan kemarin. Lalu kawan dekat saya di SMP, SMA, dan kuliah, hampir semuanya menikah dalam rentang bulan Mei-Juli ini. Hhh…

Saya iri sama mereka. Menikah itu keputusan besar, lho. Sebuah keputusan yang tidak semua orang bisa melakukan. Termasuk saya. Pernah saya dikomentari, "Kok kesannya ngga pingin segera nikah gitu?" Pingin sih pingin, tapi… tidak ada tapi. Saya pun tidak bisa menemukan alasan kenapa saya sendiri terkesan menunda nikah. Soal orang tua saya yang menginginkan saya lulus dulu baru nikah, ah, bisa dilobi. Soal penghasilan, ah, bisa dicari. Toh, kalau proses saya benar, menikah bisa membuka pintu rejeki, seperti yang dijanjikanNya. Soal calon mertua yang cerewet bila saya belum punya penghasilan tetap dan belum lulus kuliah, ah, bisa dijawab dengan, "Meski saya belum berpenghasilan tetap, saya tetap berpenghasilan." dan sebagainya. Soal hal-hal teknis non-teknis bisa diatur dan dilobi lah.

Ternyata yang paling sulit bagi saya, adalah melobi yang bersangkutan. Ckck… Tidak mungkin saya melobi calon mertua kalau dia sendiri belum siap. Percuma saya mengumbar slip gaji dan penghasilan bulanan kalau orang tua belum saya kenalkan kepada sang calon isteri. Sama saja bohong kalau saya berusaha mempertemukan dua keluarga jika kami sendiri tak tahu kapan siap menikah.

Sebenarnya bukan soal siap tidak siap. Tapi merasa penting atau tidak untuk bersegera menikah. Jika saya merasa bahwa menikah itu tidak penting saat ini, maka saya tidak akan bersegera untuk menikah. Jika saya berpikir bahwa mnikah bukanlah sesuatu yang prioritas untuk saat ini, maka saya tidak akan pernah merasa siap sampai kapan pun. Bukan karena usia saya yang –kata tetangga saya–masih terlalu muda *narsis lu, fid*. Bukan pula saya yang masih merasa miskin dan tak punya apa-apa. Justru Allah pasti memudahkan rejeki saya jika saya menikah untuk ’menghasilkan’ generasi penerus yang terus menegakkan kalimatNya.

Jadi, apakah saya siap? Emm… aduuh… pertanyaan ini pun tidak bisa saya jawab. Saya tidak pula mau disebut tidak siap. Kalau orang bertanya, apakah saya tidak siap? Oh, tentu tidak, insya Allah saya siap. Jika orang bertanya, apakah saya siap? Emm… *sigh*

Siap tidak siap, saya merasa bahwa menikah itu penting, dan urusan pernikahan bukanlah suatu urusan yang bisa ditunda. Kalau soal kebelet buang air besar, bisa saya tunda. Soal kebelet nikah, tidak bisa saya tunda. *kok nikah dibandingkan dengan BAB/BAK, fid??* Godaan seorang bujang tuh besar, lho. Terlampau besar. Baik itu godaan terhadap lawan jenis, maupun godaan terhadap harta, bahkan karir. Itulah kenapa seorang yang menikah dikatakan menyempurnakan separuh agama. Karena punya rem berupa keluarga. Dan idealnya, rem ini dipakai, lho, bukan dipajang di status KTP aja!

Saya bisa mengatakan kalau orang tua saya menebarkan godaan karir pada saya. Menyuruh saya lulus, meski dalam beberapa hal, logika tersebut benar. Jika kelulusan dijadikan alasan untuk menunda nikah, itu yang saya tidak setuju.

Saya menunda nikah karena belum melihat seseorang yang bisa melihat bahwa menikah adalah urusan yang disegerakan. Menikah bukanlah tujuan, menikah adalah sarana. Disana dianugerahkanNya kenikmatan yang sangat banyak, dihalalkanNya apa-apa yang sebelumnya haram diantara keduanya, dan yang lebih penting, ada unsur pendidikan untuk mencetak generasi yang lebih baik daripada generasi sebelumya. Sehingga dari sini, memperbaiki suatu negara bisa dimulai dari memperbaiki diri sendiri dan keluarga.

Ketika saya bisa melihat ada yang bisa melihat bahwa segera menikah itu penting, maka saya bisa mengatakan bahwa: Saya siap menikahinya. Karena menikah adalah sarana untuk mendapatkan ridhoNya, untuk berinvestasi pahala lewat anak-anak yang saleh, dan untuk memperbaiki bangsa ini.

Semoga Allah memudahkan langkah kita. :)

"Semoga Allah menghimpunkan yang terserak dari keduanya
memberkati mereka berdua
kiranya Allah meningkatkan derajat keturunan mereka
menjadi pembuka rahmat, sumber ilmu dan hikmah
serta pemberi rasa aman bagi umat"
(Doa Nabi Muhammad SAW pada hari pernihakan Puterinya Fatimah Az-Zahra dengan Ali bin Abi Thalib)





Ghirah

2 06 2009

3

“Kita membutuhkan pemuda-pemudi yang penuh semangat, enerjik, dan kuat,
yang hatinya terisi oleh antusiasme, semangat, dan kedinamisan;
yang jiwanya dipenuhi oleh ambisi, aspirasi, keteguhan,
dan mereka memiliki target hidup yang hebat,
berusaha mencapainya hingga mereka tiba di tempat tujuannya.”
(Hasan Al Banna)

… .
*I really like this tags.*





“tentang aku, kamu, dan hujan kita”

16 05 2009

rain on table, taken from fireflyforest.net. please visit! ;) Musik Hujan

langit jenuh, hitam pekat
awan penuh, cercam kilat
guntur bertalu talu

angin lusuh, embun terangkat
dari timur ke barat
hujan deras deras

kami berlagu
berdendang sayu
sendu, rindu bertemu

… .

hujan di kaca, taken from ladangkata.com Puisi Tengah Hujan

ibarat kembang bunga tak jadi
entah ke mana gundah menjadi

senyum kekasih sejuk dinanti
laiknya hujan sirami bumi

… .

Dan saya berlari untuknya. Sampai kapanpun. Menujunya, dan mengajaknya kepada yang semestiya kami tuju: luapan cinta halal nan hakiki yang membuncah… serupa hujan yang pernah membasahi kami.

rain and run, taken from iwanbajang.kemudian.com





Bunda Saya dan Kartini

24 04 2009

Postingan yang terlambat, semoga tidak terlalu terlambat untuk berbagi makna.
Selamat Hari Kartini 21 April 2009, dan Selamat Hari Lahir bunda saya 24 April 2009… ;)

DSC_0534

Saya segera mencium tangannya. Kalau bisa tidak akan saya lepas tangan itu, tidak akan saya lepas. Supaya jelas terasa bahwa kulitnya makin mengendur, tidak kencang lagi, dan keriput-keriput itu berjalan silang menyilang di keseluruhan punggung tangannya. Keriput adalah penanda, bahwa nantinya saya juga seperti ini, keriput, kulit serasa dekat sekali dengan tulang, penanda bahwa waktu kami tak lama berada di dunia. Karena bagaimana pun, bunda lah yang secara langsung mendidik saya hingga sampai seperti sekarang ini.

ra-kartiniTimbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, dimana kondisi sosial saat itu perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air). Sayang itu semua sudah mengalami banyak deviasi sejak diluncurkan dahulu. Setelah berlalu tiga generasi konsep Kartini tentang emansipasi semakin hari semakin hari jauh meninggalkan makna pencetusnya. Sekarang dengan mengatasnamakan Kartini para feminis justru berjalan di bawah bayang-bayang alam pemikiran Barat, suatu hal yang malah ditentang oleh Kartini.

 

Baca entri selengkapnya »





Sassie Kirana: Menembus Batas

23 04 2009

soon, we'll be there you belong, sist...

Innalillahi wa inna ilaihi rajiuun…

Telah berpulang ke Rahmatullah, adik dan saudara kami tercinta, Sassie Kirana binti Abdul Muthalib pada hari

Baca entri selengkapnya »





Hidup yang Menuju Satu Titik

21 04 2009

curug gede, purwokerto, 21feb09 Dulu, teman saya pernah berkata, “Hidup itu menuju satu titik, yang perlu kita lakukan adalah berusaha sebaik mungkin untuk menuju satu titik itu.” (semoga saya tak salah ingat).

Ibarat sungai, kita adalah bahagian demi bahagian terkecil dari air sungai kehidupan. Bagaimanapun kita, semua menuju ke satu titik perhentian, yakni muara sungai, hilir, laut. Laut yang terhampar luas, tempat terakhir bagi molekul sungai, dimana kita akan mendapati perhitungan atas semua amalan kita di dunia, baik atau buruk, untuk surga atau neraka.

Baca entri selengkapnya »





Cinta di Punggung Ayah

18 04 2009

“Hati-hati, Be. Hari akan hujan.”

punggung...Masih saya ingat sinar mata itu. Kosong, hampa, tak berisi, atau apalah namanya. Yang jelas tak ada apa-apa di sana. Sedetik kemudian mata itu berubah menjadi danau, tetes demi tetes airnya mengumpul, lalu sinar yang keluar darinya membias tak keruan, menandakan pikirannya yang sedang kacau, gelisah, dan penuh rasa bersalah. Mungkin tak pantas baginya menaruh prasangka yang demikian mendalam kepada sang ayah, terutama setelah apa yang dilakukannya hari ini.

Sang ayah berjalan menjauh membelakanginya, sambil menuntun hati-hati motor yang hampir tak berbentuk itu; kempol kirinya, totoknya, dan lampu depannya sudah berhamburan entah kemana. Sialnya lagi, setirnya telah serong ke kiri dan rem belakangnya menjadi tumpul. Praktis, hanya ahli sirkus yang bisa mengendarai motor itu.

Kawan saya tertunduk malu. Malu pada dirinya sendiri. Malu kepada ayahnya. Malu hanya karena tidak mengurangi kecepatan ketika turun gerimis, sehingganyalah dia jatuh, motornya pecah. Bikin ayahnya repot harus menempuh perjalanan antar kota dengan sepeda motor lain untuk menukarnya dengan motor sialan ini.

Baca entri selengkapnya »





My Blog Awards!

10 04 2009

Dengan ini saya mengucapkan syukur ahamdulillah plus innalillahi wa inna ilaihi rajiuun atas dua award yang diberikan untuk artikel dan blog saya:

1. 3rd IBSN Blog Award (silakan klik di sini) untuk artikel saya “IBSN: Penjual Roti Goreng” (hidup pak/bu penjual!).

ibsn

2. Dari mas Bocahbancar berupa empat award skaligus yakni:

Friendly Blogger Award Traffic Award I Love

Vespa Blogger Award Fabulous Award

Terus terang saya malu ketika dapet semua award ini. Terutama dari IBSN. Ya, malu. Kayanya ada yang lebih berhak daripada saya. Above all, lotsa thanks. ;)

Nah, khusus award dari mas Bocahbancar, ada beberapa peraturan yang harus dipenuhi sehubungan dengan award tersebut:

1. Letakkan logo ini ke dalam postingan Anda.
2. Nominasikan/anugerahkan sedikitnya kepada 10 teman Blogger Anda.
3. Jangan lupa memasukkan link teman Anda yang masuk dalam nominasi tersebut.
4. Agar mereka mengetahui bahwa mereka sedang mendapatlan Awards ini, maka Anda sebaiknya memberitahunya dengan berkomentar di posting mereka!
5. Bagilah cinta dan link di dalam postingan ini dan dari orang yang menganugerahi Awards tersebut. (lha mbuh piye teknisnyah :P )

NB: Yang saya copy-paste langsung berupa terjemahan b.Indonesianya yah… hehe

Nah, bagi teman-teman yang saya amanati awards di atas, silahkan mengambil minimal dua award dan penuhi peraturannya, ya. Inilah mereka yang saya nominasikan:

1. Bu Dinda KK (yang menginspirasi lewat kisah hidupnya)
2. Mba Deeedeee (yang kliatannya simpel tapi ngga simpel *opo maksute?*)
3. Mba Yoan (say no to suicide, mba, mendingan merenung sambil ‘itu’, hahaha)
4. Dek Putri (adik kelas yang kata orang serem tapi ternyata suka melucu *larii*)
5. Mas Rayya Hidayat (double ‘y’… i like it, bro!)
6. Dek Naufal (keep istiqamah, ya! sering-seringlah blogwalking, bro…)
7. Mas Nico Rosady (yang selalu merasa ganteng setiap saat-setiap waktu. jiaahh!)
8. Mba Nancy (yang bisa melakukan 3pekerjaan sekaligus: menulis, ketawa, nangis)
9. Mas Blue (ayo arisan lagi, blue!)
10. Mba Rindu (yang istiqamah di kebun hikmah)
11. Bu Wyd (bu guru kimia gaul di SMUN 17 Palembang yang ngeblog, hahaha)
12. Mas Basir (nice blog, bro!)
13. Diyoth (teman sejawat yang selalu punya kerjaan yang menarik)

Saya sendiri tidak punya kriteria khusus kenapa milih tigabelas orang di atas. Kalo mas Bocahbancar punya sepuluh nama, saya tigabelas! Benernya mau nambah lagi, tapi ngantuk… yah, kapan-kapan ajah kalo dapet award lagi, saya bagi-bagi sama yang laen. Buat yang saya amanahi award, silakan penuhi peraturannya, yah… terimakasih ;)





Indonesiaku: Figur, Wakil Rakyat, dan Partai

5 04 2009

images pemilu Kita berhimpun dalam barisan.
Lantangkan suara hati nurani.
Agar negeri ini berkeadilan.
Indonesia maju bukan hanya mimpi.

Sampai sekarang saya tidak pernah mempercayai bahwa seorang, dan hanya seorang, mampu mengubah Indonesia sepenuhnya.

Namun saya percaya sepenuhnya bahwa ketika seseorang itu mampu mengubah dirinya dan keluarganya, maka ia mampu mengubah masyarakatnya. Dan dalam tahapan selanjutnya, mengubah negaranya. Tentunya, dalam konteks ini, ke arah yang lebih baik.

Dan saya—agaknya ungkapan saya berlebihan—makin lama makin muak ketika ada salah satu atau salah dua atau beberapa partai terlampau mengagungkan figur di kelompoknya. Bagi saya, semuanya sungguh mustahil bagi seorang calon wakil rakyat menyandarkan kepopuleran diri—sebut saja begitu—untuk benar-benar optimal bekerja mewakili rakyat nantinya. Karena bekerja untuk rakyat perlu sebuah independensi. Bahkan harus. Bahkan kepada figur separtai pun. Independensi, ketidakberpihakan, harus dijunjung tinggi terhadap segala sesuatu yang tidak berpihak kepada rakyat.

Terlebih, seorang wakil rakyat bukan cuma berfungsi sebagai mulut rakyat. Melainkan juga tangan dan kaki rakyat. Otak rakyat. Hati dan jiwa rakyat. Setiap mereka memiliki tanggung jawab sebagai pemimpin, yakni memimpin rakyat dari daerah pilihan masing-masing. Mengapa? Karena mereka bertanggung jawab penuh seputar pemberdayaan rakyat yang mereka wakili. Mereka harus sanggup menjadi supir bis yang patuh aturanNya dalam berlalu-lintas, dan mengantarkan rakyat hingga sampai ke tujuan yang semestinya, yang diridhoiNya. Dan tentu saja, mereka seharusnya adalah pemimpin-pemimpin rakyat yang mampu menggerakkan hati-pikiran-tubuh segenap rakyatnya untuk bersama berjuang demi kemajuan bangsa ini.

Seorang wakil rakyat bukanlah mereka yang memberikan ikan. Bukan sekedar memperjuangkan BLT, ASKES-Maskin, dan sebagainya, melainkan harus sanggup memajukan dan memandirikan rakyat yang diwakilinya. Merekalah pemberi kail, yang sanggup melatih keluarga-per-keluarga rakyatnya untuk mandiri, berdiri di atas kaki sendiri, untuk memakmurkan dirinya dan keluarganya dengan cara-cara yang halal dan terhormat, untuk kemudian menuju pemberdayaan masyarakat yang seutuhnya. Dengan demikian, perubahan bangsa ini dimulai dari sektor terkecil yakni keluarga. Ya, keluarga kecil yang sederhana, berkecukupan, mandiri, menjalin silaturrahim, dan terdidik.

Baru kemudian kita bicara soal mengubah bangsa. Dan untungnya, bangsa yang besar ini tersusun dari himpunan-himpunan kecil keluarga dalam RT, RW, kelurahan, kecamatan, kota madya atau kabupaten, dalam suku-suku, dalam rimba ataupun kota. Maka, perubahan bangsa ini tentu saja harus dilakukan secara simultan dari tingkat mikro hingga makro. Dan usaha perubahan bangsa ini tidak bisa dilakukan oleh seorang figur sendirian. Seorang figur hanyalah simbolisasi, dan bagi saya sangat bodoh siapapun yang mengagungkan sesosok figur dalam kampanye dengan harapan mendulang simpati dari rakyat. Untuk menjadikan rumah kita makin bersih, sapu lidi lebih berfungsi jika diikat bersama-sama dan mudah dipatahkan bila bergerak sendiri-sendiri.

Karenanya, saya lebih mempercayai mereka-mereka yang telah berhasil membangun keluarganya, menjadi teladan di masyarakatnya, untuk kemudian secara berjamaah membangun negaranya. Ya, secara berjamaah, dimana musyawarah menjadi kekuatan inti pergerakan partainya (bahkan musyawarah adalah nilai yang ditanamkan pada saya semenjak eSDe!), ditunjang oleh keistiqamahan kadernya dalam keharibaan rindu surga Tuhannya untuk melayani rakyatnya.

Saya sepenuhnya yakin dan meyakinkan siapapun untuk tidak memilih partai yang mengagungkan figur belaka. Melainkan silakan memilih partai yang memiliki sistem jamaah yang baik (bukan sekedar hasan—baik, tapi ahsan—terbaik!). Karena mereka memiliki sistem pelayanan yang menyeluruh, holistik, kader mereka tersebar di berbagai bidang di masyarakat, sehingga pemberdayaan itu lebih mudah dicapai. Sekali lagi, ibarat sapu lidi, batang-batang yang liat dan lentur itu lebih bisa berdayaguna bila diikat dalam jamaah.

Sehingga saya menjadi yakin, golput bukanlah jalan terbaik pada masa-masa sekarang ini. Karena golput cenderung memubadzirkan kebaikan yang seharusnya bisa kita persembahkan kepada bangsa dan negara.

Semoga Allah meridhoi bangsa ini.

Wallahu alam bishawab.





Untuk Situ Gintung

2 04 2009

(Mohon maaf karena postingan ini telambat)

flower as gift

Kami, keluarga besar Hafid Algristian, turut berduka cita atas musibah yang terjadi di Situ Gintung pada 27 Maret 2009 lalu. Semoga seluruh keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, kesabaran, untuk senantiasa berserah kepada Allah swt, bahwa apapun di dunia ini hanyalah titipan dariNya yang suatu saat akan ditarik kembali, siapapun dia, kapanpun, dimanapun, bagaimanapun caranya.

Semoga semua korban musibah ini mendapatkan maghfirah Allah swt, diterima semua amalnya, dan ditempatkan di tempat terbaik di sisiNya. Tiap-tiap yang bernyawa pasti mencicipi mati, siapapun dia, kapanpun, dimanapun, bagaimanapun.

Semoga melalui peristiwa ini, kita semua mau dan mampu untuk senantiasa berbenah. Melalaikan amanah adalah suatu hal yang sangat buruk akibatnya baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Sungguh ironi ketika musibah ini terjadi justru saat semua calon birokrat sibuk mempromosikan dirinya dan golongannya, bahwa para pemimpin bangsa kita malah menampakkan kepentingan pribadi dan golongannya dalam menyikapi hal ini, bahwa musibah ini tak lain adalah sasaran promosi empuk untuk mereka, bahwa di sini kepentingan rakyat telah tersisihkan, terpinggirkan, terlupakan. Di lain pihak, ketika sesuatu tidak diserahkan kepada ahlinya, maka dapat dipastikan sebuah kehancuran akan mendatangi sesuatu itu, cepat atau lambat, tak peduli siapapun dia, kapanpun, dimanapun, bagaimanapun.

Semoga Allah swt senantiasa memberikan petunjuk, semoga hati-pikiran-jiwa kita peka dan terbuka terhadap petunjuk tersebut, dan semoga Allah swt meridhoi bangsa ini dan segenap rakyatnya, siapapun dia, sampai kapanpun, dimanapun, bagaimanapun.

Allahuma amiin.





Sirkumstansialiti

30 03 2009

HI037Sirkumstansialiti. Berputar-putar. Pembicaraan yang tak berujung. Alias mbulet. Beda jauh dengan sirkumsisi, yang artinya bersunat, yang malah memperjelas bentuk glans dan menyingkirkan bagian yang berpotensi menimbulkan najis supaya tak berpenyakit di kemudian hari.

Tapi pembicaraan kami betul-betul berputar-putar, sirkumstansialiti, sehingga saya rasakan perlahan menimbulkan najis. Bagaimana bisa?

Ya. Kami membicarakan *jika boleh memperhalus sebutan memperdebatkan* lebih dulu mana antara keyakinan atau pengetahuan. Apakah seseorang harus meyakini dulu untuk kemudian menjadi tahu, atau mengetahui dulu kemudian mejadi yakin. Sebut saja si D, menyebutkan idiom Karl Marx bahwa agama adalah opium, adalah berawal karena Marx meyakini demikian halnya. Lain halnya si G, mengatakan bahwa semua ilmu sosial berawal karena tahu dan mengetahui apa yang terjadi di sosial kemasyarakatan. Si D bersikeras, siapapun yang mendalami ilmu sosial harus diawali dari meyakini, sementara si G menegaskan bahwa ilmu sosial pasti berawal dari pengetahuan akan fenomena sosial.

Dialektika! Saya berteriak dalam hati. Jengkel.

Ah. Saya makin lama makin sebal dengan pembicaraan itu. Ingin saya menengahi, namun tak ada latar belakang pengetahuan sosial yang cukup. Kedua teman kos saya itu, meski baru semester dua di fakultas sosial, dasar teori mereka akan filsafat sosial sangat-sangat lah cukup.

Saya kemudian masuk, dan bertanya, “Lebih dulu mana ayam atau telur?”

Diam sesaat.

Baca entri selengkapnya »





Cantik yang Berkah

26 03 2009

kami sedang pose jelek :PIni cerita soal ibu. Ya, ibu saya, ibu kandung. Ibu yang dari rahimnya saya lahir. Yang darinya saya belajar soal bagaimana mencintai tanpa mengatai. Eh, maksudnya tanpa berkata-kata. Yup, ibu saya tidak pernah sekalipun bilang, Aku sayang kamu, Nak,  I luv u, Son… tidak, tidak. Tidak pernah. Sama sekali, lho! Ibu saya cukup memerintah, Ayo sini makan, daritadi kok lari-lari terus…! Atau, Heh, kamu tu kok jorok banget sih, mandi sana! Dan Kawan, coba bahasakan kata-kata tadi dalam bahasa Jawa. Ngga kebayang demikian kasarnya nada bicara ibu saya.

Namun yang mengagumkan, beliau mengatakan seperti itu dengan ekspresi sedih. Ya, sedih, bukan marah. Sedih, jika boleh saya mengatakannya demikian, karena kedua alisnya tidak bertemu di tengah. Tidak menghujam ke pangkal hidung layaknya orang yang terbakar amarah karena kelakuan anaknya yang begadul. Tapi kedua alis itu malah turun ke bawah, dengan pangkal tengah alis terangkat ke atas sehingga dahinya berkerut. Dengan sinar mata berkaca-kaca, dan jika boleh saya mengistilahkannya, seperti “omega sign” pada orang yang sedang menanggung beban demikian berat.

Ya, itulah ibu saya. Tidak pernah berkata-kata dalam mengungkapkan rasa sayangnya. Lalu, apa hubungannya dengan judul di atas? :)

Baca entri selengkapnya »





And I Dont Wanna Miss A Thing

3 03 2009

Lying close to you
Feeling your heart beating
And I’m wondering what you’re dreaming
Wondering if it’s me you’re seeing
Then I kiss your eyes and thank God we’re together
And I just wanna stay with you
In this moment forever, forever and ever

I don’t wanna close my eyes
I don’t wanna fall asleep
‘Cause I’d miss you, babe
And I don’t wanna miss a thing
‘Cause even when I dream of you
The sweetest dream will never do
I’d still miss you, babe
And I don’t wanna miss a thing

I don’t wanna miss one smile
I don’t wanna miss one kiss
Well, I just wanna be with you
Right here with you, just like this
I just wanna hold you close
Feel your heart so close to mine
And stay here in this moment
For all the rest of time

–”I Don’t Wanna Miss A Thing”, Aerosmith

… .
World, kau tahu saat kami pertama bertemu?
kami sendiri tak tahu.
semuanya terjadi begitu saja,
terjadi.

Jika kau tanya bagaimana rasanya,
kami sendiri tak tahu.
semuanya terjadi begitu saja,
terjadi.

Apa yang kami lihat di sana, tanyamu
tak tahu, kami tak tahu.
semuanya terjadi begitu saja,
terjadi.

Hanya tiba-tiba manis, indah,
dan hanya itu yang kami tahu.
itu terjadi beberapa hari setelah kami bertemu,
dan benar-benar terjadi.

Dan kami sepertinya tak kan
pergi dari sini.

Kami tak meminta tahun-tahun yang indah
waktu-waktu yang manis
karena semuanya pasti berlalu
terlewat begitu saja.

Kami hanya meminta dipertemukan
di sini dan nanti,
di surgaNya.





Buat Sassie

28 02 2009

postingan kali ini berawal dari blogwalking yang iseng-iseng, namun akhirnya saya menemukan sebuah berita yang mengejutkan. yakni tentang sassie, seorang blogger yang cukup dikenal di kalangan sesama blogger, member dari IBSN*, sedang berjuang untuk kesehatannya.

sungguh sebuah kejahatan terbesar ketika seorang teman acuh tak acuh kepada temannya.
dan kejahatan terbesar saya adalah mengacuhkanmu.
saya tak pernah melihatmu, tapi entah mengapa energimu sampai kemari.
membubung tinggi, menerobos ruang dan waktu, melampaui batas-batas semu, mengajak semua berpadu untukmu.
energimu betul-betul telah sampai kemari, sie!
itulah energi hidupmu!
dan sesungguhnya kau akan selalu hidup!
hidup, sie!
kau tahu arti hidup, kan?!
kau hidup, sie! hidup!
dan itulah engkau, sie, dengan seluruh energi hidupmu, telah sampai kemari, di setiap sudut hati kami.

berita tentang sassie pada awalnya saya baca di blognya mas langitjiwa. parahnya, saya malah menganggap mereka berdua adalah couple! duh… betapa bodohnya saya… kemudian, blogwalking kesana kemari, akhirnya saya temukan kebenaran beritanya di tulisannya mas nug, seorang yang dipanggil ‘daddy’ oleh sassie. hayyaahh… semoga doa saya belum expired! ya, tak ada kata terlambat untuk sebuah doa!

… .

*IBSN adalah sebuah wadah insan indonesia dalam jaringan internet
dengan berbagai jenis blog platform yang memiliki konsep
keindahan berbagi berbagai hal bermanfaat untuk kebaikan pada
sesama, dengan tujuan untuk membuat hidup ini makin bermakna.
visit Indonesians’ Beautiful Sharing Network





Ibu RT Kampungku

28 02 2009

srikaya Setelah bercerita tentang Pak RT kampungku, sekarang tentang ibu RT, isterinya. Tadi malam, bu RT mengunjungi kamar kos saya, dan secara mengejutkan memberi saya sekresek buah srikaya. Yay! Saya bayangkan betapa enaknya menikmati hidup dengan sekresek srikaya. *buah favorit saya lho!*

Tapi… kenapa semuanya masih mentah? “Kok masih mentah semua, Bu?”

“Ahaha… maap. Lagi musim, lho, Nak. Di jalan tadi banyak penjual srikaya,” jawabnya, “ngga taunya ada penjual yang masih kecil sendiri, ternyata masih esempe. Ya sudah, saya borong aja semua. Eh, karena udah sore, tersisa yang mentah semua. Gapapa ya? Inapkan aja dua-tiga hari, nanti makin mateng, kok.”

“Haha… makasih ya, Bu.”

Subhanallah. Lagi-lagi calon penghuni surga saya temui. Ini sebuah kebaikan yang sangat sederhana, lho. Allah menyukai kebaikan-kebaikan kecil yang dilakukan dengan istiqamah (tekun, terus-menerus) daripada sebuah kebaikan besar tapi hanya dilakukan sekali. Kapan saya bisa seperti mereka, memiliki kebaikan yang sederhana, namun diistiqamahi? :(

… .

IBSN adalah sebuah wadah insan indonesia dalam jaringan internet
dengan berbagai jenis blog platform yang memiliki konsep
keindahan berbagi berbagai hal bermanfaat untuk kebaikan pada
sesama, dengan tujuan untuk membuat hidup ini makin bermakna.
visit Indonesians’ Beautiful Sharing Network